Penggabungan genre musikal ke dalam dunia gelap dan kelam Joker terasa seperti memadukan air dan minyak. Nuansa ceria dan penuh semangat dari musikal bertolak belakang dengan atmosfer kelam dan psikologis yang dibangun di film pertama. Hasilnya adalah sebuah disonansi yang mengganggu dan mengalihkan perhatian dari cerita utama.
Joker adalah simbol kekacauan dan kegilaan. Menempatkan karakter seperti itu dalam sebuah musikal terasa tidak sesuai. Karakter Joker yang penuh penderitaan dan kemarahan tidak cocok dengan iringan musik yang ceria dan penuh harapan. Ini seperti mencoba membuat lelucon tentang tragedi.
Awalnya, Joker: Folie à Deux begitu menjanjikan. Pembukaannya yang unik membangkitkan harapan besar. Namun seiring berjalannya cerita, harapan itu perlahan memudar dan berubah menjadi kekecewaan mendalam. Penulisan cerita yang lemah membuat film ini kehilangan arah dan tidak mampu mempertahankan kualitas yang sudah dibangun di film pertama. Rasanya seperti sebuah janji manis yang akhirnya menguap begitu saja.
Jika Joker di film pertama adalah sosok yang kompleks dan penuh nuansa, Joker di Folie à Deux terasa lebih dangkal. Fokus pada kisah cintanya dengan Harley Quinn justru menghancurkan sisi gelap dan misterius yang membuat karakternya begitu ikonik. Rasanya seperti kita melihat sebuah parodi dari Joker yang sebenarnya.
Perubahan karakter Joker dari seorang badut yang terasing menjadi seorang kekasih yang penuh kasih sayang terasa terlalu dipaksakan. Hal ini membuat karakternya kehilangan keunikan dan daya tariknya. Joker yang kita kenal adalah sosok yang penuh misteri, bukan seorang kekasih yang romantis.
Penggunaan elemen musikal dalam Joker: Folie à Deux awalnya cukup megah dan menyenangkan. Alih-alih memperkaya cerita, justru menjadi beban yang menghambat perkembangan plot. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Joaquin Phoenix dan Lady Gaga terasa tidak relevan dan mengganggu alur cerita yang sudah serius. Adegan-adegan musikal yang terlalu sering muncul terasa dipaksakan dan tidak sesuai dengan tone film.
Walaupun keberadaan adegan musikal sering diperdebatkan, tidak dapat dipungkiri bahwa Todd Phillips dan timnya telah menciptakan visual yang sangat indah melalui pemilihan musik yang pas dan pengambilan gambar yang berkualitas tinggi. Anggaran produksi yang besar dimanfaatkan dengan sangat baik untuk menghasilkan tampilan visual yang memukau dari awal hingga akhir film.
Joker: Folie à Deux merupakan sebuah percobaan ambisius yang berhasil menghadirkan visual yang memukau namun terkendala oleh plot yang kurang dan karakterisasi yang tidak sekuat pendahulunya. Film ini berhasil membangkitkan perdebatan sengit di kalangan penonton dan kritikus, dengan beberapa memuji keberaniannya dalam bereksperimen dan yang lainnya menganggapnya sebagai sebuah langkah mundur.
Meskipun film ini memiliki kekurangan, namun keberadaannya tetap memperkaya dunia perfilman dan memancing diskusi yang menarik tentang batas-batas kreativitas dalam pembuatan film.