Sepulang Ekspedisi Kampung Adat 2 minggu lalu, anak-anak Kelompok Yospan K9 diminta oleh Kak Bayu dan Kak Luna untuk menuliskan semacam ucapan terima kasih kepada orang tua masing-masing, dalam konteks berbagai kemudahan dan kebaikan yang mereka dapatkan dari orang tua, sehubungan dengan keseharian live-in mereka disana dengan penduduk setempat.
Hal yang menarik dari beragam poin yang Akila sampaikan adalah salah satunya berterima kasih kepada saya karena saya menanam beberapa pohon yang saat ini sudah cukup besar (hingga tumbuh melewati tinggi rumah kami). Beragam hal membuat dia merasa betah di ekspedisi ini; mulai dari “slow living” nya, adat dan keteraturan, nilai-nilai luhur budaya yang masih dipegang teguh oleh masyarakatnya, kerukunan, dan bentang alam dengan banyak pepohonan. Hal terakhir ini mungkin yang membuat dia merasa perlu menyebutkan pohon-pohon yang saya tanam di rumah.
Selain tanaman hias dan rumput, pohon yang saya tanam sejak beberapa tahun lalu ada beberapa macam:
Saya memang menyukai rumah yang diteduhi pohon. Pohon dapat membantu membentuk iklim mikro di rumah kami, terutama saat musim panas lalu saat suhu di Bandung sempat mencapai 33 derajat celcius. Pohon-pohon ini dapat membantu menurunkan suhu agar tidak terlalu panas dan akhirnya mengurangi konsumsi energi listrik untuk pendingin ruangan (AC). Pohon-pohon ini juga berjasa memberikan udara yang lebih segar di rumah kami. Oh ya, sepertinya pohon dan halaman rumput yang kami punya juga berjasa dalam menyimpan cadangan air tanah. Para tetangga di saat kemarau sering mengeluh tidak mendapatkan supply air tanah, dan tidak sedikit dari mereka akhirnya memperdalam sumur.
Tapi memang saya menemukan sebagian orang entah kenapa tidak begitu menyukai pohon dengan beragam alasan; daun yang membuat kotor jalan/halaman, takut dahan patah/roboh, sarang hewan dan sebagainya. Atas alasan ini juga saya perhatikan saat ini mudah sekali untuk melakukan penebangan atau pencabutan akar pohon sehingga lingkungan “bebas dari pohon”. Seakan-akan kini pohon dimusuhi. Namun di saat yang sama pula, saat cuaca semakin panas dan matahari terasa semakin terik, kita mengeluh kepanasan.. hehehe..
Memang dalam kondisi yang sudah mengkhawatirkan, pemangkasan pohon itu perlu, apalagi di musim penghujan sekarang agar tidak mencelakai atau merusak. Memangkas dan merawat. Ini saya lakukan terhadap pohon-pohon yang saya pelihara. Sebulan sekali saya pangkas dahan-dahan yang terlalu menjorok atau terlalu rendah dan berpotensi mengganggu. Repot memang, tapi ini konsekuensi yang memang saya pahami untuk dijalankan. Sejauh ini menurut saya effort ini “worthed” dengan berbagai keuntungan yang kami nikmati dengan adanya pohon.
Pun di musim kemarau saat daun-daun meranggas dan terkena angin, seringkali saya merasa tidak enak kepada tetangga sebelah rumah. Sering pula di saat tetangga kami sedang tidak di rumah, saya menyapu/membersihkan carport halaman mereka, apalagi kalau sudah terlalu banyak daun. Setidaknya ini sedikit wujud tanggung jawab sosial saya. Sampai sekarang belum ketauan sih kalau saya suka nyapuin carport mereka hahaha..
Pengembang (developer) perumahan pun sepertinya kini lebih memilih tampilan linkungan komplek perumahan yang tidak berpohon, faktor asri dan hijau sepertinya kini tidak utama lagi. Mungkin bagus saat difoto saat pagi/sore hari atau saat cuaca mendung. Tapi saat siang hari yang mataharinya terik, pasti terasa gersang dan panas, pada akhirnya rumah-rumah akan mengandalkan AC dan konsumsi energi meningkat.
Kembali lagi, rumah adalah tempat kita bernaung dan berlindung. Tentunya versi nyaman rumah itu akan berbeda-beda. Kebetulan untuk saya dan keluarga, pohon adalah teman penting yang pada akhirnya kami jaga, kami pelihara dan kami rawat.
Waah udah muncul esai ke tiga-nya. Bagus pula isinya. Nuhuun. Semoga berlanjut Budhi. Oh punten bantu tambahkan featured image dong. Biar ada visualnya
Siap, kak
Keriweuhan ini juga kami alami di smipa. Sampah kebun banyak sekali dan sulit mengelolanya. Harga yg musti dibayar supaya Smipa tetap hijau, sejuk dan asri. 🌱🙏🏼
Colek @ayah-azwa ini oom Budhi sdh di esai yang ke tiga. ☝🏽🤭