AES35 Atomic Essay
Atomic Essay, lagi lagi membuat ku bingung mau nulis apa. Namun kali ini aku mencari tool untuk mencari topik, dengan harapan tool tersebut memberiku sebuah topic dan aku akan bahas topik itu, namun kenyataan sangat jauh dengan realita. Topic tersebut khusus untuk topik pembicaraan, namun aku kadang coba buat menjawab topik topik itu sendiri. Aku menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit untuk “ngomong sendiri”. Setelah itu aku sempat iseng melakukan monkeytype setelah sekian lama tidak mencoba untuk mengetik dengan cepat dalam waktu tertentu, dan ternyata aku masih bisa mengetik sebanyak 63 kata dalam 1 menit. Itu Pun bisa dilakukan apabila aku tau mau nulis apa. Beda cerita apa bila aku bingung mau nulis apa. Dan setelah dipikir pikir apa bila aku benar benar bisa mengetahui apa saja yang mau aku tulis aku bisa mengerjakan atomic essay ini hanya dengan 10 menit kurang, bahkan apabila bisa konsisten dengan kecepatan 63 wpm. Namun ternyata pada saat aku coba lagi aku menggantinya ke bahasa Indonesia aku bisa menulis secepat 73 kata per menitnya, dari sini aku bisa menyimpulkan bahwa ternyata bahasa juga bisa berpengaruh terhadap kecepatan mengetik kita. Mungkin salah satu penyebabnya adalah kebiasaan, mungkin pada saat kita menggunakan bahasa Indonesia kita lebih hafal setelah ini mau mengetik atau menulis apa. Meskipun belakangan ini aku cukup sering menggunakan bahasa inggris pada saat ngobrol sama teman bermain selain karena memang temanku berasal dari luar negeri aku juga ingin membiasakan diri untuk melatih bahasa inggrisku karena bahasa inggris salah satu bahasa yang umum pada saat ini, dan paling banyak digunakan, dengan hampir 1,13 miliar penutur
Bukan hanya kamu aja yang mengalami Bryann - semua yang menantang diri menulis rutin pasti mengalami ini. Saya juga sama. Salah satu esai saya judulnya Tulisan Ngawur... 😁
Penulis-penulis besar juga sama, yang kita lihat hanya karya2 besarnya aja - kita ga pernah tau berapa banyak tulisan mereka yang gagal bahkan masuk tempat sampah. Semangat!