The fault, dear Brutus, is not in our stars,
But in ourselves, that we are underlings.
Dari sekian banyak kutipan Shakespeare yang ada, inilah yang paling mengena bagiku. Membawa sentimen yang begitu penuh harap, penuh gairah.
Dialog ini muncul dari mulut Cassius di drama Shakespeare tentang Julius Caesar. Dia sedang menghibur Brutus, meyakinkannya bahwa Caesar tidak jauh berbeda dari mereka. Takhtanya — yang terlihat agung dan tak tergapai — bisa saja diturunkan. Mereka semua manusia. Mereka semua bisa saling menjatuhkan. Tentu saja, kalau kita memahami lebih dalam konteks tokoh-tokoh dan situasi ini, kita akan tahu bahwa Cassius tak bisa semudah itu dipercaya. Kutipannya itu tak bisa semata-mata diambil sebagai kutipan inspiratif.
'Brutus' and 'Caesar' — what should be in that 'Caesar'?
Why should that name be sounded more than yours?
Write them together, yours is as fair a name.
Sepertinya kutipan ini begitu beresonansi bagiku karena aku luar biasa menikmati metafora tentang bintang. Tapi juga, kata-kata Cassius membawa harap yang besar. Bahwa kita bisa menjadi lebih. Kita tidak didefinisikan oleh siapa kita, masa lalu kita, asal-usul kita. Kita tidak harus terikat oleh takdir yang telah tertuliskan oleh kita dalam bintang-bintang. Kupikir mungkin takdir bukanlah jalan buntu yang kaku. Mungkin takdir sesuatu yang bisa kita bentuk sendiri. Hidup kita ada di tangan kita, dan kita harus bisa membawanya ke arah yang kita ingin.
Yang dimaksud Cassius tentang the fault yang ada pada diri kita, dan bukan pada bintang, bukanlah bahwa kita selalu bersalah. Yang dia maksud adalah bahwa kita punya kendali penuh atas takdir kita. Atau setidaknya itu yang kuharap – menakutkan, tapi juga meyakinkan.