AES004 Ketika Prestasi Menjadi Validasi
daniasundari
Friday June 12 2026, 12:23 PM
AES004 Ketika Prestasi Menjadi Validasi

"Selamat ya, Nak. Terima kasih untuk proses yang sudah kamu jalani."

Kalimat seperti ini mungkin menjadi salah satu hal yang paling ingin didengar anak ketika meraih sebuah prestasi. Orang tua pun tentu merasa bangga melihat usaha, ketekunan, dan kerja keras yang akhirnya membuahkan hasil.

Namun, di tengah penggunaan media sosial yang semakin masif, ada satu hal yang sering membuatku berpikir.
Prestasi anak kini tidak lagi sekadar dirayakan di dalam keluarga. Banyak yang merasa perlu membagikannya kepada publik. Tidak ada yang salah dengan rasa bangga. Sebagai orang tua, aku pun memahami rasanya ingin menceritakan hal baik yang dilakukan oleh anak.

Tetapi kadang aku bertanya-tanya, apakah semua keberhasilan memang perlu diumumkan? Dan yang lebih penting, apakah anak merasa nyaman ketika pencapaiannya dipublikasikan?

Tanpa sadar, prestasi anak bisa berubah menjadi konten. Sesuatu yang menarik perhatian, mengundang pujian, dan menghadirkan berbagai bentuk apresiasi dari orang lain.

Di sisi lain, ada orang tua yang melihatnya lalu mulai membandingkan. Ada yang merasa anaknya tertinggal. Ada yang mulai cemas. Ada pula yang tanpa sadar menjadi semakin ambisius dan terus mendorong anak untuk menghasilkan pencapaian berikutnya.

Padahal setiap anak sedang berjalan di jalurnya masing-masing.

Yang juga sering terlupakan adalah hubungan anak dengan keberhasilannya sendiri.

Ketika setiap pencapaian selalu mendapatkan sorotan, pujian, dan perhatian dari banyak orang, anak bisa saja mulai mengaitkan nilai dirinya dengan respons yang ia terima. Keberhasilan terasa lengkap ketika dipuji. Prestasi terasa berarti ketika dilihat orang lain.

Padahal hidup tidak selalu menyediakan tepuk tangan. Tidak semua usaha akan mendapatkan penghargaan. Tidak semua proses akan disaksikan oleh banyak orang. Karena itu, yang paling aku khawatirkan bukan ketika anak gagal meraih juara. Yang paling aku khawatirkan adalah ketika anak mulai percaya bahwa dirinya berharga karena prestasinya.

Bahwa pencapaiannya baru terasa berarti ketika mendapatkan pengakuan. Bahwa kebahagiaannya bergantung pada validasi dari luar dirinya. Menurutku, jiwa kompetitif memang perlu dibangun. Namun bukan untuk mengejar sesuatu yang menjadi kebanggaan orang dewasa, melainkan untuk mengembangkan apa yang benar-benar menjadi minat dan potensi anak.

Sebagai orang tua, aku juga selalu penasaran dengan hasil ulangan anakku. Aku ingin tahu sejauh mana kemampuannya berkembang dan apa yang masih perlu ia pelajari. Bukan untuk menuntut nilai yang lebih tinggi, tetapi agar aku bisa mendampinginya dengan lebih tepat.

Aku justru lebih khawatir ketika ada aspek perkembangan yang terlewat. Ketika anak kehilangan kesempatan untuk mengembangkan hal-hal yang sebenarnya ia sukai dan minati.

Dan jika suatu hari anakku meraih sesuatu yang membanggakan, aku berharap diriku tetap ingat bahwa pencapaian itu adalah miliknya. Aku juga berharap mampu menghormati batasannya ketika ia tidak ingin pencapaiannya diketahui banyak orang. Karena pada akhirnya, yang ingin aku bangun bukanlah anak yang terus mencari pengakuan dari luar dirinya. Melainkan anak yang mampu berkata, "Aku bangga pada diriku sendiri."

Bukan karena banyak orang yang memuji. Bukan karena banyak orang yang mengetahui. Tetapi karena ia tahu seberapa keras ia telah berusaha.

Karena bagiku, keberhasilan terbesar bukan ketika prestasi anak dirayakan oleh banyak orang. Melainkan ketika anak tetap mengenali nilai dirinya, bahkan saat tidak ada seorang pun yang bertepuk tangan.