Sudah berlalu satu pekan rangkaian kegiatan selametan di rumah belajar. Pagi itu, aku dan anakku menyusuri salah satu jalan yang biasa kami lewati menuju rumah belajar. Ketika, berbelok ke arah bungur, ingatanku seperti berlompatan ke hari-hari lalu. Betapa banyaknya kisah dan kenang yang telah teralami, pun tak terhitung banyaknya tawa yang terekam di hati kami.
Kala itu, aku yang baru saja menapaki tahun kesepuluh di rumah belajar, merasa terharu dengan apa yang menjadikan kami sebagai pribadi-pribadi 'baru' setiap hari hingga di hari ini. Sungguh, tidak ada daya dan upaya melainkan karena rahmatNya yang begitu besar, yang dengannya telah menjadikan rumah ini sebagai tempat kami belajar dan mendapatkan banyak ibroh.
Selametan, salah satu rupa giat yang membuatku terkesan untuk pertama kali (di tahun 2014) ketika baru bergabung di keluarga besar smipa. Dan sejak itu, yang aku tahu, selametan selalu meninggalkan pesan mendalam. Bukan hanya sekedar saling mengenal antar keluarga, tetapi bagiku, sebagai salah satu cara mengkalibrasi tujuan bersama setelah taki-taki.
Kurasa, hal ini yang menjadi penting, seperti tema besar TP kali ini, yakni menjaga spirit. Makna serupa, di dalam islam dikenal sebagai ghirah (غيرة), yang secara terminologis mirip ejaannya dengan kata gairah. Maka pertanyaannya, 'Bagaimana cara menggerakkan ghirah, agar tercapai apa yang menjadi tujuan sebagai bentuk tumpuan harapan?' Setidaknya begitulah aku memaknai tema besar kita.
Dan bagiku, rangkaian selametan kemarin, yang dilaksanakan di rumah belajar sendiri, yang menjadi tempat anak-anak bermain-belajar setiap hari, yang menjadi rumah kedua anak-anak dalam bertumbuh, terasa sangat hangat. Membuktikan, meski hanya dengan kegiatan yang sederhana, terasa betul bahwa merawat dan membersihkan bagian 'dalam' juga penting untuk menunjang terlaksananya mimpi-mimpi besar. Keakraban yang mengalir apa adanya juga terasa di hari-hari setelahnya, walau hanya sebatas tegur dan sapa.
Ada seseorang, yang kudengar sayup-sayup suaranya mengomentari kegiatan ini dengan penuh rasa kagum. Terlepas, beliau orangtua baru atau bukan, tak lagi menjadi penting. Mereka sama sepertiku, yang menitipkan anak-anaknya pada tangan-tangan yang penuh cinta dan sayang, yang dengan ketulusannya ikut mengambil peran pengasuhan padahal tak ada sedikitpun darahnya mengalir dalam tubuh anak-anak kami. Kebersamaan inilah yang kelak akan kami kenang selalu, serta menjadi tabungan memori yang menguatkan seperti pemantik.
Ntah tahun-tahun ke depan kami akan berada dimana? Ntah tahun-tahun mana lagi kami akan berkumpul kembali seperti hari itu. Namun, takdir manapun yang akan membawa kami, tentu kisah singkat di rumah belajar akan terus menetap. Menggenapi keping demi keping perjalanan kami dalam menyusun tujuan sebagai individu yang senantiasa terus belajar menjadi manusia bermanfaat.
Doa kami, semoga rumah belajar dapat terus terjaga spiritnya, termasuk menjaga ghirah anak-anak sesuai fitrahnya, sesuai keunikan dirinya. Sehingga rumah belajar tetap akan menjadi rumah, tempat mereka kembali singgah setelah perjalanan panjang untuk mengingat dan mengenang setiap langkah yang terbangun, lalu kemudian siap melanjutkan perjalanan berikutnya.