Ada rasa suka cita saat membuat kembali Lingkaran Adven. Terasa kembali gairah suasana Natal yang tahun lalu sempat redup. Suka cita dalam masa penantian, simbol adanya harapan yang dinyalakan.
Aku teringat 7 tahun lalu saat pertama kali membuatnya pada acara lomba merangkai Lingkaran Adven di Gereja St.Laurentius. Kala itu aku merangkainya dari aneka macam sukulen yang lalu jadi pemenang keduanya. Saat itu, Milo yang hadir turut senang dengan piala yang kuperoleh dan sampai kini pun ia masih ingat momen itu.
Kehadiran Milo yang berseragam sekolah membuat seorang ibu paruh baya bertanya padaku, apakah Milo sekolah di Smipa, dan ternyata beliau adalah mama dari Kak Andy yang belakangan kuketahui adalah perangkai bunga senior di Gereja St.Laurentius.
Lingkaran Adven kali ini kurangkai dari aneka daun cemara yang kukumpulkan dari sekitar komplek rumah. Ada daun Cemara Pua-pua, Cemara Angin, dan sejenis semak yang berdaun seperti cemara yang belum kutemukan namanya.
Daun-daun cemara itu kutata melingkar di oasis berbentuk lingkaran sehingga cukup mudah tinggal memotong dan menancap-nancapkannya saja.
Saat membutuhkan elemen lain sebagai pelengkap dari lingkaran daun cemara berwarna hijau, aku teringat pada koleksi dedaunan kering yang kukumpulkan sejak lama dari berbagai tempat kunjungan treking ke alam.
Setiap kali berkelana, berjalan-jalan di alam terbuka dan menemukan ranting daun kering yang unik, aku sering menjadikannya oleh-oleh. Kadang juga semacam bunga yang telah mengering oleh sinar matahari di alam terbuka.
Selain daun yang kutemukan aku juga rutin mengeringkan daun ruskus setiap kali merangkai bunga. Daun ruskus termasuk daun yang sangat awet, bahkan untuk mengeringkannya pun butuh waktu yang lama untuk berubah warna dari hijau ke krem.
Koleksi dedaunan itu tersimpan di aneka ember-ember di atas lemari kamar. Sempat suatu waktu kubuang sebagian saking banyaknya dan sekarang kusimpan dalam jumlah yang sedikit asalkan cukup beraneka dan bisa digunakan sewaktu-waktu seperti sekarang ini.
Ketika rangkaian itu kian beraneka oleh kehadiran banyak jenis daun berbagai bentuk dalam warna alaminya, baik segar maupun kering, aku pun terpikir akan hal ini : bahwa pengalaman kita apapun itu, serupa dengan aneka daun yang kukumpulkan itu. Ketika aku menemukannya, aku terpikat oleh keunikannya, dan kubawa pulang karena berharga sebagai sesuatu yang tak akan dengan mudah kujumpai lagi, bahkan tak bisa dibeli. Meski saat keinginan menyimpan datang, aku belum tau untuk apa dan bagaimana cara memanfaatkannya, tapi aku tetap menyimpan dan mengumpulkannya.
Pengalaman hidup kita pun serupa itu, selalu unik, dan hanya akan identik dengan saat itu saja, tak pernah ada pengalaman serupa yang benar-benar sama. Kumpulan pengalaman adalah semacam harta yang tak bernilai. Meski kita tak pernah bisa tahu apakah manfaat dari sebuah pengalaman, tapi percayalah bahwa itu akan selalu ada manfaatnya, tinggal bagaimana nanti bertemu jodohnya.
Barangkali saat ada orang lain yang butuh wawasan terkait hal dalam pengalaman itu, atau saat diri kita sendiri berada dalam kesempatan lain untuk pengalaman baru yang terkait dengan pengalaman sebelumnya.
Kira-kira begitu kurang lebihnya. Mau banyak kurangnya sekalipun tetap bisa jadi kelebihan nantinya. Atau jika berlebih-lebihan sekalipun, bisa jadi belajar sebuah kekurangan darinya.
Apapun itu ia akan selalu mengayakan. Percaya!