Tadi sore aku terlelap saat menemani yang sedang mengerjakan tantangan. Rasanya ada yang salah sampai bisa terlelap begitu saja, mungkin badan ini terlalu lelah atau pikiranlah yang terlalu riuh? Dengan gontai aku mengambil posisi duduk dan memperhatikan R diantara kertas yang bertebaran disekitarnya. Secepat itu pula ingatanku melayang ke masa-masa kuliah dulu yang juga sering melakukan hal serupa. Kubiarkan pikiran itu menelusuri lorong-lorong ingatan, berpindah dari masa ke masa dan menertawai sejenak apa yang pernah menjadikan hari-hari dahulu terasa begitu ringan.
Nyeri di kepalaku masih terus berdenyut, aku mulai menyandarkan punggungku mencari posisi nyaman. Satu persatu hela nafas kurasa memberat, pasti semua karena aku begitu memaksakan diri beberapa minggu ke belakang hingga pola tidurku banyak berubah. Teringat obrolan dengan R yang pernah bertanya kenapa ia masih harus tidur minimal 9 jam? Dan ia merasakan sendiri efeknya saat jam tidurnya berkurang, menjadi lebih mudah ngomel atau gak fokus, begitu katanya. Aku tersenyum sendiri, merasakan hal yang lagi-lagi serupa karena menjadi lebih pelupa.
Malam ini kuputuskan untuk meninggalkan sejenak pekerjaan dapur, memilih duduk di teras ditemani semilir angin. Gesekan daun cemara memberi banyak ketenangan, Alhamdulillah. Mungkin aku sudah terlalu lama tidak membiarkan diriku berada dalam keheningan untuk hanya mendengar dan membiarkan semua datang begitu saja. Semakin lama semakin terasa diriku yang sedang rindu pada kesendirian. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari hal itu hingga perlahan terasa keindahannya, ruang yang tidak satu orang pun bisa temukan kecuali diriku sendiri. Ya, setidaknya dengan ber-Qillatul Anam, kuharap akan ada banyak kesadaran yang muncul, menghilangkan keragu-raguan yang masih sering terlintas dan sedikit meredakan riuh dalam pikiranku sendiri.