Tau tapi abai, atau tau tapi suka nego... Ga hanya anakku sih, aku juga masih suka begitu. Tau kalau makan sesuatu musti tunggu dulu sampai makanan yang masuk sebelumnya tercerna sempurna, tapi tangannya tetep suka nyomot makanan dan masukin lagi ke mulut, ngunyah lagi... Padahal kalau yang dimakan pakai gula, sudah pasti yang sesuap itu malah bikin nagih. Giliran ga nyaman sama perutnya karena kembung baru deh menyesal dan berusaha (lagi) mengingatkan diri supaya lain kali lebih sadar dan seterusnya.
Seringkali hal yang menjaga kita agar tetap centered atau balance atau sehat itu sederhana saja : eling, tapi memang sederhana tidak otomatis berarti mudah.
Di suatu traning yoga terapi, guruku berkata, 'The simplest thing is the hardest thing to do'. Beliau menjelaskan bagaimana bentuk latihan yang sederhana sering tidak mudah dilakukan karena membosankan sehingga hasil yang diingini tidak dapat tercapai karena tidak adanya konsistensi disana.
Kalau diamati lebih jauh lagi, terkesan kita ini lebih suka njelimet sendiri, kalau ga rumit ga menarik. Pilih muter-muter, belok dulu kesana kemari bahkan kadang sampai terlalu jauh, padahal inti jawabannya ternyata begitu dekat dan mudah.
Bisa jadi hal itu setipe dengan ungkapan 'Bahagia itu sederhana' kita aja yang sering kebanyakan syarat. Mau bahagia tapi kalau ada ini itu, lewat sini situ dan seterusnya.
Tak terpungkiri jadinya bahwa kita ini memang pembelajar sampai mati. Selalu butuh belajar dari kesalahan, dan sering pula tak cukup sekali. Pengalaman toh selalu jadi guru yang paling jitu.
Ibaratnya pilihan jalan ada banyak, kita perlu coba lewati dulu satu per satu hingga tau mana jalan yang mengarahkan kita ke tujuan dan mana yang justru buntu hingga kita harus memutar balik arah. Kecuali kalau kita jalan sambil tidur, hingga tak sadar kalau jalan yang sama terlewati berkali-kali dan kita tak kunjung sampai pada tujuannya.
Bangun lalu jadi kunci yang pertamanya, kesadaran yang kedua dan yang ketiga adalah niat untuk mencapai tujuan dan termasuk pula tujuannya.
'Ayolah, masa ga bosen sih sakit perut melulu?' 'Lupa ya kalau sakit perutnya bisa jadi berhari-hari?' 'Jadi toksin tau, kalau makanannya ga tercerna'
Suara-suara itu lalu membangunkanku (lagi).
Butuh mindfulness dalam semua hal ya! Apalagi makan, kadang saking enaknya kita lupa untuk menikmati setiap gigitan. Mungkin sekarang harus mulai setiap gigitan dinikmati dengan mindful, memejamkan mata dan membiarkan semua titik perasa di lidah menjalankan perannya, merasakan semua rasa manis, asin, pahit dan sebagainya sesudah semua titik rasa kebagian tugas, mulai dengan gigitan kedua. Saya harus mulai ini, biar makan lebih perlahan lahan dan secara otomatis memberikan pesan ke otak bahwa saya tidak lapar lagi, jadi makan lebih sedikit, menikmati 100% dan tidak endut hahaha... Terima kasih, ini essay keren!
Terima kasih om Jo, mindfulness selalu jadi kunci keselarasan ya, lewat mindfulness akan muncul gratefulness yang lantas memberi kata cukup. Serasa nyambung dengan esai Aileen ke 4 yg saya baca sebelum ini, I am enough 😊