AES179 Menghindari Rasa Sakit
carloslos
Saturday May 9 2026, 7:31 AM
AES179 Menghindari Rasa Sakit

Halo teman-teman yang budiman. Jika kemarin saya membahas soal kehilangan, maka kali ini saya ingin sedikit berbicara tentang sesuatu yang mungkin terdengar berat, padahal sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: bagaimana manusia menghindari rasa sakit.

Belakangan ini saya banyak memikirkan satu filsafat bernama Epikureanisme. Kalau disederhanakan, filsafat ini berbicara tentang mencari ketenangan hidup dan menghindari penderitaan yang tidak perlu. Bukan soal hidup mewah seperti yang sering disalahpahami orang, melainkan hidup yang tenang, tidak banyak konflik, tidak banyak kekacauan batin.

Dan entah kenapa, saya merasa di fase KPB ini saya semakin dekat dengan cara berpikir seperti itu.

Saya mulai lebih suka menghindari hal-hal yang membuat kepala berisik. Menghindari pertengkaran, tekanan, drama, bahkan kadang menghindari kesempatan yang sebenarnya baik hanya karena saya takut hasil akhirnya menyakitkan. Rasanya saya hanya ingin hidup tenang, pulang sekolah tanpa masalah, mendengar musik tanpa gangguan, menulis tanpa tuntutan.

Mungkin terdengar damai. Tapi lama-lama saya sadar, terlalu lama hidup dengan hanya mengejar ketenangan juga bisa membuat seseorang takut bergerak.

Saya jadi takut mengambil risiko.

Takut gagal.
Takut kecewa.
Takut salah langkah.

Padahal hidup tidak pernah benar-benar tenang. Bahkan laut yang terlihat diam pun menyimpan arus di bawahnya.

Karena itu saya mulai merasa, mungkin saya perlu sedikit “menyalakan” sisi Stoik dalam diri saya. Bukan untuk menjadi manusia dingin yang tidak punya perasaan, tapi untuk belajar menghadapi rasa sakit tanpa selalu lari darinya.

Stoikisme mengajarkan bahwa hidup memang keras, dan tidak semua hal bisa kita kontrol. Orang bisa pergi, harapan bisa gagal, rencana bisa hancur dalam satu malam. Tapi manusia tetap harus berjalan.

Dan saya rasa, di situlah saya sekarang berdiri: di antara Epicurus (Epikurean) dan Marcus Aurelius (Stoik). Di antara ingin hidup tenang, tapi juga sadar bahwa bertumbuh sering kali membutuhkan ketidaknyamanan.

Mungkin menjadi dewasa memang seperti itu. Bukan memilih salah satu sepenuhnya, melainkan belajar kapan harus beristirahat dan kapan harus bertahan.

Karena menghindari rasa sakit memang manusiawi.
Tapi hidup sepenuhnya tanpa keberanian, mungkin juga bukan hidup yang utuh.