AES193 Menulis Kanji
carloslos
Saturday August 15 2026, 5:02 PM
AES193 Menulis Kanji

Halo teman-teman yang budiman, terpantau sudah satu bulan lamanya saya tidak menulis di Ririungan seperti biasanya. Bukan karena tidak ingin menulis, tapi barangkali karena saya sedang menunggu sesuatu yang cukup menarik untuk dituliskan dalam sebuah esai. Sebab bagi saya, menulis tanpa bahan yang benar-benar terasa dekat sering kali hanya menjadi kegiatan memindahkan kata, bukan memindahkan rasa.

Kali ini saya ingin sedikit membagikan kegiatan saya di waktu luang. Lebih tepatnya, kegiatan yang muncul kemarin saat di sekolah. Karena suasana sekolah sedang cukup lowong, saya akhirnya mencoba melakukan sesuatu yang sudah lama membuat saya penasaran: menulis kanji.

Ya, saya tahu, dalam menulis kanji sebenarnya ada aturan goresan. Goresan mana yang harus didahulukan, arah mana yang benar, dan bagaimana sebuah karakter dibentuk dengan urutan yang rapi. Dalam bahasa yang lebih sederhana, kanji bukan hanya soal hasil akhir, tapi juga soal proses menuju bentuk itu sendiri.

Namun seperti biasa, saya tidak langsung menempuh jalan yang paling tertib. Saya mencoba menulisnya dengan intuisi. Ada bagian yang terasa seperti menebak-nebak. Ada goresan yang mungkin salah urutan.

Ada bentuk yang sedikit miring, terlalu gemuk, atau terlalu kurus. Tapi justru di situlah letak menyenangkannya. Saya seperti sedang berkenalan dengan huruf yang bukan hanya dibaca, tapi juga digambar dengan disiplin.

Setelah beberapa kali mencoba, kira-kira beginilah hasilnya:

Itu adalah hasil latihan saya kemarin, baik di kertas maupun di papan tulis. Dari percobaan pertama, saya mulai menyadari bahwa menulis kanji tidak sesederhana melihat lalu menyalin. Ada tenaga kecil yang harus dijaga. Ada keseimbangan antara tangan, mata, dan kesabaran. Satu garis yang terlalu panjang bisa membuat keseluruhan bentuk terasa aneh. Satu titik yang terlalu jauh bisa membuat karakter itu kehilangan wajahnya.

Lalu pagi harinya, saya mencoba lagi. Anehnya, hasilnya lumayan lebih baik.

Mungkin karena tangan mulai terbiasa. Mungkin juga karena kepala sudah tidak terlalu takut salah. Kadang sesuatu memang baru terlihat berkembang setelah kita memberinya kesempatan kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kebetulan, saya mencoba menulis beberapa nama member dari sebuah grup idol bernama =LOVE. Dan jelas, nama Saito Kiara atau 齋藤樹愛羅 menjadi tantangan paling berat.

Bayangkan saja, dalam satu nama itu ada begitu banyak goresan. Kalau dihitung-hitung, bisa mencapai sekitar delapan puluh goresan. Delapan puluh. Untuk satu nama.

Rasanya seperti bukan sedang menulis nama orang, tetapi sedang membangun bangunan kecil dengan tangan sendiri. Satu per satu garis harus diletakkan, disusun, dan dijaga agar tidak runtuh menjadi coretan yang tidak terbaca.

Saya mencobanya beberapa kali, dan harus saya akui, hasilnya masih jauh dari sempurna. Ada bagian yang terlalu padat, ada yang terlihat kurang hidup, dan ada yang sepertinya hanya bisa dimaklumi sebagai “usaha pertama seorang manusia impulsif.”

Tapi tidak apa-apa. Karena dari kegiatan kecil itu, saya jadi merasa bahwa belajar sesuatu tidak selalu harus dimulai dari niat besar. Kadang ia datang begitu saja. Dari waktu kosong, dari rasa penasaran, dari papan tulis yang menganggur, atau dari nama idol yang entah kenapa terasa menantang untuk ditulis.

Begitulah kegiatan impulsif saya kemarin. Tidak terlalu penting mungkin, tapi cukup menyenangkan untuk diingat.

You May Also Like