Waktu aku membuat proyekku di semester lalu tentang kalender dan persepsi waktu, aku sedikit-sedikit mendengar tentang Pranoto Mongso, sistem perhitungan kalender tani di Jawa. Bagan yang kutemukan di internet berbentuk layangan jungkir balik dengan bulatan di tengah. Waktu itu, aku tidak mempelajarinya terlalu dalam — tidak begitu banyak pula sumber yang kutemukan — dan aku hanya menyalin sekedarnya. Tapi kutemukan bahwa ini memang sesuatu yang menarik, dan aku berniat mempelajarinya lebih dalam di nanti hari.
Salah satu rumah di kampung Mbak Siska memampangkan sebuah tabel di dinding luarnya, dicetak di atas spanduk. Tabel ini menarik mataku: berjudul PRANOTO MONGSO JANGKEP. Aku tidak sepenuhnya paham isi-isinya, tapi Mas Pandji yang mendampingi kami menjelaskan sedikit tentang bagian-bagian dari tabel itu dan sedikit terjemahan bahasanya.
Katanya, Pranoto Mongso sudah tidak begitu akurat sekarang, dengan adanya perubahan iklim dan pola cuaca. Sebenarnya, bisa saja kita membuat lagi Pranoto Mongso yang baru. Kita harus rajin mencatat dan mengamati pola. Begitulah yang dilakukan orang Jawa kuno dulu yang menyusun ini. Sayangnya, metode-metode pengamatan dan pencatatan mereka telah hilang tertelan waktu, dan kita jadi lupa cara mereplikasikannya.
Jaman dulu, orang memang suka mencatat. Aku ingat pernah mengobrol dengan seorang kenalan yang mendalami sejarah Tionghoa dan buku I Ching, pedoman dari berbagai hitung-hitungan Tionghoa. Dia bilang, orang Tionghoa memang hobi mencatat. Yang waktu itu kurang terpikirkan olehku, orang Jawa juga punya banyak hitung-hitungan. Kata Pak Sam, untuk memotong bambu petung kerangka rumah pun, ada hitungannya untuk mencari waktu paling ideal. Orangtuaku pun memutuskan tanggal menikah dengan hitungan Jawa.
Orang Jawa, dan banyak bangsa lainnya di nusantara dan selepasnya, sebenarnya sangat pintar, dengan kearifan lokal yang kaya dan mendalam. Hanya saja, berbagai hal membuat kita lupa. Kolonialisasi terutama memutuskan banyak hal bagi masa depan kearifan-kearifan lokal itu. Tugas kita sekarang adalah mencari, mencatat, sedapat mungkin menghidupkan kembali.