Karya berupa novel ini bercerita tentang mulainya sekolah dengan sudut pandang orang pertama, yaitu Andrea Hirata selaku penulis. Buku ini bercerita tentang hal-hal nyata yang terjadi dalam masa sekolahnya penulis tersebut bersama siswa-siswi sekolah Muhammadiyah dengan julukan grup teman kelas sebagai “Laskar Pelangi”.
Buku ini menceritakan tentang suatu kelas di Sekolah Muhammadiyah yang berada di Belitong. Awal isi buku bercerita tentang mulainya SD pada sekolah ini yang nyaris saja mendapatkan siswa terakhir setelah jam 11.05, dan siswa itu adalah Harun.
Sekolah Muhammadiyah dapat mengajar 1 generasi lagi! Generasi itu bukan generasi yang sama dengan yang lain, karena ada 3 siswa yang Ibunda Mus akan mengajar yang berbeda dengan siswa-siswi sebelumnya. Tempat belajar ini adalah bangunan yang sangat kumuh karena uang tak cukup untuk diurus yang bisa disebut sebagai kandang hewan. 10 siswa ini akan melanjutkan tahun belajar SD dan SMP mereka disini.
Dari 10 siswa disini, Lintang, dan Mahar memiliki masa depan yang sangatlah cerah di depan mereka dari semua yang mereka mampu lakukan dalam rentang waktu mereka melalui sekolah ini. Lintang adalah genius dengan semangat untuk melajukan dirinya untuk belajar hingga ia dapat memenangkan juara satu pada cerdas cermat antar Sekolah P.N Timah yang berkali-kali telah memenangkan juara itu selama beberapa tahun. Mahar merupakan anak dengan karya seni yang tak ada taranya dengan kemampuan yang ia bisa lakukan karena ia dapat menyanyi dengan merdu, bermain alat musik, memenangkan juara berkarya untuk festival bahkan ketika keterbatasan ekonomi untuk ia tak bisa mengeluarkan terlalu banyak biaya, dan bahkan berkolaborasi dengan Lintang untuk berkreasi bersama untuk membuat karya dengan kecerdasan mereka dalam bidang-bidang mereka sendiri. Flo, atau juga seorang siswa dari Sekolah PN Timah yang nakal dan keras kepala itu keluar dari sekolah itu dan memasuki sekolah Muhammadiyah ini pada saat Mahar dimarahi dari kelakuannya. Flo adalah anak yang menjadi rajin untuk membersihkan sekolah setiap pagi, dan benar-benar cinta dengan sekolah ini walau dia dan Mahar mempunyai nilai yang ditulis dengan tinta merah. Mereka berdua adalah pertemanan yang hanya mengarah pada bahaya.
12 tahun sudah lewat dan Sekolah Muhammadiyah sudah lama tutup, dan para anggota Laskar pelangi semua sudah dewasa-dewasa. Beberapa diantaranya dapat kehidupan yang sukses dan stabil setelah pindah ke kota untuk mencari pekerjaan, dan beberapa tak dapat menjadi mereka karena alasan bahwa mereka tak mau meninggalkan orang tuanya.
Buku Laskar Pelangi ini adalah karya kisah nyata yang dapat menceritakan pengalaman penulisnya dengan cara menulis isinya yang indah pada setiap bab. Cara penulisan buku ini memperjelas bahwa tidak ingin menutupi alur dengan karena berhasil membuat momen sedih terasa sedih, patah hati, dan membuat momen bahagia terasa manis. Isi perkataan buku sudah sengat teliti dan tak ada kata yang salah bahkan dengan frasa bahasa Inggris.
Saya merasa buku ini dapat menggambarkan tokoh-tokoh yang tertulis dengan baik dan tentunya bisa sampai bisa dipakai sebagai bahan inspirasi. Inilah hal yang menjadi kelebihan buku ini. Namun buku ini juga memiliki kelemahan, yakni saya merasa bahwa dari 11 total anak, hanya 4-5 dapat diceritakan dengan baik dengan sisa 6-7 dapat diceritakan lebih baik karena ada beberapa saat di mana mereka ditulis di beberapa bagian pada buku saja dan kita sendiri tak merasa pengaruh dari cerita dengan sampai pekerjaan akhir yang mereka lakukan dengan lewatan tahun 12 tahun itu.
Saya merasa bahwa buku ini dapat menginspirasi pembaca untuk menjadi lebih dalam segi kemampuannya dan bisa mendorong untuk menjadi lebih baik. Namun, cerita-cerita atau bagian hidup angkatan kelas itu tak disebutkan terlalu sering walaupun mereka bisa juga menginspirasi kawanan lain sama berpengaruhnya dengan Lintang, Mahar, dan Flo.