Sudah tiga hari kami menginap di rumah Pak Endro di Dusun Ngadiprono, Temanggung. Hari-hari berlalu dengan lambat. Matahari perlahan meresap lewat jendela, mencahayakan kembali langit gelap malam. Ayam berpetok-petok berbaris. Perjalanan pulang anak-anak setelah maghrib tersendat oleh riuh mereka bermain bola. Di sini, setiap berjalan ke luar rumah, kami disenyumi dan diangguk oleh semua orang. "Yang di rumah Pak Endro, ya?" "Monggo, mampir, minum teh!" "Pagi!"
Kemarin, ada yang bertanya, "kenapa pintunya selalu ditutup, dikunci?"
Di rumah, kami dibiasakan untuk selalu mengunci pintu dan jendela. Bahaya, takut ada yang masuk, merampok. Di sini, rumah yang ditutup pintunya adalah pertanda tidak ada orang di dalam. Kami dianjurkan untuk buka pintu agar siapapun bisa ikut masuk, berkunjung.
Anak-anak sering ikut main ke rumah kami. Tetangga datang menyapa pagi-pagi, mengingatkan kalau toren air sudah mudal, kalau tukang sayur keliling datang. Kami juga jadi lebih percaya diri masuk ke rumah tetangga. Kami selalu diundang untuk belajar menganyam, melihat kelinci.
Ngadiprono mengajak kami untuk ingat lagi untuk lambat, gotong royong, membuka pintu.