AES056 Transformasi
yulitjahyadi
Wednesday October 20 2021, 11:11 PM
AES056 Transformasi

Kali ini topik yang mencuat di tengah bulam purnama adalah transformasi. Terlihat kebetulan (pastinya bukan kebetulan) beberapa orang berdiskusi denganku di topik yang sama. Satu hal karena aku sedang menggodog sebuah konsep logo tentang sebuah tempat yang nantinya jadi pusat fasilitas pengembangan diri, sehingga transformasi diri diletakkan sebagai harapan bagi orang yang datang ke sana. Diskusi antara aku dan temanku ini sudah berlangsung hampir satu bulan, dan kami masih belum menemukan titik temu antara apa yang tergambar di pikiranku dan apa yang tergambar di pikirannya. Sebenarnya banyak hal yang sama yang kami sepakati tentang transformasi, tapi mewujudkan filosofi yang berlapis ke dalam satu logo yang mewakili memang perlu waktu. 

Di waktu yang berbeda dengan teman yang berbeda pula, ia menanyakan apakah itu slow transformation, ketika kami sedang membahas tentang hal-hal seputar kesadaran diri. Lalu dengan dua orang teman lain di kesempatan yang berbeda di hari ini, mereka menanyakan hal yang sama, intinya tentang perubahan diri.

Dari beragam obrolan itu aku seperti sedang mendefinisikan ulang pemahaman transformasi dari kepingan-kepingan yang terserak. Lalu kesimpulannya adalah, (menurutku) transformasi adalah proses melepaskan. Ide transformasi bukan tentang menjadi seseorang, it's not about an idea of becoming. Transformasi adalah proses menemukan diri sendiri, yang dalam perjalanannya dibutuhkan banyak keberanian untuk melepaskan belief system yang tidak selaras dengan jati diri sesungguhnya. 

Ketika seseorang bayi, anak, remaja hingga dewasa, banyak sekali belief system yang ditanamkan ke dalam dirinya dan egonya terbentuk juga karena faktor-faktor itu. Siapakah 'saya'?, bisa jadi termasuk berbagai tempelan yang melekat pada dirinya. Bisa yang tanpa sengaja atau sengaja direkatkan oleh diri sendiri, atau yang direkatkan oleh orang lain, atau yang direkatkan oleh tatanan sosial masyarakat. 

Ketidaksesuaian tempelan-tempelan itu dengan apa yang menjadi kebenaran pada inti diri lah yang biasanya mendatangkan konflik di dalam, pengabaian, penyangkalan atau pelarian. Ketika seseorang tidak dalam alignment, maka harmoni pun sulit tercipta. Ketidakharmonian itulah yang termanifestasi dalam setiap lapisan diri, tubuh fisik, pikiran, emosi, mental dan juga spiritual. Menjadi diri yang sebenarnya butuh suatu keberanian untuk menjadi apa adanya sekaligus mengijinkan diri to be vulnerable. Dalam artian, kejujuran yang tanpa tameng. Konteks melepas tameng inilah yang menjadi inti keberanian dan kekuatan yang sesungguhnya. Do you dare to be yourself? 

Untuk beberapa orang hal itu bisa jadi amat sangat sulit karena diri ini tak hanya terikat dengan situasi hari ini, tapi juga di waktu lampau, bahkan di waktu sebelum keberadaan diri. Inilah mengapa kemudian ada yang namanya 'past wound', 'old trauma', 'past life' dan sebagainya.

Maka bertransformasi itu seperti melewati proses yang amat sangat lambat, serupa memecahkan teka teki yang menuntut kesadaran penuh terus menerus. Oleh karenanya proses yang terkesan rumit itu sesungguhnya hanya bisa dilalui dengan kehadiran utuh. By being present in the present moment, moment by moment continously. It's a never ending journey, but it will surely make you better. Catatannya mungkin, jangan salah mengartikan enjoy your present moment sebagai hal yang boleh dipilih-pilih enjoy nya aja. But embracing whatever arises at your precious present moment. Apakah itu kesedihan, kemarahan, kedukaan, kesukaan, kelegaan dan seterusnya untuk disadari sepenuhnya dan dialami sepenuhnya dalam kesadaran. 

Kesadaran akan membantu memberi banyak pilihan, dan pilihan-pilihan itulah yang nantinya memberi pertumbuhan karena keberanian melepaskan ide atau gagasan yang bukan menjadi bagian dari diri, ide yang ada oleh karena keberadaan orang lain. Proses ini membuat seseorang terkoneksi lebih baik dengan dirinya sendiri. Koneksi itu mendatangkan pengertian yang membuat ia lebih mencintai dirinya sendiri. Kemampuan memberi cinta untuk diri sendiri itu yang nantinya akan memampukannya untuk mencintai orang lain apa adanya. Saat ia bisa melihat dirinya sebagai hakekat ciptaan, maka ia bisa melihat orang lain sebagaimana hakekat ciptaan pula. Sehingga pada akhirnya ini serupa perjalanan pelepasan ego dan penemuan diri sebagai hakekat ciptaan dan kesatuannya dengan Penciptanya. Manunggaling kawulo Gusti. ❤

Andy Sutioso
@kak-andy   5 years ago
I am not the body, I am not even the mind... (Sadhguru) 🙏🏼😇
When you create a distance with your body and your mind - then you may be able to see, to know your trueself.
yulitjahyadi
@yulitjahyadi   5 years ago
seneng banget hal seperti ini bisa terkoneksi di sini, never imagined before... Thank you Kak Andy 🙏🏼