AES 378 Komunikasi
joefelus
Sunday June 5 2022, 8:17 AM
AES 378 Komunikasi

“Are you okay?” Tanya saya.

“Fine.” jawabnya pendek.

You don’t look fine.” Kata saya lagi.

“I’m thinking of something.” Jawabnya pendek juga

Kalau sudah begitu, paling aman ya saya diam dan memberikan ruang dan jarak agar situasi lebih menyenangkan. Pendeknya, memberikan kesempatan padanya agar dapat menyelesaikan masalah yang dia hadapi, sebab jika memang saya dibutuhkan, dia akan menceritakan kondisi yang sedang dihadapi atau meminta pendapat. Saat ini sepertinya dia lebih ingin menyelesaikannya sendirian.

Itu salah satu contoh kejadian yang sering saya hadapi dalam membangun dan menjalani relasi di dalam keluarga. Entah mengapa tiba-tiba saya ingin berbincang tentang topik ini, padahal saat ini saya sedang menikmati pagi sambil duduk minum kopi dan sarapan ringan di kedai kopi langganan.

Di luar kedai ada banyak orang yang sedang berkumpul dan duduk di tanah di atas tikar yoga. Tampaknya sedang akan ada kegiatan yoga bareng-bareng. Sepertinya mereka ingin memanfaatkan pagi yang cerah dan nyaman ini. Yoga adalah jenis kegiatan yang belum pernah saya sentuh. Mungkin suatu waktu nanti.

Kembali ke obrolan tentang komunikasi. Untuk mengerti orang lain itu butuh ketrampilan, dan yang penting menurut saya adalah sensitivitas juga. Banyak hal yang tidak diungkapkan dengan kata-kata dan lebih dengan membaca gesture. Untuk mengerti orang lain dengan membaca gesture yang mereka tunjukkan, kita butuh sensitivitas. Nah ini yang susah! Kadang kita mempunyai intensi yang sangat baik karena kita peduli pada orang lain maka kita menawarkan diri untuk ”ikut serta” dalam menghadapi kondisi yang dialami orang lain. Tujuannya memang sangat baik, tapi kita harus bisa “membaca” apakah orang yang bersangkutan memang butuh campur tangan kita. Mungkin saja dengan membiarkan yang bersangkutan menyelesaikannya sendiri justru itu merupakan cara kita membantu dia, bukannya dengan ikut campur! Nah masalahnya tidak semua orang mampu menyampaikan pendapat mereka secara verbal, disini kita butuh ketrampilan membaca gesture. Ini bahasa tubuh yang harus kita pahami dengan mengasah sesnsitivitas kita.

Masalah lain yang sering saya hadapi disamping membaca gesture adalah ”kepedulian” pada orang lain. Maksudnya begini, karena kita peduli pada orang lain, maka kita lebih memfokuskan perhatian kita pada mereka. Masalahnya jika semua orang melakukan ini, akan jadi repot. Contoh sederhana:

“No, kamu mau makan siang apa?” Tanya saya.

Kano:” Apa aja yang dad mau masak.” Di sini Kano berusaha tidak “menyusahkan” bapaknya. Saya tanya Nina, ”Kalo kamu?” Jawabnya,” Terserah.” Maksudnya, apapun yang nanti saya masak dia tidak akan keberatan untuk makannya. Saya mengerti bahwa Kano dan ibunya tidak mau menyusahkan saya dengan keinginan yang macam-macam, tapi buat saya justru itu jadi masalah. Artinya saya harus kembali berpikir, Kano sukanya apa, pantangan Nina apa, kesukaan dia apa, dan sebagainya. Tujuan saya bertanya adalah bentuk kepedulian saya pada mereka dengan berupaya mengetahui apa yang mereka inginkan. Yang saya butuhkan adalah ide yang akhirnya tidak saya dapatkan. Kalau saya sedang lelah ini jadi semakin buruk karena saya akan berpikir seperti ini:” Sudah mah saya harus mikir masak apa, lalu pergi ke pasar untuk beli bahan-bahannya, lalu masak! Lah memangnya saya ini Upik Abu?!” Lalu lebih parah lagi ketika semua sudah beres mereka tidak tertarik untuk makan! hahahaha.. Parah bukan? Akhirnya saya beli whiteboard. Saya bilang ke mereka jika sedang kepingin makan sesuatu, tulis di papan, nanti saya akan buatkan! Bayangkan sekarang, Kano dan ibunya tidak mau menyusahkan saya yang harus sibuk memikirkan makanan, membeli bahan-bahan, menyiapkan dan memasaknya, tapi ”kebaikan” mereka ini justru membuat saya jadi “tidak baik”! hahaha

Komunikasi adalah sebuah hal yang rumit. Mau yang verbal maupun gesture, semuanya butuh interpretasi. Masalahnya interpretasi yang saya buat belum tentu sesuai denga yang orang lain maksudkan. Ada lost in translation dalam proses penyampaiannya. Dan hal yang seperti ini seringkali menimbulkan banyak permasalahan.

Mungkin cara kita bertanya yang harus diubah. Saya bersaha membuat pertanyaan yang sederhana dan saya sedang melakukan uji coba.

"Kamu mau makan?" Ini pertanyaan yang jawabannya cuma 2, yaitu ya atau tidak. Kalau dalam bahasa inggris ini disebut kalimat interogatif atau Yes-No Questions. Karena bentuk pertanyaannya sederhana, harusnya jawabannya sederhana juga bukan? Nah lihat jawabannya:

" Aku belum makan sih, hmm.. sebetulnya aku belum terlalu lapar, tapi jam segini harusnya memang makan. Jadi gimana ya? Kamu mau makan sekarang? "

Nah kalau sudah begini, saya lebih memilih berlari balapan dengan onta di padang gurun!!!!! Tapi mungkin sudah saatnya saya berpikir untuk ikutan Yoga atau lebih sering bermeditasi supaya bisa lebih pandai mengolah diri menghadapi situasi seperti ini Hahahaha....