AES003 Pohon itu Teman
budhi
Sunday November 24 2024, 4:52 PM
AES003 Pohon itu Teman

Sepulang Ekspedisi Kampung Adat 2 minggu lalu, anak-anak Kelompok Yospan K9 diminta oleh Kak Bayu dan Kak Luna untuk menuliskan semacam ucapan terima kasih kepada orang tua masing-masing, dalam konteks berbagai kemudahan dan kebaikan yang mereka dapatkan dari orang tua, sehubungan dengan keseharian live-in mereka disana dengan penduduk setempat.

Hal yang menarik dari beragam poin yang Akila sampaikan adalah salah satunya berterima kasih kepada saya karena saya menanam beberapa pohon yang saat ini sudah cukup besar (hingga tumbuh melewati tinggi rumah kami). Beragam hal membuat  dia merasa betah di ekspedisi ini; mulai dari “slow living” nya, adat dan keteraturan, nilai-nilai luhur budaya yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya, kerukunan, dan bentang alam dengan banyak pepohonan. Hal terakhir ini mungkin yang membuat dia merasa perlu menyebutkan pohon-pohon yang saya tanam di rumah. 

Selain tanaman hias dan rumput, pohon yang saya tanam sejak beberapa tahun lalu ada beberapa macam:

  1. Di halaman belakang kami ada 1 pohon kamboja yang sudah besar, daunnya lebat dan jika sedang musim berbunga (terutama di malam hari) akan menyebarkan wangi bunga yang tersebar ke sekitarnya, termasuk ke dalam rumah.
  2. Di halaman belakang pula saya tanam 3 pohon pinus. Yang saat ini paling tinggi,  mungkin sekitar 11-12 meter, sudah melampaui ujung atap rumah kami. Ketiga pohon pinus ini kini menjadi rumah dari beberapa keluarga burung gereja yang membuat sarang. Kami juga menempatkan rumah burung kecil di pohon ini yang sempat dihuni sebentar oleh satu keluarga burung. Dari meja kerja, sering saya amati beberapa jenis burung sering singgah di pohon-pohon ini sambil berkicau.
  3. Di halaman depan ada 1 pohon kersen yang sudah sangat besar. Saat proses tumbuhnya dibentuk oleh tukang kebun kami -Mang Engkus- agar batang utamanya melengkung menaungi jalan di depan rumah kami. Saat semakin besar, karena batangnya melengkung, saya buatkan penyangga dari besi agar dia tersangga dengan kuat ke tanah di bawahnya. Kini kersen ini mendominasi fasade rumah kami. Pohon kersen ini membuat bagian depan rumah kami sangat teduh dan jadi tempat favorit anak-anak kecil bermain, driver-driver ojol berteduh sesaat sebelum melanjutkan tugas dan mobil-mobil tetangga/tamu kadang parkir dibawahnya saat matahari terik.

Saya memang menyukai rumah yang diteduhi pohon. Pohon dapat membantu membentuk iklim mikro di rumah kami, terutama saat musim panas lalu saat suhu di Bandung sempat mencapai 33 derajat celcius. Pohon-pohon ini dapat membantu menurunkan suhu agar tidak terlalu panas dan akhirnya mengurangi konsumsi energi listrik untuk pendingin ruangan (AC). Pohon-pohon ini juga berjasa memberikan udara yang lebih segar di rumah kami. Oh ya, sepertinya pohon dan halaman rumput yang kami punya juga berjasa dalam menyimpan cadangan air tanah. Para tetangga di saat kemarau sering mengeluh tidak mendapatkan supply air tanah, dan tidak sedikit dari mereka akhirnya memperdalam sumur.

Tapi memang saya menemukan sebagian orang entah kenapa tidak begitu menyukai pohon dengan beragam alasan; daun yang membuat kotor jalan/halaman, takut dahan patah/roboh, sarang hewan dan sebagainya. Atas alasan ini juga saya perhatikan saat ini mudah sekali untuk melakukan penebangan atau pencabutan akar pohon sehingga lingkungan “bebas dari pohon”. Seakan-akan kini pohon dimusuhi. Namun di saat yang sama pula, saat cuaca semakin panas dan matahari terasa semakin terik, kita mengeluh kepanasan.. hehehe..

Memang dalam kondisi yang sudah mengkhawatirkan, pemangkasan pohon itu perlu, apalagi di musim penghujan sekarang agar tidak mencelakai atau merusak. Memangkas dan merawat. Ini saya lakukan terhadap pohon-pohon yang saya pelihara. Sebulan sekali saya pangkas dahan-dahan yang terlalu menjorok atau terlalu rendah dan berpotensi mengganggu. Repot memang, tapi ini konsekuensi yang memang saya pahami untuk dijalankan. Sejauh ini menurut saya effort ini “worthed” dengan berbagai keuntungan yang kami nikmati dengan adanya pohon. 

Pun di musim kemarau saat daun-daun meranggas dan terkena angin, seringkali saya merasa tidak enak kepada tetangga sebelah rumah. Sering pula di saat tetangga kami sedang tidak di rumah, saya menyapu/membersihkan carport halaman mereka, apalagi kalau sudah terlalu banyak daun. Setidaknya ini sedikit wujud tanggung jawab sosial saya. Sampai sekarang belum ketauan sih kalau saya suka nyapuin carport mereka hahaha..

Pengembang (developer) perumahan pun sepertinya kini lebih memilih tampilan linkungan komplek perumahan yang tidak berpohon, faktor asri dan hijau sepertinya kini tidak utama lagi. Mungkin bagus saat difoto saat pagi/sore hari atau saat cuaca mendung. Tapi saat siang hari yang mataharinya terik, pasti terasa gersang dan panas, pada akhirnya rumah-rumah akan mengandalkan AC dan konsumsi energi meningkat.

Kembali lagi, rumah adalah tempat kita bernaung dan berlindung. Tentunya versi nyaman rumah itu akan berbeda-beda. Kebetulan untuk saya dan keluarga, pohon adalah teman penting yang pada akhirnya kami jaga, kami pelihara dan kami rawat. 

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Waah udah muncul esai ke tiga-nya. Bagus pula isinya. Nuhuun. Semoga berlanjut Budhi. Oh punten bantu tambahkan featured image dong. Biar ada visualnya
budhi
@budhi   2 years ago
Siap, kak
Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Keriweuhan ini juga kami alami di smipa. Sampah kebun banyak sekali dan sulit mengelolanya. Harga yg musti dibayar supaya Smipa tetap hijau, sejuk dan asri. 🌱🙏🏼
Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Colek @ayah-azwa ini oom Budhi sdh di esai yang ke tiga. ☝🏽🤭