Pagi ini, aku memulai hari dengan sederhana sebelum berangkat aku menyiapkan sarapan dan bekal seadanya. Tapi bukan hanya tubuh yang kuberi asupan, melainkan juga jiwa yang bersiap menerima kejutan. Ini adalah hari pertamaku, bukan sebagai pengajar, bukan sebagai pemberi makna bagi orang lain, melainkan sebagai pembelajar.
Rasanya seperti mengulang pola yang dulu pernah dijalani. Namun, kali ini berbeda. Dahulu, belajar adalah perkara ingin. Kini, belajar menjadi kebutuhan. Bukan lagi sekadar memenuhi rasa penasaran, tapi untuk meredakan dahaga akan makna, akan ilmu yang menyentuh lebih dari sekadar logika.
Aku melangkah seorang diri, menyusuri jalanan, mengamati manusia berlalu-lalang. Entah siapa mereka, entah ke mana tujuan mereka, tapi dari cara mereka berlalu cepat, ragu, atau penuh harap akupun tak tahu, yang aku tahu kami semua sedang menuju sesuatu. Jalur kami mungkin berbeda, tapi barangkali mimpi-mimpi kami berasal dari tanah harapan yang sama. Ada yang berjuang demi mimpi yang diukir untuk dirinya sendiri, ada pula yang menjadikan mimpi sebagai alternatif kedua. Dan ada juga yang mulai mengikis mimpinya, menipiskannya menjadi doa: “Semoga.”
Hari ini aku belajar, bahwa dunia tidak bergantung pada keberadaanku. Bahwa "ada atau tidaknya aku, dunia tetap berjalan seperti biasa."
Sebuah pelajaran yang sederhana, namun menggugah. Bahwa eksistensi bukan soal terlihat, tapi tentang dampak yang ditinggalkan.
Ada banyak hal yang kutemukan hari ini, terlalu banyak untuk dijelaskan satu per satu. Tapi jika aku diminta menyebut satu hal saja yang kupelajari, maka aku akan menjawab: aku sedang belajar mengenal diriku sendiri. Dan barangkali, inilah bentuk tertinggi dari proses belajarku yaitu mengenali dan berdamai dengan diri sendiri.
“Bagaimana mungkin aku bisa memahami orang lain, jika aku sendiri belum selesai dengan diriku?”
Pertanyaan itu terus menggema dalam kepalaku. Dalam diam, aku menyadari bahwa sebagian besar kekacauan di luar hanya pantulan dari riuh yang belum selesai di dalam. Maka, untuk bisa hadir secara utuh, aku harus terlebih dahulu menyapu bersih ruang-ruang batin yang masih berserakan.
Hari ini, aku belajar untuk meresapi hal-hal kecil. Bukan karena hal besar tak penting, tapi karena dalam yang kecil, terkadang tersimpan makna yang lebih dalam. "Kebijaksanaan seringkali bersembunyi dalam hal-hal sederhana," kata Paulo Coelho dalam novelnya The Alchemist.
Dan mungkin, inilah hakikat belajar yang sejati (?) bukan semata mengisi kepala dengan teori, tetapi menyentuh hati dengan makna. Bukan sekadar menuju prestasi, tetapi menemukan harmoni dalam diri.
Bagus sekali tulisannya kak Asa. Asik membacanya. Terima kasih sudah berbagi di sini... 🙏🏼