AES093 Kemasan dan Isi
yulitjahyadi
Tuesday December 7 2021, 11:32 PM

Kemasan dan isi itu seperti pasangan. Kalau itu produk yang diperdagangkan, tentunya saling menunjang satu sama lain. Isi yang bagus jika kemasannya bagus pastilah bagus pula daya jualnya. 

Namun tak jarang hanya kemasannya yang bagus, bahkan kemasan luar yang mengelabuhi isi sebenarnya. Misalnya snek ringan yang kemasannya begitu besar, padahal isinya begitu sedikit. 

Tampilan di luar lalu terasa lebih utama dibandingkan isinya demi daya jual. Kemasan adalah soal daya tarik, apalagi bagi kesan pertamanya yang bisa jadi menentukan l, kesan pertama pasti didapat dari kemasannya terlebih dulu. 

Saat dulu berkutat dengan produk, hal yang dipikirkan juga bagaimana menempelkan sebuah merk pada produknya, bagaimana merk itu dan tampilannya pada produk dapat cepat dan tepat memberi pesan mengenai produknya. Segala cara dilakukan agar terlihat keren,semua dilabeli dengan merknya itu. .

88Sama-sama baju kaos berwarna putih, impresi orang akan berbeda jika -merk nya beda. Penilaian akan bisa sangat tergantung pada merk di labelnya. 

Ada suatu masa saat rasanya usaha itu jadi kesia-siaan saja, karena akan selalu ada komparasi antar merk dan seringkali komparasinya bagai gajah lawan semut, berat sebelah dengan tambahan lekatan persepsi yang ada. 

Maka akhirnya semuanya jadi melelahkan hingga akhirnya pilihan jatuh pada tanpa merk. Tak lagi penting apakah akan terlihat lebih keren dengan merk atau tidak. Tampilan luar itu tak lagi dirasa penting, Kemasannya tak lagi harus ada, bahkan tak lagi penting dengan atau tanpa merk. Identitas tak lagi yang jadi terutama karena intisarinya bukan itu. Isi menjadi yang terutama, meski itu berarti bisa kalah di pandangan pertama. 

Sama halnya dengan restoran penjual makanan. Jika makanannya enak, biasanya tempatnya biasa saja, tapi tetap ramai dan bahkan melegenda. Sebaliknya, jika kini banyak restoran yang berlomba-lomba menampilkan tempat yang terbaik demi memenangkan komparasi di pandangan pertama belum tentu panjang umurnya karena kualitas makanannya 'kumaha engke'. Tampilan bagai baju yang punya trend semusim, dua musim. Akan selalu ada penampil lain yang lebih baru dan lebih menarik hati karena kebaruannya. 

Maka ketika fokus pada isi, apa yang ditempelkan dari luar tak lagi penting. Seperti makanan dalam kemasan tadi, bisa saja tak ditempeli stiker, toh pada akhirnya akan terkenali juga dan tetap terpilih jika daya tarik isinya begitu kuat. 

Untuk yang satu itu memang tidak ada kata instan. Isi adalah kejujuran, esensi adalah efisiensi yang mengarah hanya pada inti dari isi. Apa yang diperoleh dari isinya adalah keseluruhan dari harga yang dibayarkan.