Ini jadi renungan saya yang terakhir untuk rangkaian kali ini.
Ketika saya bangun pagi ini, saya melihat sebuah iklan tentang Phantom of The Opera. Ini opera Broadway N.Y karya Andrew Lloyd Webber. Beberapa kali ketika saya berkesempatan ke Broadway selalu kehabisan tiket sehingga sampai sekarang saya belum mendapat kesempatan untuk menyaksikan opera ini secara langsung. Yang sudah saya saksikan ya filmnya saja yang dibintangi salah satunya Gerald Butler, Emmy Rossum dan Mini Driver. Lagu-lagunya memang seru seperti Think of Me dan All I Ask Of You. Di film itu saya malah agak terkejut bahwa Gerald Butler ternyata bisa nyanyi hahaha.. Sama terkejutnya seperti ketika menonton Moulin Rouge, saya tak menyangka Ewan McGregor, Nicole Kidman, John Leguizamo dan Jim Broadbent jago menyanyi! Eniwei bukan tentang ini saya ingin menulis tapi tentang penerimaan, acceptance, yang saya peroleh idenya karena melihat iklan opera ini.
Kembali ke iklan Phantom of The Opera. Iklannya ya biasa saja, menawarkan harga diskon kalau tidak salah mulai dari $29 Dollar. Yang menarik justru foto yang ditampilkan, yaitu seorang pria bertopeng (phantom) dan seorang wanita berkulit hitam (saya asumsikan sebagai pemeran miss Christine Daae). Buat saya itu foto yang bagus dan saya sangat hapal ceritanya. Nah sesudah itu saya iseng melihat komentarnya. Di sini saya terkejut karena banyak komentar negatif seperti misalnya. "Changing race? really?" Lalu ada juga yang berkomentar,"There is nothing sacred anymore!"
Saya sangat bingung! Begitu dangkalnya kah orang-orang itu sehingga karya senipun harus diidentikkan dengan warna kulit tertentu? Apa salahnya seorang penyanyi opera yang memiliki warna kulit berbeda? Apakah opera itu harus selalu diperankan oleh orang berkulit putih? Kalau dipikir-pikir opera itu sendiri awalnya dari Italia, bukan "milik" Amerika dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan sacred dan not sacred atau warna kulit dalam karya seni opera! Saya merasa mulai terganggu!
Urusan perbedaan buat saya memang sudah mendarah daging, bukan hal baru. Sejak kecil ketika bermain di tanggul sungai, bermain layangan atau kelereng saya selalu dianggap berbeda! Saya lebih menjadi "korban" perbedaan, dari mulai dikucilkan, dikeroyok banyak orang, di-bully dan sebagainya karena saya berbeda bahkan hingga bangku kuliah ketika berorganisasi saya "dipaksa" mundur karena memang berbeda walau itu tidak membuat saya menyerah dan dapat tetap berkarya dalam organisasi tanpa perlu menyandang atribut yang paling atas, tapi toh saya yang menjalankannya. Why not?, Bukan atribut yang saya utamakan tapi justru aktualisasi diri. Tempaan selama belasan tahun menjadi korban perbedaan akhirnya menghasilkan sesuatu. Kalau mengutip moto dari Navy Seal, "The more you sweat in training, the less you will bleed in battle." Itu benar sekali, atau kalau istilah saya, pejuang yang tangguh itu dihasilkan sesudah melalui banyak rintangan dan penderitaan!
Banyak masalah toleransi yang terjadi di masyarakat. Kebanyakan aktornya adalah orang yang picik dan sulit menerima perbedaan. Menyaksikan banyak hal seperti ini memang sangat mengganggu. Sayangnya kondisi semacam ini memang terjadi di mana-mana, ada yang tidak terlihat di permukaan tapi banyak juga yang terang-terangan. Pertama kali saya tidak tahu bagaimana bersikap. Saya lebih banyak menghindari konflik-konflik semacam ini karena berdasakan pengalaman apapun yang dilakukan sulit sekali mengubah tabiat orang yang sudah dari awalnya begitu. Yang harus diubah adalah bagaimana kita bereaksi.
Saya selalu berpendapat bahwa emosi adalah milik saya sendiri dan saya wajib in control of my own emotion. Saya belajar mengatakan pada diri sendiri bahwa tidak perlu terus menerus merasa jengkel atas apa yang orang lain katakan. Yang mereka katakan adalah urusan mereka sendiri sedangkan bagaimana saya bereaksi adalah merupakan kemampuan saya dalam menanggapi situasi ini. Jangan sampai kebahagiaan saya dikendalikan oleh orang lain karena pada dasarnya saya memiliki pilihan dalam bereaksi. Perlu terus dilatih tentunya.
Hal lain yang perlu terus menerus dilatih adalah selalu aware dan mindful bahwa kita tidak bisa mengontrol sikap orang lain. Yang bisa kita lakukan justru "putting ourselves in their shoes". Mungkin orang-orang tertentu pernah mengalami situasi buruk dengan golongan tertentu sehingga sisa hidupnya dipenuhi dengan penilaian berdasarkan pengalaman itu. Atau mungkin saja orang tersebut sedang memiliki masalah pribadi. Orang yang ketus dan kasar bukan berarti dia bermasalah dengan kita, so don't take it personally. Terima saja sebagai sebuah fakta bahwa memang d dunia ini ada orang-orang semacam itu.
Hukum alam mengatakan bahwa segala sesuatu itu selalu berubah. Dengan mengingat ini, kita bisa diyakinkan bahwa seburuk apapun situasinya, pada saatnya akan berubah menjadi lebih baik. Yang perlu kita lakukan adalah menghadapinya dengan tenang daripada melakukan reaksi yang impulsif yang kemungkinan justru akan mengakibatkan situasi menjadi bertambah buruk.
Sambil berjalan kaki menuju tempat kerja saya berpikir seperti ini. Sekali lagi saya masih harus tetap menghormati pendapat orang bahkan jika salah dan mengganggu, itu hak mereka untuk mengungkapkan pendapat. Saya hanya merasa beruntung tidak termasuk dalam kelompok yang berpikiran dangkal hanya karena berbeda. Tapi saya sadar bahwa saya masih harus banyak belajar agar dapat bereaksi dengan tepat dan bijak.
Cuaca hari ini agak kusam karena sedang ada banyak badai, di kota saya hanya kebagian suhu dingin. Musim semi dengan suhu 3 derajat Celcius masih termasuk normal, di tempat lain ada ribuan anggota masyarakat kehilangan rumah, seperti di Wichita, ada sebiuah tornado yang touched down dan menghancurkan lebih dari 500 rumah dalam waktu kurang dari 1 menit, untung tidak ada korban jiwa hanya beberapa orang terluka ringan.
Saya merapatkan jaket dan terus berjalan sambil mendengarkan musik yang mengalun menemani saya mengakhiri renungan pagi ini dan akan segera bersiap menjalankan aktifitas pekerjaan hari ini. Lumayan juga melakukan renungan selama 4 hari. Mungkin ini akan saya jadikan tradisi hari jadi dan akan saya lakukan setiap tahun. Salam!
***
foto credit: vargacom.com
Dalem nih perenungannya... Matur nuwun. 🙏😇
Iya ni pak @joefelus peringatan hari jadi yang ok banget 👍🏼
Hahaha.. abis ga tau mau ngapain lagi kak. Dah umur segini sih paling ya melamun hahahaha