AES 1060 Salju Musim Semi
joefelus
Friday April 19 2024, 11:11 AM
AES 1060 Salju Musim Semi

Saya masih berbaring, rasa kantuk masih membuat enggan untuk beranjak dari pembaringan. Di luar terdengar bunyi yang khas ketika air hujan dari atap mengalir di talang lalu jatuh kebagian bawah dimana lekukan talang pembuangan air menempel di tanah dah mengeluarkan bunyi seperti kaleng dipukul. Di luar masih gelap karena matahari belum mulai muncul, Saya raih jam tangan di atas meja di samping pembaringan. Masih pukul 5 pagi, saya tidak harus segera bangun karena hari ini bukan jadwal ke kolam renang, jadi saya masih punya waktu setidak-tidaknya 1 jam. Saya memutuskan untuk kembali memejamkan mata sesudah meraih Levothyroxine, obat thyroid yang harus saya makan setiap hari ketika perut masih kosong. Obat ini akan menemani saya untuk seterusnya, selama sisa hidup. Sambil memejamkan mata saya berusaha terus menikmati kehangatan kamar dibawah selimut yang tebal. Saya tahu di luar akan sangat dingin, karena menurut ramalan cuaca, suhu di luar setidak-tidaknya sedikit dibawah angka nol. "Hmm.... seandainya saja saya bisa terus berbaring hingga matahari tinggi. Alangkah nikmatnya." Pikir saya.

Saya tidak tahu kapan Nina beranjak, sebab saya kembali terlelap ketika tadi terbenam dalam lamunan sambil menikmati kehangatan kamar dimana saya telah menggunakannya hampir setiap hari untuk beristirahat setidak-tidaknya selama lebih dari 7 tahun. Saya kembali meraih jam tangan di samping dengan sedikit susah payah. Tirai kamar masih tertutup rapat walau dari celah-celah di samping saya sudah bisa memastikan di luar sudah mulai terang. Suara air di talang masih terus terdengar. Sejak semalam memang diramalkan akan turun hujan. Ini juga yang membuat saya malas bergerak. Membayangkan harus keluar rumah dalam cuaca sangat dingin dan diguyur hujan, membuat tubuh ini terus menuntut untuk tetap berbaring di bawah selimut yang hangat.

Sepertinya Nina sudah hampir selesai di kamar mandi, Saya terpaksa bangkit dan segera memberaskan tempat tidur, merapihkan selimut dan menutup pembaringan dengan dengan comforter yang tebal. Lalu saya bergerak ke jendela untuk membuk tirai agar matahari bisa segera masuk. Tirai saya buka perlahan-lahan lalu mata saya membesar dan saya tercengang. Di luar semua putih, rumput-rumput yang akhir-akhir ini sudah berubah menjadi hijau dan subur lenyap tertutup lapisan putih. Pohon-pohon yang mulai memunculkan tunas daun-daun muda yang kecil dan berwarna hijau muda juga kehilangan warnanya karena sekarang menjadi putih, termasuk dahan-dahan serta ranting-rantingnya.

"Wah... ini kejutan!" Kata saya dalam hati. Saya tidak menyangka hari ini akan bersalju. Menurut ramalan, salju baru akan turun hari Sabtu nanti, itupun kemungkinannya hanya 50% yang biasanya jika hanya segitu probabilitasnya, maka tidak akan terjadi. Hari ini seharusnya hanya akan turun hujan, tapi ternyata ramalan sedikit meleset, walau tentu saja saya lebih menyukai salju daripada diguyur hujan.


Semesta memang nakal. Setiap kali turun salju saya selalu mengatakan pada diri sendiri bahwa ini kemungkinan besar adalah salju saya yang terakhir. Musim semi sudah berjalan selama 1 bulan, suhu udarapun sudah semakin hangat, hari-hari terakhir bahkan sudah mencapai 25 derajat Celcius. Saya mulai banyak berkeringat ketika berjalan kaki. Memang di Colorado salju masih suka turun bahkan hingga bulan Juni menjelang musim Panas. Tapi beberapa tahun terakhir semakin jarang terjadi. Jadi tidak mengherankan jika saya terkejut. Semesta memang seperti sedang bermain-main dengan perasaan saya. Sesungguhnya saya tidak ingin musim Semi dimulai, saya tidak mau musim panas menyambut. Yang saya inginkan adalah waktu berhenti dan tidak bergerak agar saya bisa terus menikmati saat ini tanpa henti. Oleh sebab itu ketika turun salju yang biasanya identik dengan musim dingin saya sangat berbahagia. Ketika beberapa waktu yang lalu salju turun dada saya berbunga-bunga. Itu yang saya alami minggu lalu ketika berada di Glenwood Spring. Sementara di Fort Collins, kota tempat saya tinggal, sudah lama tidak melihat salju. Saya sudah berhenti berharap dan berusaha berdamai bahwa saat-saat akhir petualangan saya di sini memang semakin mendekat.


Bayangkan seperti ketika kita berusaha ingin melepaskan sesuatu, tapi kemudian lagi-lagi kita digoda untuk tetap menggenggamnya. Bagaimana perasaan kita saat itu? Seperti misalnya ketika berusaha menjauhi kopi, tapi setiap kali kita sudah bergerak menjauh, lagi-lagi harum aroma kopi membelai hidung kita. Tidakkah itu membuat kita sulit bergerak menjauh? Sesuatu yang menyenangkan memang sulit untuk dilepas. Seperti halnya juga hidup keseharian saya di sini. Ini sudah menjadi rumah saya yang kesekian, dan sudah menjadikan bagian dari sejarah kehidupan saya. Nah ini sangat sulit untuk dilepaskan begitu saja. Semesta sepertinya memang senang menggoda! Ini akan menjadi sebuah akhir yang sulit untuk dihadapi. Tapi begitu lah hidup, tidak ada yang abadi, perubahan tidak pernah bisa kita hindari.