Pagi ini, aku memulai hari dengan menyusuri Jalan Braga, salah satu jalan paling ikonik di Bandung. Tujuanku bukan sekadar menikmati suasana pagi, tetapi juga diskusi bareng Sekodi (Sekolah Damai Indonesia) juga bertemu dengan teman-teman di "Kopi Bahagia" sebelum akhirnya berkumpul di toko kue lekker dengan narasumber. Saat menyusuri jalanan yang ramai, aku bertemu dengan salah satu relawan yang mempromosikan kegiatan sosial. Mereka menjual buku voucher senilai Rp100.000 yang berisi diskon dari beberapa toko dan penginapan untuk mendukung penderita kanker, yang menurutku ide yang menarik dan layak didukung. Namun, sayangnya aku tidak membawa uang sebesar itu. Aku berjanji pada diri sendiri untuk mencari mereka lagi di lain waktu.
Setelah berjalan cukup jauh, aku berhenti sejenak di kursi taman depan toko kue lekker menikmati suasana sambil memotret sudut-sudut cantik di Jalan Braga. Tak lama kemudian, salah satu temanku datang dan kami bersama-sama menuju "Kopi Bahagia" sambil menunggu yang lain. Setelah semua berkumpul, kami pun beranjak ke toko kue lekker yang ternyata sangat ramai dipenuhi oleh berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga turis mancanegara yang sibuk membeli jajanan tradisional.
Kami memilih tempat duduk di area yang sedikit lebih sepi, persiapan untuk diskusi kami bersama Sekodi (Sekolah Damai Indonesia). Sambil menunggu narasumber, aku terpikir untuk membeli kopi dulu agar lebih fokus selama diskusi. Akhirnya, aku menuju Kopi Djawa dan memesan kopi susu dingin yang ternyata sangat pas dinikmati di pagi ini. Tak lama, narasumber kami mas Fanny tiba dan diskusi pun dimulai.
Diskusi berjalan sangat dinamis, mulai dari topik pernikahan beda agama, LGBTQ, hingga politik dibahas dengan begitu intens. Setiap topik saling terkait, meskipun obrolan kadang terasa meloncat-loncat seperti layaknya obrolan bapak-bapak di warung kopi pada jam 3 pagi kata salah satu temanku. Jam menunjukkan pukul 11:40, dan diskusi kami akhirnya selesai. Meskipun masih banyak yang bisa didiskusikan, kami berpisah dengan harapan bahwa dari obrolan ini ada pencerahan walaupun aku pribadi belum menemukan poin pasti yang bisa kuambil sebagai bahan refleksi ke depannya. Namun, seperti yang dikatakan Socrates, "Kebijaksanaan sejati datang dari kesadaran bahwa kita tidak tahu apa-apa."