Sebentuk kegelisahan membawaku ke sini. Seperti pengembara yang ingin pulang, aku terdorong menuju ruang ini. Seperti awan menggantung di kepala, kilasan ulang peristiwa, barisan kata yang tergiang berkumpul layaknya mendung. Seolah berebut saling mencocokkan diri, kepingan demi kepingan beradu, dipertemukan dan berpasangan di ruang logika hingga sesekali ikut menciutkan dahi. Terasa riuh dan penuh berdesakan ingin membual keluar tapi karena bukan ke situ arah bukaannya maka tak bisa.
Baiklah... mari sini duduk yang tenang bersamaku di sini...
Hai nama.... Ada apa dengannya? Helo tubuhku... Mengapa kamu seperti maumu sendiri saja tak pedulikan aku ? Otak... oh kamu, yang diam dan berceceran dimana-mana, kupunguti kamu nanti satu persatu, tunggu giliranmu. Mulut... ah kata-katamu meluncur keluar seperti turun dari perosotan lalu terbang ke udara dan jatuh ke mana kau suka. Wajah... ya raut, kamu harus tampil rupanya, lengkap dengan kernyit, seringai sampai air mata. Baiklah...
Dendang semesta yang berkumandang sejak kaki pertama tak mungkin terlupa. Ke empat penjuru kujumpai malaikatku dengan dada yang terbungkuk rendah. Bumi dan langit menyatu hari itu. Dalam jarak terdekatnya Ia membungkus bagai selimut, memberi kehangatan dalam keheningan.
Aku di sini menyapaMu, dalam suara tanpa kata, dalam raut tak berwajah dan dalam nama yang tak berarti. Sujudku berserah pada lautanMu yang tak bertepi. Aku di sini menanti sabdaMu hari ini.