Halo teman-teman yang budiman, kali ini saya ingin membagikan sedikit pengalaman menggunakan transportasi umum di Bandung. Dalam rentang tiga hari, saya sudah mencoba dua jenis transportasi umum yang sekarang mulai cukup sering terdengar namanya, yaitu bus MJT atau Metro Jabar Trans, dan juga feeder-nya. Buat sebagian orang mungkin ini terdengar biasa saja. Hanya naik bus, hanya naik angkot, hanya berpindah dari satu titik ke titik lain. Tapi buat saya, mencoba transportasi umum di Bandung selalu punya rasa yang sedikit berbeda.
Barangkali karena Bandung sudah terlalu lama dikenal sebagai kota yang indah untuk dikunjungi, tapi sering melelahkan untuk dilintasi. Pertama, saya naik bus MJT Koridor 3 rute Baleendah—BEC. Waktu itu saya naik dari Alun-Alun Bandung dengan tujuan ke sekitar BIP (turun di BEC). Rasanya cukup menyenangkan. Bukan hanya karena akhirnya saya bisa sampai tujuan tanpa harus naik ojek online, tapi juga karena ada perasaan aneh: kapan lagi bisa naik transportasi umum di Bandung yang jalannya melewati ruas-ruas kota yang sebenarnya tidak terlalu besar?
Bandung bukan Jakarta. Jalan-jalannya tidak selalu lebar, tidak selalu siap menampung kendaraan dalam jumlah besar. Tapi justru karena itu, transportasi umum seharusnya menjadi solusi yang lebih masuk akal. Sebab kalau semua orang terus membawa kendaraan pribadi, kota ini bukan bergerak, melainkan tersendat bersama-sama. Dua hari berikutnya, saya mencoba feeder FD-1 rute Simpang Kircon—Pasar Baru ABC. Saya naik dari Taman Cibeunying Selatan dan turun tepat di belakang BIP, di sekitar Jalan Sumatra. Secara pengalaman, sebenarnya cukup enak. Feeder ini terasa seperti bentuk angkot yang lebih tertata. Ia masih membawa rasa angkot, tapi dengan sistem yang lebih jelas dan tujuan yang lebih terarah.
Namun tentu saja, masih ada banyak pekerjaan rumah. Sejauh ini, layanan MJT memiliki enam rute utama bus dan dua layanan feeder. Jumlah ini jelas sudah menjadi awal yang baik, tapi untuk kota sebesar Bandung dan wilayah sekitarnya, rasanya masih belum cukup. Apalagi kalau kita bicara soal kebutuhan warga yang tersebar di banyak titik, bukan hanya di pusat kota. Saya membaca bahwa ke depannya sedang disiapkan pengembangan jaringan BRT dengan 18 rute dan 27 feeder. Menariknya, salah satu rute yang direncanakan adalah BRT-16, yang kabarnya melewati dekat rumah saya. Kalau benar nanti berjalan dengan baik, tentu ini akan sangat membantu. Pulang dan pergi tidak lagi harus selalu bergantung pada ojek daring.
Tapi masalah utamanya, menurut saya, bukan hanya soal menambah rute. Masalah besarnya adalah bagaimana membuat sistem ini benar-benar menjadi prioritas. Saat ini, MJT bagi saya masih terasa seperti transportasi umum non-BRT, karena belum berjalan di jalur khusus seperti TransJakarta. Akibatnya, bus tetap ikut terseret kemacetan bersama kendaraan lain. Kalau jalanan macet, bus ikut macet. Kalau arus kendaraan padat, waktu tunggu ikut terasa panjang. Headway bus dan feeder yang berkisar beberapa menit memang terdengar bagus di atas kertas, tetapi dalam praktiknya tetap bisa terasa lama kalau kendaraan terjebak di jalan yang sama dengan mobil pribadi.
Di titik ini, pemerintah kota dan provinsi perlu bertanya dengan serius: bagaimana caranya membuat orang mau naik transportasi umum? Bahkan lebih spesifik lagi: bagaimana caranya membuat orang kaya mau naik transportasi umum?
Pertanyaan ini mungkin terdengar agak kasar, tapi menurut saya penting. Sebab selama transportasi umum masih dianggap sebagai pilihan terakhir bagi orang yang tidak punya kendaraan, maka ia akan sulit naik kelas. Transportasi umum harus dibuat nyaman, aman, bersih, tepat waktu, dan punya gengsi sebagai pilihan yang rasional, bukan pilihan terpaksa. Saya sangat mengerti kalau banyak orang enggan naik angkot karena citranya yang kumuh, tidak pasti, dan kadang membingungkan. Maka dari itu, kalau feeder ingin menjadi wajah baru angkot, ia harus benar-benar membuktikan bahwa angkot bisa berubah. Bukan sekadar diganti stiker atau namanya, tapi juga sistemnya, kenyamanannya, informasinya, dan keteraturannya.
Bandung sudah terlalu penuh kendaraan. Maka solusi jangka panjangnya bukan terus menambah jalur baru atau melebarkan jalan. Sebab jalan yang dilebarkan sering kali hanya mengundang lebih banyak kendaraan. Kota ini perlu arah yang lebih berani: menjadikan transportasi umum sebagai tulang punggung mobilitas warga. Pengalaman naik MJT dan feeder ini membuat saya merasa bahwa Bandung sebenarnya punya peluang. Sistemnya belum sempurna, masih banyak yang harus dibenahi, tapi setidaknya arah itu mulai terlihat.
Tinggal pertanyaannya sekarang: apakah kota ini benar-benar serius ingin berubah?
Untuk informasi rute, jadwal, dan pengembangan layanan, teman-teman bisa mengecek situs berikut:
kawalbrt.transportforbandung.org
Semoga suatu hari nanti, naik transportasi umum di Bandung bukan lagi dianggap sebagai eksperimen kecil, melainkan kebiasaan yang wajar bagi semua orang.