Di bulan September ini lagi sering hujan. Setiap hari di jam akan pulang, selalu ada hujan. Pada suatu hari, saat kami bermain gobak sodor di LongPus (Lorong Perpustakaan) pukul 11.30, pada saat itu langit cukup gelap. Tapi kami bermain di tempat yang aman dari hujan. Saat bermain, hujan pun turun. Hujan saat itu sangat deras, sehingga membuat lapangan rumput, teater dan sekitar sekolah terdapat genangan air. Bahkan air masuk ke area LongPus. Tak berpikir panjang, saat bermain gobak sodor, mereka merespons genangan air tersebut dengan bermain seluncur. Satu orang, dua orang, kemudian beberapa orang ikut bermain. Lalu, kakak merespons dengan melemparkan pernyataan : "Silakan main seluncur, tapi kepala jangan basah. Hari ini kita belum izin kepada orang tua untuk bermain air."
"Yeay!" Seru mereka dengan senang.
Mereka pun langsung bermain tanpa pertimbangan. Melihat antusiasme mereka bermain, Kakak langsung kontak orang tua di grup kelas dan menyampaikan bahwa saat ini mereka sedang bermain seluncuran sehingga bajunya basah, dan meminta izin apakah teman-teman boleh bermain hujan-hujanan? Orang tua pun memperbolehkan dan menyampaikan candaan : "Gak apa-apa Kak, boleh main hujan-hujan. Palingan kalau nanti basah, kami suruh mereka duduk di bagasi." Begitu jawaban orang tua dilengkapi dengan emoticon tertawa. 
Merespons situasi seperti ini mungkin di sekolah lain tidak umum dan penuh pertimbangan. Tapi di sekolah kami, situasi ini menjadi ruang kolaborasi antara anak, Kakak, dan orang tua dalam merespons situasi yang terjadi saat itu. Ketika mereka bermain seluncuran dan bermain hujan, saya mengingat masa kecil saya yang senang bermian hujan-hujanan. Tanpa beban, penuh kenangan (nostalgia). Di sisi lain, hal tersebut menjadi ruang syukur kita sebagai umat manusia dalam menikmati hidup yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Maka kita patut merayakannya.
Jadi, kapan kita terakhir kali hujan-hujanan?