Teman-teman yang budiman, telah satu bulan berlalu tanpa sebaris pun kata kutuangkan di sini. Mohon maafkan aku yang diam, bukan karena tak ada yang bisa diceritakan melainkan karena aku sendiri telah kehilangan daya untuk menyusun huruf menjadi suara.
Menulis kadang bukan perkara ingin atau tidak ingin, tapi perkara bisa atau tidak bisa. Dan selama satu bulan itu, aku merasa tak sanggup. Seperti seseorang yang kehilangan pegangan di tengah arus deras: tahu harus berenang, tapi tak kuasa menggerakkan tangan.
Namun waktu seperti biasa, terus melangkah tanpa menoleh. Libur telah usai, libur yang membawaku pada tawa-tawa yang hangat sekaligus letih. Libur yang akan kuceritakan lain hari. Kini sekolah menyambut lagi, dan aku datang bukan sebagai aku yang sama.
Kali ini ada yang berbeda, banyak wajah baru di KPB. Muda, segar, penuh tanya dan semangat. Dulu pada masa MPLS, aku memberi mereka tebak-tebakan. Sebuah cara sederhana untuk menyambut dengan hangat. Tapi tahun ini aku ingin lebih, aku ingin membuat mata mereka membelalak bukan sekadar tersenyum. Maka aku belajar sulap, ya, sulap. Latihan seharian, berkeringat, dan berkali-kali gagal tapi saat hari itu datang aku berdiri di hadapan mereka dan semua lelah itu lunas. Sulapku berhasil, mereka bersorak. Aku menang, setidaknya atas diriku sendiri.
Dari sekian wajah baru yang kulihat hari itu, ada satu yang memaku pandangku lebih lama dari yang lain. Bukan karena keindahan parasnya, tapi karena sesuatu yang belum kutemukan namanya. Mungkin hanya mungkin, itulah yang disebut bibit. Bibit cinta, seperti yang sering ditertawakan oleh teman-teman.
Namun kisah ini belum sampai di situ. Esoknya, kami pergi ke Taman Sejarah. Tempat yang biasa saja bagi banyak orang, tapi menjadi berbeda bagi kami yang mencarinya dengan mata baru. Di sana, aku bersama beberapa teman-teman berjalan bukan sekadar melangkah, tapi menjelajah. Kami menyapa orang-orang, bertanya dengan tulus, mendengarkan kisah-kisah kecil dari penjaga taman, orang yang sedang menunggu harapan, dan seorang anak kecil yang tertawa di balik pepohonan.
Hari itu aku sadar, memulai lagi tak harus menunggu ilham besar. Kadang cukup dengan keberanian kecil: menampilkan sulap, menyapa orang asing, atau sekadar datang dan hadir di tengah kehidupan yang terus berjalan.
Kehidupan tak pernah menunggu siapa pun, tapi ia selalu memberi kesempatan bagi mereka yang mau mulai kembali. Dan hari itu, aku dengan segala keraguan dan ketidaksiapantelah memulainya lagi.