Halo teman-teman yang budiman, pada kesempatan ini saya ingin sedikit menjelaskan mengenai proyek buku yang sedang saya kerjakan. Novel itu, ironisnya, bercerita tentang manusia-manusia yang sakit. Dan lucunya, saya yang masih seusia ini justru mencoba menulis tentang mereka—tentang tubuh yang melemah, tentang pikiran yang lelah, tentang orang-orang yang setiap harinya hidup berdampingan dengan rasa sakit.
Awalnya saya berpikir: apa saya cukup pantas menulis hal seperti itu? Karena sakit bukan sesuatu yang sederhana. Ia bukan cuma demam, obat, rumah sakit, atau angka pada hasil pemeriksaan. Sakit adalah pengalaman manusia menghadapi keterbatasannya sendiri. Saat tubuh mulai berkata “cukup,” meski kepala masih ingin terus berjalan.
Buat saya, sakit adalah pengingat. Pengingat bahwa manusia bukan mesin yang bisa dipaksa terus menyala. Kita bisa lelah tanpa alasan jelas. Bisa rapuh di hari yang terlihat biasa saja. Dan yang paling menakutkan: kita sering tidak tahu kapan rasa itu akan hilang.
Kadang sakit berarti tubuh meminta istirahat. Tapi di lain waktu, sakit juga terasa seperti pertanda bahwa sesuatu sedang menuju akhirnya. Sebab dalam hidup manusia, sakit dan kematian sering berdiri berdekatan, seperti dua hal yang saling mengenal terlalu lama.
Namun semakin saya menulis novel ini, semakin saya merasa bahwa sakit bukan cuma tentang penderitaan. Sakit juga tentang penyembuhan.
Orang-orang yang sakit membutuhkan obat. Itu jelas. Tapi anehnya, orang-orang yang merasa dirinya sehat justru sering lupa menjaga dirinya sendiri. Mereka membutuhkan “vitamin”—bukan hanya untuk tubuh, tapi juga untuk hidupnya. Sedikit ketenangan, sedikit perhatian, sedikit waktu untuk bernapas sebelum semuanya terlambat.
Karena manusia sering baru sadar pentingnya sehat setelah kehilangan sehat itu sendiri. Dan mungkin di situlah sakit menjadi penting: ia membuat kita melihat kerentanan kita sendiri. Kita jadi sadar bahwa tubuh bisa gagal. Pikiran bisa runtuh. Hati bisa kelelahan. Semua hal yang selama ini kita anggap kuat ternyata bisa retak juga.
Setelah menulis tentang orang-orang sakit, saya mulai merasa bahwa sakit sebenarnya adalah siklus yang berulang. Ia tidak punya tanggal pasti di kalender. Tidak ada manusia yang bisa benar-benar menjadwalkan kapan dirinya akan jatuh dan kapan dirinya akan pulih.
Bahkan untuk sembuh pun, kita sering tidak tahu kapan waktunya. Ada orang yang tubuhnya sembuh cepat, tapi batinnya tertinggal lama. Ada pula yang terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam masih berperang dengan dirinya sendiri.
Dan mungkin memang begitu hidup bekerja.
Kita sakit.
Kita mencoba sembuh.
Lalu suatu hari kita kembali rapuh lagi.
Bukan karena manusia lemah, tapi karena menjadi manusia memang berarti hidup berdampingan dengan kemungkinan untuk terluka.