AES158 Gambas
Andy Sutioso
Tuesday October 19 2021, 8:15 PM
AES158 Gambas

Ada tiga hal yang mendorong saya menulis tentang ini. Pertama, gegara kegiatan piknik kakak di Lembang - yang membahas tentang Atomic Essay dan kaitannya dengan berbagai konsep lainnya di Semi Palar. Salah satu kelompok berpandangan bahwa esai itu kan ada definisinya, jadi harus punya topik dan bobot tertentu. Kedua tulisan kak Ine kemarin yang berjudul Esai, untuk merespon diskusi kami kemarin. Terakhir, pagi tadi saya baru saja mengganti gambas yang biasa kami gunakan mencuci piring-gelas di rumah karena memang sudah perlu diganti. Muncullah ide untuk esai saya malam ini. 

Saya ingin 'membuktikan' bahwa AES memang ruang untuk menulis tentang apa saja. Yang terpenting bukan topiknya, karena toh saya juga pernah menulis esai yang judulnya 'Kosong' Menariknya tulisan saya itu masih sempat dapat empat jempol. Luar biasa bukan? Atomic Essay adalah tentang membangun tuman - melalui menulis. Dan kalau kebiasaan itu terbentuk, saya yakin sepenuhnya, menulis akan berpengaruh besar sekali pada perkembangan diri kita, pada kemampuan reflektif kita, pada cara kita berpikir dan banyak hal lainnya. Kenapa saya perlu membuktikan ini, supaya kita semua tidak terjebak pada 'ga tau harus menulis apa'. Kata-kata yang akan terus jadi alasan atau pembenaran bagi kita untuk tidak menulis... 

Oke... kembali ke Gambas... Mungkin sudah lebih dari 2 tahun saya di rumah beralih ke Gambas (atau Loofah - dalam Bahasa Inggrisnya). Benda ini memang ajaib. Jauh lebih keren daripada spons-spons pencuci yang dijual di supermarket. Sejak mencoba, mencuci piring dan gelas rasanya jauh lebih bersih. Dia tidak pernah berubah warna menjadi hitam, dan tidak pernah terasa berminyak - walaupun setelah membersihkan wajan atau piring bekas gorengan. Gambas juga mudah sekali dibersihkan. Termasuk untuk membersihkan plastik kemasan sekalipun. Ya, saya di rumah punya kebiasaan membersihkan / mencuci plastik kemasan - sebagai upaya untuk menyadarkan diri tentang jumlah sampah plastik yang masih kami hasilkan di rumah. Tujuannya mengolah sampah. Kalaupun harus membuangnya, setidaknya kami membuangnya dalam keadaan bersih. 

Jadi, ya saya juga mencuci plastik kemasan juga menggunakan gambas. Kelebihan lainnya, gambas ini ternyata sangat kuat. Dia tidak mudah hancur. Kadangkala saya baru menggantinya setelah satu atau satu setengah bulan - saat gambas sudah jadi terlalu lembut sehingga tidak efektif lagi membersihkan. Terakhir tentunya, harganya murah dan ramah lingkungan. Karena berbahan organik, dia tidak akan jadi masalah setelah dibuang. 

Gambas ini di Indonesia biasa disebut Oyong, dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Okra atau Chinese Okra. Tidak heran dia memang sehat karena seratnya kuat, jadi sebagai sayur bahan masakan, oyong ini termasuk berkandungan serat tinggi.

Jadi ya, buat teman-teman yang belum pernah mencobanya, demikian testimoni saya tentang Gambas, salah satu hal yang kita bisa lakukan untuk lingkungan kita, MDK... Mulai dari Yang Kecil. Toh benda ini juga banyak sekali kelebihannya.

Terakhir, mari menulis... saya sudah mencontohkannya. Supaya yang mau bercerita tentang hal-hal yang remeh seperti sendal japit sekalipun, tidak ragu lagi... Salam.   

curiolava
@mamakuri   5 years ago
kuri pun membaca essai ini
joefelus
@joefelus   5 years ago
hahaha...
joefelus
@joefelus   5 years ago
Terbukti ya kak! Menulis itu bisa tentang apa saja, bahkan tentang tidak punya ide untuk menulis hahaha