[repost dari ning, 22 Juni 2021]
Blue kucing istimewa. Dia datang tiba-tiba pada suatu pagi di hari minggu. Sebelumnya, kami mendengar kucing-kucing kami heboh mengejar kucing lain. Ketika dilihat, bersembunyi di belakang semak-semak, ada seekor kucing. Bulunya putih semua, matanya biru, mungkin umurnya beberapa bulan. Dia kami bawa masuk dan beri makan. Dia juga sempat dimandikan, karena bulunya kotor akibat menjelajahi jalan dan rerumputan.
Sering Blue digonggongi anjing-anjing kami. Namun, dia tampaknya tidak peduli. Dia hanya berdiri mematung, tidak menoleh sama sekali. Ternyata, tiga dari empat kucing putih bermata biru memang tuli, begitu pula Blue. Dia hanya bisa mendengar suara yang tinggi dan sangat keras.
Blue tinggal di dalam rumah, sebab dia masih belum akur dengan kucing di luar. Kami juga tidak berani melepasnya tanpa dampingan. Takutnya dia tidak menyadari ketika ada bahaya—mobil, motor—karena tak terdengar. Dia sering kesepian, sampai kami memperkenalkannya pada Shine dan Shadow, dua ekor kucing yang masih kecil. Karena mereka masih anak-anak dan belum tahu bahaya, mereka datang ke wilayah Fluffy, anjing yang kami pelihara di dalam rumah. Blue sebelumnya takut pada Fluffy, tapi keinginannya untuk melindungi Shine dan Shadow menaklukan ketakutannya (wadaw). Akhirnya, Blue pun menguasai wilayah Fluffy. Dia bahkan membuatnya takut dan sering mengejarnya. Teman Blue, selain kami, hanya sedikit sekali. Shadow, tapi Shadow kadang bosan bermain dengannya. Fluffy, tak bisa disebut teman juga karena Fluffy sedikit takut padanya. Dulu ada Shine, sekarang hanya Shadow dan Fluffy.
Blue hanya bisa dielus-elus di waktu tertentu, bila salah, dia marah. Tapi bila ia menikmatinya, manja sekali. Dengkurannya kencang dan dia langsung bahagia. Tidak mau pergi, tidak mau berhenti. Bila sudah begini, dia sering membuat hatiku meleleh.
Tiap pagi, aku mengajaknya jalan-jalan di kebun—dengan memakai tali dan memastikan tidak ada kucing lain. Sebenarnya tidak tepat disebut ‘jalan-jalan’, karena Blue biasanya hanya duduk di tempat yang sama dan melihat ke sekelilingnya. Bisa lama sekali—lima belas menit, bahkan bila dibiarkan bisa sejam. Hanya duduk dan melihat. Tapi waktu tidak menunggu, tentu saja, jadi aku menggendongnya masuk. Di dalam, kerjanya juga duduk dan melihat. Dia sangat mencintai jendela. Dia sering duduk di teras juga, melihat kucing-kucing yang lain. Kelihatannya dia sangat ingin mengunjungi dunia luar.
Beberapa kali dia sempat kabur. Lewat jendela, lompat dari teras, lepas dari tali. Ketika melihat kucing yang lain, langsung ia serang. Blue berbadan kecil dan tidak terlalu kuat. Keseimbangannya jelek, mungkin berhubungan dengan telinganya. Tapi bila sudah marah, dia tak bisa ditahan. Pasti akan ia serang kucing lain dengan sekuat-kuatnya. Kucing itu—seringnya kucing kami yang bernama Teh—hanya bisa diam kebingungan. Mereka takut menyerang Blue, karena tahu pasti akan kami marahi. Paling beberapa pukulan kecil untuk membela diri, kalau bisa lari saja dan tidak menyerang. Meskipun begitu, selalu Blue yang terluka. Dia pernah bengkak kakinya (sampai di rontgen) karena infeksi setelah berkelahi dengan kucing lain.
Kadang kami kasihan pada Blue. Dia hanya bisa di dalam rumah, melihat Shadow dan kucing-kucing lain bebas di luar. Tapi kami saja yang terlalu banyak berpikir. Dia terlihat bahagia. Ternyata kebebasan yang terbatas bukan berarti kebahagiaan yang terbatas. Blue kucing istimewa.