Dari sekian banyak lagu Natal, yang ceria, yang nostalgis, yang reflektif, yang jenaka; favoritku adalah Malam Kudus. Lagu ini terasa begitu tenang dan mendayu dan damai. Di antara kesibukan dan ramainya Natal modern, kita bisa melihat intisarinya: sesuatu yang lebih mentah dan lembut.
Kisah kesukaanku tentang lagu Malam Kudus adalah yang terjadi pada The Christmas Truce of 1914. Kisahnya, pada malam Natal di Perang Dunia Pertama, tentara Sekutu dan Jerman saling berdamai. Mereka bermain bola, mengobrol, dan makan bersama. Semua dimulai karena salah satu dari mereka bernyanyi Malam Kudus. Mereka mengenali melodi itu dan ikut bernyanyi, membangun persaudaraan tersirat.
Lagu ini dikenal di mana-mana. Ada begitu banyak terjemahannya. Biasanya liriknya satu-persatu memiliki arti yang berbeda-beda, tapi sentimen akhirnya tetap sama: sebuah malam yang damai, dirayakan dengan sunyi. Tiap terjemahan yang pernah kutemui selalu saja terasa puitis, puitis dengan cara yang tenang. Favoritku adalah lirik berbahasa Prancisnya:
Dans les cieux, l’astre luit In the heavens, the star shines
Le mystère annoncé s'accomplit The announced mystery is fulfilled
Cet enfant sur la paille endormi, This child sleeps in the straw
C'est l'amour infini This is infinite love
Lirik ini benar-benar memberi kesan bahwa satu momen kecil akan kemudian membawa kebahagiaan bertahun-tahun ke depannya. Kita bisa menggambarkan betapa sederhananya adegan itu. Tapi, juga: betapa ada kebahagiaan mendalam dalam kesederhanaan itu. Bagiku, lagu ini tidak harus dimaknai secara religius. Justru, lagu ini punya makna yang sangat global. Rasanya lebih seperti pengingat lembut. Bahwa kita hidup dalam sebuah kesatuan, bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa semesta ini punya cinta dan cahaya tak terbatas.