AES95 [ M o m e n t u m ]
wulan bubuy
Saturday March 15 2025, 12:09 PM
AES95 [ M o m e n t u m ]

Seringkali, aku menemukan situasi yang dirasa 'pas', seperti obrolan pagi dengan anakku dalam dua hari terakhir ini, yaitu tentang rasa cukup dan puas. Hal ini membawa serta ingatan yang terisi selama hampir 11 tahun kami menjadi bagian keluarga besar rumah belajar (gak kerasa ya? Hihi). Pemaknaan rasa tentang di titik mana kita harus berhenti, tentang bagaimana menggulirkan semangat agar terus terbaharui, tentang daya juang, tentang keinginan untuk terlibat dibarengi kesadaran akan literasi diri. Semua hal itu, aku kunyah perlahan, aku hadirkan dengan hati yang penuh. Aku bergerak. Aku menjejak. Aku berjarak. Hingga akhirnya aku mengerti bahwa jarak bukanlah sesuatu yang salah. Sebab, dengan sejenak menarik diri, kita bisa mendapatkan ruang amatan yang utuh. Tanpa pretensi. Tanpa tendensi. Membiarkan diri mengamati tanpa prasangka. Membuka hati untuk menerima apapun yang datang dan pergi, melepaskan keterikatan terhadap hal-hal yang sesungguhnya telah mencapai batasnya.

Sekedip saja lampu berwarna merah berubah menjadi hijau, begitupun alur pembicaraan yang makin meluas. Aku tak lagi sebagai pihak yang diminta jawaban, dia mulai mencerna makna 'cukup' dari sisi linear khas dirinya, penuh dengan analogi. Obrolan ini masih terus mengalir, menjaring lebih banyak ingatan-ingatanku. Aku hampir menangis, sudah sejauh ini ternyata kami berjalan. Belajar. Berirama.

Titik-titik kosong mulai terisi, makna-makna mulai tersusun. Rapih. Sesuai. Aku menyadari, ini memang sudah jalannya, semua telah diatur dengan sangat presisi. Dan aku hanya tinggal menjalaninya, tanpa perlu surut ketika takut. Yakin, aku hanya butuh menyeimbangkan hati, seperti halnya pepatah sunda yang pernah kudengar, 'tata titi duduga prayoga'. Nyambung? Mungkin.

Jika dipikir, ntah bagaimana aku bisa ada disini. Keberadaan tentu bukan sebuah hal yang tiba-tiba saja. Pasti Dia-lah yang Maha Mengatur segalanya, begitu sempurna menempatkan di titik mana saja aku berpijak, tak terkecuali pada kecewanya, pada sakitnya, pada senangnya dan pada bahagianya. Bahkan di setiap lengkung bibir yang tertarik ke atas atau bulir air mata yang jatuh diam-diam, semua telah dituliskan lengkap dengan detil kisahnya masing-masing.

Oh, oh.. lalu bagaimana kita harus tidak merasa cukup untuk menjalaninya dengan baik-baik saja? Begitu tanyaku dalam hati. Setangkup haru kuhadirkan kala tanya itu kurejam dalam-dalam, ini bukan secuil obrolan basa-basi. Kupaksakan diri untuk terus fokus mengikuti alur yang ditutur oleh anakku. Kenapa puas dan cukup menjadi dua kata kunci? Sudah sejauh apakah kita berpuas diri? Pada upaya apa? Dan apakah puas artinya berhenti ketika cukup? Atau cukupkah kita ketika telah merasa puas?

Seluruh tanya akhirnya bermuara pada satu hal, bahwa kita -manusia- memang tidak pernah benar-benar tahu apapun selain apa yang terlihat, terdengar dan terasa. Segala upaya dikerahkan untuk mencaritahu, semua ruang terus dibuka untuk menggali banyak makna. Hingga kemudian, ujung yang kita tuju hanyalah berupa tenang.

Inilah benang merahnya, cukup adalah ketika hati merasakan tenang dan puas, bagiku yang menjadi indikatornya. Seperti halnya, kucukupkan sudah untuk derasnya memori yang hadir, kubiarkan dan aku menikmati ocehan pagi anakku yang tiba-tiba ini, tak lagi kupikirkan memberat ke titik yang mana. Aku hanya sedang ingin mendengar dan aku merasa puas dengan nikmatnya perjalanan pagi kali ini. Subhanallah

Image dari sini 

You May Also Like