Saya sedang asyik membaca. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, saya tahu bahwa hari ini belum menulis sama sekali tapi hingga saat ini belum ada ide satupun. Akhir-akhir ini memang sering begitu. Lalu ada pesan masuk melalui Hp saya. Dari Nina. Sebuah unggahan di Youtube tentang mengapa orang Jepang kurus-kurus walau mereka makan nasi setiap hari. Menarik sekali sehigga saya simak baik-baik karena ini mungkin akan menjadi semacam informasi yang baik untuk kesehatan saya.
Ada satu hal yang katanya orang Jepang lakukan, yaitu membatasi makanan hanya 3 kali sehari dengan proporsi yang sehat dan jika snacking katanya intentionally bukan mindless! Nah ini menarik perhatian saya karena kelemahan yang sulit saya tanggulangi setiap hari adalah yang berhubungan dengan cemilan.
"Jo, nih ada pisang rebus, bawa aja." Kata adik saya siang tadi ketika saya pulang sesudah menunggui ayah saya di rumahnya.
"Engga ah. Makasih. Sekarang lagi berusaha membatasi cemilan. Kalau di rumah banyak cemilan jadi terus menerus tergoda untuk nyemil." Kata saya.
Memang begitu, kalau ke rumah saya, saat ini kulkas akan telihat kosong. Dulu selalu ada makanan seperti tape atau pisang rebus. Saya suka sekali dengan 2 kudapan ini. Tape sangat saya sukai sebab sudah lebih dari 8 tahun saya jarang menyentuh benda ini karena di Colorado sangat jarang tersedia. Pisang rebus memang sejak jaman kecil saya gemari terutama yang agak keras. Katanya pisang yang belum benar-benar masak glycemic index nya lebih rendah jadi tidak terlalu berbahaya bagi pengidap diabetes. Tapi akhir-akhir ini saya baca bahwa pisang tidak hanya mengandung gula yang tinggi, tapi juga kadar karbohidratnya yang tentunya akan diubah menjadi gula, juga sangat tinggi. Jadi saya hindari walau terus terang saya sangat kangen makan pisang rebus.
Kembali ke artikel tentang orang Jepang, apa yang dimaksud dengan intentional snacking? Ini adalah mindful snacking, artinya memang menikmati snack yang sudah direncanakan, diperhatikan baik-baik . Artinya memang menikmati makanan dengan penuh perhatian dan intensi dalam menanggulangi rasa lapar dengan memilih jenis kudapan yang memang benar-benar dibutuhkan oleh tubuh, bukan karena memang doyan seperti yang selama ini saya lakukan.
Sekarang bayangkan saja. Saya sering sekali membeli pisang tanduk atau pisang kepok. Tidak tanggung-tanggung, biasanya banyak! Satu hari saya bisa makan pisang rebus hingga tidak terhitung sampai persediaan pisang rebus saya habis. Saya selalu berdalih bahwa pisang ini mengandung nutrisi yang baik, tidak berlemak karena tidak digoreng dan termasuknya sehat karena setidak-tidaknya ini adalah buah-buahan. Tapi saya lupa akan volume dan frekuensi! Hahahaha
Satu pertanyaan penting. Kenapa snacking? Apakah saya benar-benar lapar atau hanya bosan? Nah ini yang selama ini saya tidak perhatikan. "Loh katanya berusaha menjalani hidup dengan mindful?" Hahaha.. dalam hal snacking saja saya sudah tidak lulus. Bayangkan ini baru satu hal, tentang alasan mengapa saya nyemil. Berapa banyak lagi kegiatan harian saya yang tidak mindful? Saya langsung merasa sangat bersalah.
Saya memang senang tinggal di rumah. Mungkin sudah ratusan kali saya katakan itu, sama seperti ketidaksukaan saya keluar rumah karena benci dengan lalulintas. Tahu tidak bahayanya tinggal di rumah saja? Sering terjebak dengan kebosanan tanpa benar-benar disadari. Saya memang senang duduk membaca, tapi pada saat yang sama saya merasa akan lebih asyik jika membaca sambil ditemani secangkir kopi dan makanan kecil! Ini bahayanya!
"Tahu tidak berapa banyak kita hemat semenjak punya mesin espresso ini?" Tanya saya
Ada benarnya! Tapi juga banyak salahnya. Benarnya adalah jika saya menghitung berapa cangkir kopi yang sudah saya buat selama berbulan-bulan dan dibandingkan dengan biaya yang saya harus keluarkan jika menikmatinya di cafe. Jauh sekali bedanya dan jelas sekali membuat sendiri jauh lebih hemat karena dengan modal 1 karton susu seharga 20 ribuan saya bisa membuat setidak-tidaknya 5 cangkir kopi. 1 kilo kopi yang baik bisa saya gunakan selama sebulan, itu tidak lebih dari 150 ribu. Nah silakan berhitung.
Salahnya dimana? Salahnya adalah frekuensi saya menikmati kopi jadi semakin kerap. Karena ada akses yang hampir tidak terbatas (kecuali jika kehabisan susu dan kopi) maka saya bisa terus-terusan membuat kopi. Nah ini sama sekali tidak mindful, bukan?
Nah, mindful snacking ini yang harus saya perhatikan betul-betul. selama ini snacking atau nyemil (atau ngemil?) lebih karena masalah keasyikan. Coba saja perhatikan kalau kita ngobrol di warung sambil makan bala-bala, apakah karena memang kita "harus" makan? Apakah karena tubuh kita membutuhkan bala-bala? Sepertinya mayoritas dari kita akan mengatakan karena asyik saja makan sambil ngobrol, bukan karena tubuh kita butuh bala-bala. Bukan begitu?
Sama halnya dengan saya tinggal di rumah sambil menikmati saat-saat membaca novel baru yang beberapa hari lalu saya beli sambil nyeruput kopi dan makan keripik kentang merek Japota atau kegemaran saya yang baru yaitu doritos rasa sambal salsa. Asyik sekali bukan? Apalagi selama ini Doritos di Indonesia harganya sangat mahal bisa ratusan ribu rupiah karena harus diimpor dari luar negeri. Sekarang perusahaan Lays sudah memproduksi secara lokal dan mengeluarkan Doritos hanya seharga 10 ribuan. Saya sangat bahagia menemukan jajanan ini dan entah sudah sudah berapa bungkus saya habiskan tanpa sadar bahwa saya sudah menciptakan kebiasaan yang buruk dan sama sekali tidak mindful!
Nah, kesimpulannya saya harus mulai berbenah jika kepingin sehat. Saya ingin meniru orang Jepang yang hidupnya lebih mindful, terutama dalam hal makanan (untuk saat ini) karena saya sudah menyadari kesalahan yang tanpa sadar sudah saya pupuk. Sebelum makan apapun, saya akan selalu mulai dengan sebuah pertanyaan, are you hungry or just bored? Does your body really need it? Nah, itu obrolan saya hari ini. Hahahaha..
Foto credit: mccormickfona.com