Saya duduk sendirian d kamar rumah sakit, berusaha mengalihkan pikiran dan perhatian saya pada televisi. Saya pilih program memasak dari Food Network, Beat Bobby Flay. Dada saya terus menerus berdebar-debar. Nina sedang menjalani prosedur yang bernama ERCP yang merupakan singkatan dari Endoscopic Retrorade Cholangiopancreatography, yaitu prosedur untuk pengangkatan batu empedu melalui mulut. Jadi menggunakan alat yang sangat halus dan delicate melalui mulut memasuki tenggorokan hingga mencapai daerah dekat pankreas lalu membersihkan saluran empedu yang tertutup batu.
Semakin banyak membaca tentang ERCP saya menjadi semakin khawatir. Tapi itu semua bukan hal yang menakutkan dibandingkan informasi yang saya terima beberapa waktu yang lalu sebelum Nina masuk ruang operasi. Saya akan berbagi cerita nanti.
"Doc, can I go home tonight? I prefer to stay home than staying here." Tanya Nina tadi malam ketika kami berdua masih duduk di salah satu kamar di ER, di unit gawat darurat.
"No, you have to stay overnight. You are sicker than you think you are." Kata dokter semalam dan beliau berkata begitu lebih dari satu kali.
Sepanjang hari kami menghabiskan waktu setidak-tidaknya di 3 rumah sakit. Saya sudah cerita ini kemarin dan sepulang dari MRI kami terlalu lelah karena malam sebelumnya kami hampir tidak tidur sehingga kami jatuh tertidur. Dokter berusaha menelepon kami sepanjang sore hingga mulai malam hari. Tujuannya menyuruh Nina masuk ER. Itu semua akhirnya terlaksana.
Saya bekerja hybrid. Jadi pagi saya sibuk di kantor lalu sesudah makan siang saya ke rumah sakit dan melanjutkan pekerjaan saya di situ. Siang tadi Nina bercerita yang membuat saya begitu shock. Ternyata kemarin itu Nina terkena sepsis. Jadi karena banyak batu empedu yang menutup saluran kelenjar empedu mengakibatkan infeksi, dan infeksi begitu parah sehingga terjadi sepsis. Sepsis itu sangat fatal jika tidak langsung ditanggulangi dan butuh waktu sekitar 12 jam untuk sampai pada taraf sangat berbahaya yang bisa merengut jiwa. Sepsis ini jika tidak cepat ditangani akan mengakibatkan Septic-shock dan akan mengalir ke blood stream dan mengakibatkan organ failure. Nina ternyata sudah mendekati tahap itu, oleh sebab itu dokter tanpa henti menelepon kami sejak sore hingga malam agar segera masuk ER.
Tadi pagi saya sempat mampir ke rumah sakit, Nina sudah masuk ICU, tubuhnya langsung dibomb dengan antibiotik untuk menanggulangi infeksi itu. Prosedur pengangkatan batu empedu baru dilakukan sore hari. Karena kami terinfeksi Covid juga, maka saya langsung diusir tidak boleh berada di rumah sakit, baru sore hari saya bisa kembali sesudah "tawar-menawar" dengan pihak rumah sakit sebab kami sebetulnya sudah tidak menular.
"Your Doctor actually saved your life!" Kata dokter primary Nina. Saya sendiri bingung karena banyak sekali dokter yang terlibat. Sejak hari Senin hingga hari ini saya sudah melihat mungkin 6 atau 7 dokter. Di ER perawat saja saya hitung lebih dari 10 orang yang membantu menangani Nina. Dokter kemarin tanpa lelah, sabar dan pantang putus asa menelepon kami. Bayangkan jika kami terus tertidur dan tidak membawa Nina ke ER, dokter bilang tanpa ragu-ragu,"You may have been gone!"
"You are sicker than you think you are" Itu perkataan dokter di ER yang sebetulnya sangat halus. Kenyataanya lebih serius dari itu. Malam itu kami masih tertawa-tawa, bayangkan jika dokter mengatakan dengan terus terang, mungkin saya tidak akan bisa berfungsi karena begitu khawatir. Itu yang saya rasakan ketika Nina dibawa ke ruang operasi sore tadi. Saya berusaha mengalihkan perhatian dengan menonton acara memasak. 1 jam terasa sangat lama sekali. Saya baru dapat bernapas lega ketika pintu kamar terbuka dan Nina yang masih berbaring di tempat tidur didorong masuk. "Everything went well!" Kata perawat bagian operasi yang berpakaian seragam maroon. Nina masih akan tetap di rumah sakit 2 hari lagi. Dokter sedang berusaha menganalisa apakah antibiotik yang digunakan cukup ampuh untuk bakteri yang mengakibatkan infeksi ini, sebab ternyata memang bakteri sudah mulai meracuni darah. Statistik mengatakan 30% pasien meninggal gara-gara sepsis. Nina termasuk sangat beruntung karena dokter-dokter di sini begitu profesional. Malam ini mungkin hasil penelitian laboratorium keluar, jika hasilnya baik. Maka Nina akan pulang besok dan bisa melanjutkan antibiotik di rumah, saat ini semua antibiotik masih melalui infus.
Foto credit: visualpharm.com
Waduh. Turut prihatin Joe. Semoga Nina segera pulih ya dan masalahnya sudah teratasi. πππΌππΌ
Terima kasih @kak-andy. Nina sudah diperbolehkan pulang. Ini pengalaman yang paling mencekam yang pernah saya alami selama hidup. Ini juga menjadi pengalaman spiritual, saya akan cerita ringan saja di esai berikutnya.
Bang @joefelus semoga proses pemulihannya mba nina lancar dan cepat ya. π
Terima Kasih.