AES 1247 Yang Kreatif Dan Yang Tidak
joefelus
Monday November 18 2024, 8:15 PM
AES 1247 Yang Kreatif Dan Yang Tidak

"Wah pak Jo, kok renovasinya ga selesai-selesai. Uangya belum habis?" Tanya gerombolan ibu-ibu yang setiap pagi berolahraga.

Di kompleks saya memang setiap pagi ada banyak ibu-ibu yang berjalan kaki. Kompleks saya itu cul de sac, dari jalan utama masuk kompleks kami hanya paling sekitar 150 meter dan jalannya menurun. dari jalan utama hingga depan rumah saya saja sudah 12 meter kalau ditarik garis lurus dari atas ke bawah, lumayan curam, sementara saya terhitungnya masih ditengah-tengah dan masih ada sederetan rumah lagi hingga ke ujung, dan jalannya buntu. Oleh sebab itu saya sebut cul de sac. yang kalau tidak salah adalah bahasa Perancis yang artinya jalan buntu hahahaha.

"Uangnya ga habis-habis tuh, Bu. Mau tahu rahasianya?" Tanya saya. Entah mengapa pagi itu niat iseng saya begitu tinggi.

Ibu-ibu yang lain langsung datang berkerumun. Saya satu-satunya pria di jalan itu yang dikerubuti ibu-ibu, yang sebagian besar sudah manula hahahaha

"Apa rahasianya pak Jo? Kasih tau dong." Kata salah seorang ibu.

"Nah bu, itu tuh... ibu lihat belimbing wuluh di depan rumah saya? banyak khan?" Kata saya sambil tertawa-tawa.

"Emang apa hubungannya dengan belimbing wuluh, pak Jo?" tanya ibu-ibu itu dengan wajah-wajah yang sangat penasaran.

"Nah, gini bu. Ini rahasianya supaya uang tidak habis-habis. Tiap tengah malam, saya ambil beberapa belimbing wuluh yang paling besar." Kata saya sengaja memutus cerita ditengah-tengah, sengaja menggantung supaya mereka tambah penasaran.

"Terus, terus?" Tanya ibu-ibu itu penasaran.

"Nah terus, sebelum ketahuan siapa siapa, saya diam-diam ke dapur. Belimbing wuluh itu saya taruh di tempat beras." Kata saya setengah berbisik agar menambah efek magis dan penuh rahasia di hadapan ibu-ibu itu.

"Haaa? Supaya apa pak Jo?" Tanya ibu-ibu itu semakin penasaran.

Sambil semakin berbisik-bisik saya jawab,"Nah... biasanya besoknya belimbing itu berubah jadi uang!" Kata saya sambil terkekeh-kekeh.

"Aaaaah pak Jo mah.. udah didengerin bener-bener!" Kata ibu-ibu itu sambil tertawa-tawa dan membubarkan diri dari kerumunan dan melanjutkan olah raga mereka.

Saya tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Ibu-ibu manula itu memang seru dan sering saya ajak bercanda. Anehnya mereka tidak pernah kapok-kapok saya kerjai dan saya bercandai. Tidak hanya itu, saya memang senang ngobrol dengan mereka sebab semua update tentang peristiwa-peristiwa di RT dan RW bisa saya peroleh dari mereka. Kalau saya ingin tahu jadwal pengambilan sampah, berapa iurannya dan lain-lain, saya cukup tanya mereka! Satu hal yang dibutuhkan, harus pandai dan kreatif membungkus cerita sederhana dihadapan mereka, sebagai timbal baliknya saya mendapat semua informasi yang saya butuhkan. Mereka terhibur, saya juga bersyukur!

Kemarin saya ke Supermarket untuk belanja kebutuhan mingguan. Karena rumah sedang habis-habisan diperbaiki, akses saya ke dapur juga terbatas. Saya memutuskan mencari kopi instan sehingga hanya butuh air panas saja. Tiba-tiba Nina terkejut dan menarik tangan saya. Dia menunjuk sebuah kantong berwarna hijau dengan tulisan Kopi Rasa Klepon! "Haaaa?" Teriak saya tidak percaya. saya ambil kantongnya dan berusaha membaca dengan seksama. Memang benar tertulis seperti itu. Orang Indonesia memang kreatif, tapi masa sih minum kopi tapi rasanya seperti klepon????

