Satu lagi kisah dari keterlibatan saya dalam kegiatan. Beberapa waktu lalu saya diundang masuk kelompok Gundu - krucil-krucil yang masih begitu heboh, dua minggu lalu saya diundang memberi masukan di kelompok Egrang dan minggu lalu saya mampir di kelompok Layangan untuk memantau kemajuan Proyek Inovasi, salah satu komponen Asesmen Akhir Sekolah di SMP Semi Palar.
Sesi WIP di kelompok Layangan (Work in Progress) dibagi dua kelompok, masing-masing 10 siswa. Semua membawa serta proyek-proyek yang dikerjakannya. Pilihan proyeknya sendiri sangat terkait apa yang diminati oleh masing-masing murid. Jadi proyek inovasi adalah juga salah satu cara kita bisa mengenali apa yang jadi minat / olahan setiap individu. Project Based Learning memang salah satu metode yang sangat bisa digunakan untuk mengenali berbagai aspek pembelajaran dari satu individu - mulai dari kemampuan literasi (pengamatan), imajinasi dan proses kreatif saat teman-teman ini mengolah gagasan dan menemukan solusi, lalu juga olah pikir terkait bagaimana mengonstruksi gagasan menjadi karya nyata. Di dalam prosesnya, karakter individu akan sangat terbaca - juga bagaimana keterampilan diri mulai dari mengelola waktu hingga menemukan teknik-teknik mengolah bahan / material yang dijadikan kreasi inovasi alat mereka. Ini sebuah proses yang kompleks dan juga multi dimensi - dan dari proses inilah para kakak bisa memahami proses belajar yang mereka jalani.
Salah satu yang saya liat luar biasa adalah apa yang sedang dijadikan proyek inovasi oleh Milo. Bagi saya ini bukan sekedar menemukan sesuatu yang baru - tapi menjelajah, mengeksplorasi sesuatu yang memang belum ditemukan jawabannya. Dalam banyak kesempatan, inovasi lebih dimaknai menambahkan sesuatu yang baru dari hal-hal yang sudah ada. Tapi menemukan sebuah jawaban dari permasalahan yang ada menurut saya ada di tataran yang berbeda. Milo sedang berusaha mengolah limbah plastik mika - yang memang belum ditemukan bisa diolah lanjut menjadi sesuatu yang punya nilai manfaat. Milo ingin mencoba menemukan cara bagaimana limbah plastik jenis mika ini bisa dimanfaatkan jadi bahan baku atau campuran bahan langit-langit (plafon). Ini keren juga pemikirannya. Karena langit-langit pada umumnya adalah bagian bangunan yang tidak banyak disentuh atau bersentuhan dengan penggunanya. Sifatnya dia adalah bahan penutup. Kalau hal ini bisa direalisasikan - saya kira ini sesuatu yang luar biasa.
Di luar ini, saya menyampaikan kepada Milo bahwa biasanya hal-hal semacam ini dilakukan di laboratorium atau bengkel yang punya peralatan lengkap supaya eksplorasinya bisa cukup luas. Dengan peralatan seadanya di rumah, tentunya akan banyak kendala yang dihadapi. Walaupun begitu, toh proyek ini lebih menyoroti proses berpikir dan pengolahannya - bukan pada hasil akhirnya. Riset serupa bisa jadi dilakukan dalam jangka waktu bertahun-tahun - lengkap dengan berbagai ujicoba. Tapi saya sendiri bisa melihat arah dari apa yang Milo coba lakukan. Mari kita lihat sejauh mana eksplorasi mengenai ini bisa Milo capai. Semangat, Milo!