AES 02 Kembali ke Akar
windu17
Tuesday November 4 2025, 9:24 AM

Tanggal 1 November 2025, Semipalar mengadakan kegiatan POT bertema Kembali ke Akar. Acara yang sangat luar biasa melihat antusias para orang tua berkumpul dengan kepedulian terhadap pendidikan anak-anaknya.

Pemaknaan akan "Akar" dari setiap orang akan berbeda-beda. Tapi yang paling berkesan bagi saya adalah ketika ada orang tua yang sharing mengenai riset bahwa "Akar" akan tumbuh kuat ditempat yang tidak subur. Ketika unsur-unsur tanah dan ekosistem yang ada sangat menantang bagi suatu benih, maka benih itu akan memprioritaskan pertumbuhan akar untuk semakin ke dalam sebelum akhirnya memunculkan bagian-bagian lain dari tanaman. Tiba-tiba saya teringat cerita seorang kolega tentang suatu penelitian yang menunjukkan bahwa tanaman di hutan saling berkomunikasi melalui akar. Ketika salah satu tanaman mengalami stress, dia akan berkomuniukasi dengan tanaman lain melalui jamur mikoriza dan pelepasan sinyal kimia, dan tanaman lain akan mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang sama. Tanaman yang beraneka ragam di dalam hutan akan tumbuh lebih subur ketimbang tanaman yang ditanam secara monokultur.

Manusia pun harus memiliki "Akar". "Akar" kita lahir dari kedalaman diri. Menyadari bahwa emosi, perasaan dan pikiran kita terbentuk dari memori DNA (leluhur), interaksi dengan ekosistem (geografi, sosial budaya) dan paparan informasi dan teknologi. "Akar" akan menjadi alat kita untuk menyerap nutrisi bagi pertumbuhan diri.

Tapi "Akar" juga bisa menjadi alat komunikasi bagi manusia. Kita berkomunikasi dengan tujuan untuk menyampaikan keinginan dan perasaan kita pada pihak lain. Untuk itu kita harus mengenali dengan baik apa yang menjadi keinginan dan perasaan kita. Orang-orang yang terlatih untuk menyelami diri, akan memiliki kepekaan akan kedalaman perasaan sehingga mereka mampu untuk mengenali perasaan dan pikiran orang lain. Kemampuan memahami diri akan melahirkan kemampuan memahami orang lain.

70% dari komunikasi adalah mendengar. Baru sisanya adalah berbicara. Kita mendengar tidak hanya melalui telinga, kita juga bisa menggunakan mata dan saraf kita untuk mendengar, karena manusia tidak hanya menggunakan mulutnya untuk berbicara, manusia juga menggunakan tubuhnya untuk mengekspresikan diri. Dan seringkali, apa yang disampaikan bahasa tubuh jauh lebih jujur daripada yang didengar telinga.

"Akar" pada manusia lahir dari tempaan hidup. Ketika seluruh dunia menolak keberadaan kita, dan kita merasa buntu, terkadang satu-satunya jalan adalah melihat ke-Dalam dan menemukan kebijaksanaan yang lahir dari penderitaan.

Sebagaimana akar tanaman yang menyerap nutrisi dari jasad-jasad makhluk yang sudah terurai. Ketika kita mampu menemukan keheningan dari kebisingan dunia, kita akan menyerap nutrisi dari kebisingan-kebisingan yang telah terurai.

Andy Sutioso
@kak-andy   6 months ago
Nuhun Windu tulisannya sudah dipindahkan. Isinya juga memperkuat apa yang disampaikan mas Faisal. Ditunggu tulisan yang berikutnya πŸ™πŸΌπŸ€—
You May Also Like