AES2 Belum Mafhum
DwiY
Wednesday March 30 2022, 7:52 PM
AES2 Belum Mafhum

“Kak, goyang Kak, gempa”!. Salah satu murid menginterupsi saat di awal sesi proyek kelas hendak dimulai. Lampu gantung dalam kelas pun ikut bergoyang ke kanan ke kiri dengan pelan, menandakan pergerakan tanah yang terjadi. Dengan berbekal pengetahuan dasar mengenai mitigasi bencana, kami pun spontan beralih tempat. “Dak dok dak dok”!, suara hentakan kaki silih berganti berasal dari anak tangga yang menunjukkan rasa panik kami menghindari potensi kerugian yang ditimbulkan dari gempa. Sambil membawa sehelai kain batik dengan motif dan warna kreasi mandiri, para murid pun menuju area lapang basket yang berada di bawah berharap keselamatan.

Hari itu kami, kelompok Jamuran, tidak menyangka berkesempatan merasakan gempa ketika berkegiatan luring di sekolah. Kami nampaknya juga termasuk golongan yang belum mafhum menerapkan mitigasi bencana dengan andal. Betapa tidak sebab tas, laptop, bahkan HP kami tinggal begitu saja di ruang kelas di lantai atas. Padahal benda-benda tersebut ialah hal penting, seperti HP contohnya yang bisa digunakan untuk berkomunikasi bila terjadi hal di luar perkiraan. Malah yang kami bawa serta ialah sehelai kain batik. Bisa jadi kain batik itu adalah hal yang sangat penting bagi kami sehingga secara reflek benda itu yang mendapat perhatian.

Respon spontan yang kami tunjukan saat peristiwa gempa yang masih tergolong lemah tersebut dapat ditilik sebagai wujud dari literasi diri. Kami mengenal apa yang menjadi kebutuhan saat itu, yakni diri kami dan kain batiklah yang utama untuk diselamatkan. Sehingga kami mengelola cara agar diri kami aman dan proses guliran jam proyek bisa berlangsung meskipun ada sedikit gangguan. Saat itu nampak ada kekhawatiran dari gesture dan tatapan mata para murid. Meskipun begitu mereka tidak larut dalam kekhawatiran. Saat situasi nampak kondusif mereka pun mampu melanjutkan jam proyek dengan saling berbagi apresiasi satu sama lain mengenai karya kain batik yang sudah selesai mereka warnai. Bahkan saat itu matahari sedang menampakkan wujudnya.

Literasi diri nampaknya merupakan hal yang sudah inheren pada diri kita.Tantangannya terletak pada koherensi antara mengenal dan mengelola hal utama dari diri. Pada suatu waktu kita dapat dengan mudah mengenal hal penting bagi diri. Namun di momen lain kita dapat kebingungan memilih hal yang terpenting untuk diri. Sesederhana ketika kita memilih scrolling layar gawai pribadi saat menyantap makanan atau masih belum menyelaraskan pemahaman pentingnya olahraga dengan menyediakan waktu berolahraga secara rutin. Bisa jadi kita saja yang belum mafhum. 

You May Also Like