Puisi ini ditulis saat perjalanan dari Surabaya Ke Bandung |18 April 2025 | 12.51
Pergi Lagi
Kukira, perjalanan kali ini seperti biasa saja
Langkah ringan, tas di pundak, hati tanpa curiga
Namun ternyata, rasanya berbeda
Ada gemuruh sunyi yang diam-diam bertahta
Tiga tas tergeletak, tak kunjung rapi kutata
Seolah isinya bukan barang, melainkan rasa
Jadi anak rantau lagi menjadi judul lama yang kembali kubaca
Setelah cukup lama bersandar di peluk rumah dan seisi cinta
Kali ini bukan sekadar singgah sementara
Tapi tinggal, berakar, mengukir jejak di kota yang belum akrab suara
Padahal dulu, aku pernah pergi lebih jauh,
Sering menyapa kota demi kota yang berlalu
Namun, kali ini lain rasanya
Seperti ingin menangis di pelukan ibu saat berpamitan di teras rumah
Merangkul adikku erat, seakan dunia hendak berubah
Mengucapkan “jaga diri,” namun di hati terselip gundah
Di ruang tunggu Stasiun Pasar Turi
Aku duduk, seperti biasa—mengamati lalu-lalang yang tak henti
Berharap tak merasa sendiri, meski tak seorang pun mengenali
Entah menunggu sapa ramah menyapa lebih dulu
Atau aku yang mulai duluan dengan kalimat pembuka khas penumpang:
"Tujuan mana?"
Kali ini, orang lain lebih dahulu menyapa
Beliau banyak bercerita dan aku senang mendengarnya
Kisahnya menjelma seperti lagu yang tenang
Menemani waktu yang perlahan melayang
Inilah sebab mengapa aku mencintai kereta
Bukan hanya karena rel yang panjang dan suara roda yang merdu,
Tapi karena orang-orang yang kutemui di antara jeda
Cerita-cerita baru yang berjejal di tiap sudut ruang tunggu
Hari itu, dua orang menghiasi perjalananku
Yang pertama, pria kepala tiga yang ramah
Ia berkisah tentang hidup di lautan luas
Menjadi anak buah kapal, menantang samudra dengan segala cemas
Sebelas hari dari Indonesia ke China,
Mengapung di antara ombak, menggenggam asa
Aku terdiam membandingkan:
pernah 23 jam Sorong ke Ambon, lanjut 21 jam ke Banda Neira
Kupikir sudah cukup lama
Namun laut tak pernah bisa ditakar dengan jam belaka
Kedua, seorang bapak paruh baya yang duduk bersama anaknya
Beliau bercerita tentang Kota Bandung dan sejuta kenangannya
Seru ya, mendengar kisah orang lain meramu impian
Ada pelajaran, ada kekaguman, ada harapan dalam setiap perbincangan
Dan aku maknai:
Semoga perjalanan ini tak hanya baik bagiku sendiri
Tapi juga bagi mereka yang kusebut dalam doa setiap hari
Keluarga, sahabat, dan semua yang kelak kutemui
Biar kutitipkan perasaan yang tak tahu bagaimana kuterjemahkan
Pada Tuhan yang Maha Paham dan Maha Lembut dalam perencanaan
Berkahi langkah ini, Asa dengan sejuta asanya
Lindungi hatinya, jangan biarkan patah dalam gelombang dunia
Hiasi harinya dengan warna-warna ceria
Senyum yang tulus, tawa yang apa adanya
Dan bila lelah menyapa
Semoga selalu ada pelukan yang menenangkan jiwa
Kak Asa, setelah obrolan sore tadi, semoga dua paragraf penutup di puisi ini menemukan pemaknaannya yang baru. Terima kasih banyak. 🙏🏼😇