Tahun ketiga bersekolah, baru sekarang aku berkesempatan mengikuti POT, biasanya papanya yang datang. Kami sepakat bila ada acara anak-anak weekend, Fajrin yang hadir supaya ikut andil dalam perjalanan anak-anak, quality time bersama anak-anak karena waktunya bersama anak sangat sedikit saat hari kerja. Tapi Sei ada kegiatan hari ini, jadi Fajrin yang mengantar Sei, aku yang datang POT.
POT kali ini bertema “Membersamai Tumbuh Kembang Generasi Masa Kini”. Tema tersebut membawakan 4 subtema yang tidak kalah menarik: Parenting, Teknologi, Impatience dan Lingkungan. Namun hari ini lebih fokus untuk membahas subtema 1, Parenting.
Sesuai dugaan, acara ini membuka wawasan baru, memperlebar sudut pandang yang sudah dimiliki. Betapa pentingnya berkesadaran. Sebenarnya banyak yang dapat dikembangkan dari tema besar, tapi hari ini menulisnya fokus di subtema parenting saja.
Seru ya benar-benar yang namanya manusia itu long life learning. Ilmu memang dinamis selalu berkembang dari waktu ke waktu. Perspektif hari ini bisa berbeda di masa lalu atau masa depan. Intinya belajar itu keharusan, ignorance bukan pilihan.
Untuk mencapai sebuah ketenangan ada ilmu dibelakangnya yang menjadi pijakan untuk berdiri tegak menghadapi tantangan.
Semua situasi bisa datang diluar kuasa, ketika persoalan datang, respon kitalah yang menjadi sikap bagaimana kita bertindak. Tindakan kita ini yang akan memengaruhi sekitari. Dalam konteks ini orang tua bertindak sebagai fasilitator anak. Respon orang tua akan berpengaruh pada sikap anak. Dari sekian banyak penjelasan dari narasumber, bisa diambil makna yaitu reaksi awal orang tua terhadap keadaan yang sedang dialami anak.
Dalam keadaan tidak nyaman sudah secara naluriah kita akan bersiap dengan kondisi siaga, fight or flight. Begitupun saat berhadapan dengan anak, saat mereka melakukan sesuatu, bertanya atau bersikap yang membuat kita tidak nyaman, kemudian reaksi kitalah yang akan menentukan kemana arah mereka selanjutnya.
Memperbaiki keadaan atau memperburuk keadaan.
Sebagai contoh dalam diskusi kelompok, ada beberapa situasi yang membuat orang tua tidak nyaman sedangkan anak perlu dampingan kita untuk mengatasi keadaan ini.
Anak dirundung
Anak ingin bunuh diri
Teman anak pacaran dengan sesama jenis
Anak mengikuti gaya karakter favoritnya
Anak selalu main gawai
Keadaan situasi seperti ini benar menjadi contoh tentang bagaimana pengaruh reaksi orang tua terhadap tumbuh kembang anak. Respon apa yang akan kita berikan?
Apakah menyalahkan?
Apakah overreacted?
Apakah tenang?
Menyalahkan adalah respon paling mudah, respon perlindungan diri. Kesalahan seakan-akan bukan tanggung jawab yang harus kita perbaiki. Menyalahkan orang atau keadaan adalah sebuah pengakuan bahwa kita tidak memiliki kemampuan untuk menjadi fasilitator anak. Memang masalah bisa timbul dari luar diri tetapi cara kita bertindaklah yang merupakan tanggung jawab kita sendiri. Bukan orang lain.
Overreacted adalah respon dari belum matangnya kendali emosional kita, belum utuhnya bekal ilmu kita menghadapi persoalan sehingga kita masih mengedepankan emosi yang seharusnya kita sebagai orang tua sudah matang emosinya. Mengendalikan emosi pribadi dan mendahulukan perasaan anak. Saat anak membawa persoalannya dengan keadaan emosi yang tidak stabil lalu kita meresponnya dengan cara yang sama, bisa jadi malah keduanya yang butuh pertolongan. Problem solving yang diharapkan kurang berhasil disini.
Ketenangan adalah jawabannya. Terintegrasinya emosi matur dengan intelegensi nalar, bekal ilmu yang cukup untuk siap mencari jalan menyelesaikan masalah. Bukan berarti harus diselesaikan sendiri, tapi setidaknya sudah memikirkan jalan yang ditempuh untuk mencapai solusi terbaik guna menyelesaikan persoalan yang dihadapi. Termasuk paham bila masalah yang dihadapi melebihi kompetensi diri, kemudian mencari bantuan profesional untuk mendampingi prosesnya.
Bagaimanapun anak akan melihat orang tua sebagai role model. Bagaimana cara kita menghadapi persoalan, bagaimana cara kita menyelesaikan masalah, bagaimana kita terus berusaha menggapai cita-cita. Pondasi tersebut menjadi penyemangat kita untuk terus belajar.
Tidak ada parenting sempurna, tapi dengan adanya kesadaran untuk belajar semakin dekat kita dengan tujuan kita yaitu membersamai tumbuh kembang optimal mereka.
Menghadapi tantangan yang sama besarnya dengan perkembangan jaman.
Terima kasih banyak Sanya catatan POT-nya. Semoga bermanfaat ya menambah kepingan pemahaman tentang bagaimana menjadi orangtua - membersamai proses anak-anak kita. 🙏🏼😊
Kembali kasih Kak, semoga nanti ada acara seperti ini untuk anak-anak supaya bisa membangun kesadaran sejak kecil. Kalau di puskesmas bilangnya penyuluhan😄