Ternyata, sesudah saya bertanya kepada banyak teman-teman, kopi rasa klepon itu adalah kopi dengan gula aren sebagai pemanis dan menggunakan santan untuk menggantikan susu. Luar biasa sekali bukan? Santan memang sudah lama menjadi alternatif yang digunakan untuk menggantikan susu selain susu kedelai, susu almond dan susu yang dibuat dari oats. Yang membuat saya terkagum-kagum adalah kreativitas mereka dengan menggunakan kata Klepon! Saya sendiri sudah terbiasa sejak pulang ke tanah air minum kopi dengan gula aren dan menggunakan oat milk, jadi saya tidak keberatan mengganti oat milknya dengan santan. Rasanya mungkin lebih mirip bajigur daripada klepon. Saya jadi tertarik dan ingin mencoba.

Nah kemarin malam juga saya pergi ke sebuah restoran kecil yang menjual nasi goreng menggunakan sei. Sei adalah daging yang proses memasaknya dengan proses pengasapan. Entah benar diasap atau tidak, saya tidak tahu, yang jelas memang dagingnya bau asap, walau saya tahu mungkin itu bau asap palsu! eniwei, restoran itu diserbu banyak orang karena semalam adalah hari terakhir diskon 50%. Nah saya dengan Nina bersama seorang sahabat ke sana dan memesan. Katanya akan makan waktu lama sebab ada 20 orang di depan saya. Itu tidak jadi masalah karena saya masih ingin makan ronde. Nah di depan saya ada ibu-ibu yang berusaha membayar dengan Qris tapi tidak berhasil entah karena apa lalu diijinkan membayar dengan uang tunai. Mengetahui itu saya yang tidak memiliki rekening tabungan di tanah air merasa lega dan bisa membayar dengan tunai.

Ternyata kelegaan saya tidak beralasan. Kekisruhan terjadi karena pihak kasir tetap ngotot tidak mau menerima pembayaran tunai yang saya berikan walau sudah saya jelaskan bahwa saya tidak memiliki rekening bank. Kalau si ibu tadi bisa membayar tunai karena tidak bisa menggunakan Qris, lalu apa bedanya dengan saya yang tidak mempunyai rekening bank? Saya marah besar dan meninggalkan kasir itu. Restoran itu baru saja kehilangan seorang pelanggan. Ternyata saya bukan satu-satunya orang yang marah, beberapa waktu kemudian dua orang ibu-ibu yang mengerutu dengan sebal karena entah masalah apa dan mereka berdua juga meninggalkan restoran itu.

Usaha dibidang makanan dan minuman membutuhkan kreativitas. Lihat saja ke sekeliling kota Bandung, ada ratusan restoran yang menawarkn berbagai kreativitas dari mulai jenis makanan, desain restoran hingga nama yang mereka gunakan. Tapi itu saja tidak cukup jika pelayanan mereka tidak kreatif. Contohnya restoran tadi. Saya katakan pada sahabat yang pergi bersama saya tadi malam, jika mereka tetap mempertahankan cara melayani pelanggan semacam itu, saya beri waktu tidak lebih dari 1 tahun, restoran itu tidak akan mampu bertahan lama. Usaha makanan dan minuman harus berusaha semaksimal mungkin, harus kreatif dan memberikan pelayanan yang baik sehingga pelanggan merasa senang, bahkan jika seandainya mereka harus menunggu sangat lama. Tapi dengan cara seperti mereka ini, jangankan menunggu lama, mendatangi saja sudah enggan. Seperti misalnya saya. Saya katakan bahwa saya tidak akan pernah kembali lagi ke sana. Sayang bukan?

Foto credit: ajaib.co.id

You May Also Like