Jika kita bisa menghapus satu hal di dunia ini, Apa yang akan kita hapus?
Saya barusan membaca sebuah feed di media sosial oleh salah satu teman saya, dan yang dia tampilkan adalah pertanyaan itu. Lalu saya iseng-iseng buka respon dari orang-orang yang membaca. Ternyata feed itu diambil dari salah satu unggahan di media sosial lain yang berbasis di Amerika. Tanggapan pertama yang saya baca adalah Hate! Ini saya suka, sebab banyak sekali masalah yang terjadi di dunia karena masalah kebencian. Mungkin akan saya bahas belakangan. Saya baca beberapa tanggapan yang lain dan akhirnya saya menjadi muak karena justru yang saya lihat adalah masalah kebencian yang diumbar di sini karena perbedaan pendapat soal politik.
Ya kebebasan berpendapat di Amerika seringkali diumbar sehingga hampir tidak ada rambu-rambu yang jelas karena semua merasa dilindungi oleh konstitusi yang menjamin kebebasan mengekspresikan diri. Sangat berbeda dengan di tanah air yang kalau mengungkapkan pendapat pribadi sering berujung dengan keruwetan karena kemudian dituntut di meja hijau karena dianggap mencemarkan nama baik, atau bahkan digebuki dan ditelanjangi karena berbeda pendapat seperti baru-baru ini terjadi. Dua-duanya ngaco menurut saya, yang satu bebas mengungkapkan pendapat tanpa ada rambu-rambu dan batasan yang sehat, yang kedua dihajar, dan dituntut karena punya pendapat yang berbeda. Pusing!
Saya beberapa kali menulis tentang kebebasan, tentang perbedaan, dan tentang ketakutan. Ketiga hal ini sering menjadi biang keladi masalah yang terus menerus terjadi di masyarakat. Kebebasan disalahgunakan, itu terjadi setiap detik. Mungkin karena ketidakmengertian. Sebelum adanya internet mungkin agak lebih nyaman sebab orang tidak seenaknya mengumbar pendapat mereka di depan umum karena banyak alasan. Sekarang semua bebas berbicara karena merasa ada anonymity. Orang bisa "bersembunyi" dibalik kecanggihan teknologi walau sebetulnya bisa saja dilacak tapi berapa milyar orang melakukan itu?
Perbedaan, nah ini jadi konflik di mana-mana walau sebetulnya perbedaan itu merupakan sesuatu yang indah. Kita hidup secara kolektif karena saling membutuhkan. Saling membutuhkan karena kita berbeda. Jika semua sama, kebutuhan sama, kekurangan sama, maka kita sulit hidup secara kolektif bahkan saling berebut dan cakar-cakaran karena semua menginginkan hal yang sama. Kita saling membutuhkan karena orang lain memiliki yang kita butuhkan demikian juga sebaliknya kita bisa memberikan yang kita miliki yang dibutuhkan orang lain. Sempurna bukan? Itu teorinya! Kenyataannya tidak selalu sama dengan teori.
Perbedaan menjadi ancaman karena banyak kalangan yang memiliki keterbatasan pengetahuan. Itu tampak secara jelas jika kita membaca komentar orang-orang di media sosial. Mereka memanfaatkan kebebasan berbicara dan anonymity lalu mengungkapkan pendapat mereka yang sangat minim bobot pengetahuan dan lebih secara emosional. Bisa dimaklumi dan seharusnya bisa diabaikan saja, tapi masalahnya, yang menanggapi pendapat recehan ini ya kelompok yang juga sama-sama minim pengetahuannya. Saya setuju dengan yang diungkapkan oleh Pak Habibi: "Kamu bisa mengalahkan 30 orang pintar dengan 1 fakta, tapi kamu tak bisa mengalahkan 1 orang bodoh dengan 30 fakta sekalipun!" Ya di sini sudah terlihat bahwa permasalahan yang timbul karena minimnya pengetahuan dan pendidikan.
Ketidakmengertian mengakibatkan ketakutan. Ini benar adanya. Kita takut dalam gelap karena kita tidak tahu dan tidak dapat melihat sekeliling kita. Ketakutan itu baik karena merupakan rambu-rambu agar lebih berhati-hati dalam bertindak agar tidak terjerumus. Masalahnya seringkali penyaluran dari rasa takut itu ke arah yang destruktif. Harusnya karena kita takut, ini adalah tanda bahwa kita butuh mengerti. Mengapa kita takut, karena tidak tahu, tidak mengerti dan khawatir dengan apa yang kita sedang hadapi. Belajar untuk tahu maka rasa takut itu dengan sendirinya akan terjawab. Tapi pada kenyataannya, yang sedang ketakutan bergabung dengan orang-orang yang memiliki kondisi yang sama, lalu jadilah kekacauan. Rasa takut berkurang karena banyak orang yang senasib, lalu mengganti kata takut dengan kata yang lebih keren,"perjuangan". Misalnya ada yang merasa tidak beruntung karena keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan lalu mencari kambing hitam dan menjatuhkan permasalahan mereka pada kelompok yang jauh lebih berhasil. Ini foto kenyataan di masyarakat. Kecemburuan sosial ditambah dengan keterbatasan pendidikan dan keterampilan menimbulkan permasalahan yang rumit, lebih repot lagi jika kemudian disetir oleh kelompok yang mempunyai tujuan politik. Nah ramailah jadinya. Ini terjadi di mana-mana, tidak hanya negara miskin, negara berkembang tapi juga di negara maju.
Sekarang kembali ke pertanyaan awal, jika bisa menghapus satu hal di dunia ini, apa yang anda akan pilih? Kebencian? Kebodohan? Masalah? Sulit saya memilih. Tapi yang jelas saya tidak akan memilih masalah. Masalah itu bagus untuk mempertajam hidup. Kita harus menghadapi masalah agar menjadi lebih baik. Orang yang hidup tanpa masalah maka akan menjadi dangkal, menjadi tumpul dan buat saya hidup menjadi membosankan. Justru hidup akan menjadi lebih berharga dan membahagiakan jika kita menghadapi masalah serta mampu menyelesaikannya.
Kebencian. Ini menjadi biang keladi banyak kerusuhan, kehancuran dan penderitaan. Lihat saja sejak tragedy twin towers di New York tahun 2001 dimana hampir 3000 orang menjadi korban, belum di berbagai tempat di seluruh dunia. Semua terjadi karena kebencian. Pertentangan antara kepercayaan, politik, warna kulit, gender terus berlangsung dan berujung dengan kesedihan. Perbedaan orientasi politik, dan agama sering menjadi konflik. Perbedaan warna kulit dan gender menjadi banyak masalah. Perbedaan mengerucut menjadi kebencian. Kadang-kadang walau terdengar absurd, lagu The Beatles, Imagine itu akan sangat indah bila terwujud. Hidup dalam damai, tidak saling membenci dan bertentangan karena perbedaan.
Imagine all the people
Livin' life in peace ....
You may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope someday you'll join us
And the world will live as one
Akhirnya, saya tetap tidak bisa memilih mana yang bisa dihapus. Tapi saya tahu apa yang saya inginkan: "kedamaian", peace and so the world will live as one!***
Wow... esai yang keren Joe. Terima kasih sudah berbagi. ππΌπ