AES 328 Dimarahi!
joefelus
Saturday April 16 2022, 12:10 AM
AES 328 Dimarahi!

"Dendanya lumayan nyesek yah... Disini kl ga salah max 500rb" Komen pak Husen, rekan seru saya di Smipa.

Kemarin memang iseng saya sedang kumat. Diawali ketika pulang kerja saya disodori sebuah surat oleh istri.

"Nih, kayanya kamu kena denda tuh dari Washington State." Kata Nina.

Saya buka surat itu, dan benar sekali ada sehelai surat yang menyatakan bahwa saya didenda karena mengemudikan kendaraan terlalu cepat di area sekolah. Di surat itu ada 3 buah foto yang menunjukkan plat nomor kendaraan yang saya kemudikan dan juga dua foto yang menunjukkan lampu lalu lintas yang berkedip.

Di area sekolah ketika jam anak-anak pulang memang ada lampu yang berkedip-kedip untuk mengingatkan para pengemudi untuk tidak mengemudi lebih dari kecepatan yang ditentukan, yaitu biasanya 20 mile/jam (32 km/jam). Di foto surat denda itu saya dikatakan mengemudi dengan kecepatan 28 miles/ jam (hampir 45km/jam). Saya kena denda $136!

Namanya orang iseng, sebagai bentuk pelajaran dan juga mengabadikan semua pengalaman hidup saya yang kadang bandel, dan ini peristiwa istimewa walau bukan hal yang baik, jadi saya iseng unggah foto dan komentar saya di media sosial. Tujuannya hanya sekedar lucu-lucuan. Rata-rata teman-teman saya memang menangkap "pesan" lucu saya. Tapi ada juga yang tidak.

Saya dimarahi! Hahaha.. Saya punya host family di Hawaii. Mereka sudah seperti orang tua sendiri. Ketika kemarin berlibur di Hawaii, saya mengunjungi beliau beberapa kali. Mereka keluarga keturunan Jepang yang sangat sukses sebagai pengacara dan memiliki rumah di puncak bukti dengan pemandangan yang wah! Dapat melihat kota dan samudra Pasifik dari halaman belakang yang memiliki kolam renang. Indah pokoknya! Nah Caroline, host family saya, menegur.

Di media sosial itu saya memang menulis bahwa tidak terlalu ingat peristiwa itu karena pada saat itu saya sedang liburan dan baru saja pulang dari wine tasting di Chateau Ste Michelle. Ya disitu iseng saya! Padahal kejadiannya memang sudah 3 jam lewat dari acara icip-cicip minuman anggur itu. Saya memang menghabiskan milik teman saya yang tidak suka minum anggur. Jadi memang saya minum 2 x 4 macam anggur yang disajikan. Kalau dihitung-hitung mungkin bisa setara dengan 3 gelas anggur. Nah kalau berdasarkan informasi yang saya baca dan dulu pernah saya pelajari ketika harus ujian untuk memiliki kartu ijin menyajikan alkohol (Liquor License), konsentrasi alkohol dalam darah untuk seorang pria akan mencapai 0.08% BAC jika mengkonsumsi 3 gelas anggur dalam waktu 1 jam, untuk wanita katanya 2 gelas anggur. BAC 0.08% itu adalah batas legal untuk bisa dikatakan mabuk dan jika mengemudi maka akan ditilang dan didenda sangat mahal. BAC adalah blood alcohol concentration. Khusus untuk orang Asia, dan penduduk asli Amerika (Indian), menurut penelitian, memiliki kecenderungan metabolisma yang lambat dalam menyerap alkohol, sehingga tingkat toleransinya juga rendah dan pengaruh alkohol dapat berlangsung lebih lama dibandingkan dengan orang-orang etnis lain. Oleh sebab itu karena saya tahu ini, saya tidak segera mengemudi. Saya masih menunggu hingga berjam-jam. Itu alasan mengapa saya baru kembali ke Seattle 3 jam kemudian.

Saya masih ingat samar-samar 2 orang yang berjalan di trotoar dekat sekolah yang sudah sangat sepi. Jalan itu memang kecepatan masimalnya 30 mile/jam (48 km/jam). Kesalahan saya adalah tidak memperhatikan ada lampu yang berkedip-kedip sehingga saya terlambat mengurangi kecepatan dari 30-an ke 20 mile/jam. Itu pelanggaran saya. Maklumlah namanya juga liburan, saya mengemudi sambil melihat-lihat dan ngobrol, bukan karena terpengaruh alkohol sebab itu sudah lama lewat, saya sudah jalan kaki ke mana-mana, sudah makan siang dan sebagainya. Ya, keteledoran saya membuahkan denda, dan dendanya lumayan tinggi, ini yang tertinggi dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya.

Kalau diingat-ingat, ini pelanggaran saya yang keempat. 3 pelanggaran yang pertama urusan lampu merah. Kadang saya suka terlambat berhenti, jadi terpaksa saya lanjutkan daripada berhenti ditengah-tengah perempatan, dan itu menghasilkan surat pelanggaran. Kalau lampu merah sekitar $75, ditambah fee dan sebagainya saya harus bayar sekitar 80-an Dollar. Di daerah saya jika tertangkap karena mengemudi terlalu cepat biasanya kena denda sekitar $150 hingga di atas $300. Teman satu kantor saya pernah didenda kalau tidak salah $320 sekali waktu, dan teman saya yang lain pernah di denda $150, dua kali malah!

Maklumlah, walau sudah 5 tahun di rantau, kebiasaan mengemudi seperti di Bandung masih sulit ditinggalkan. Di Bandung hampir tidak peduli dengan batas kecepatan. Hahaha! Di sini di setiap perempatan atau pertigaan di sebelah kanan biasa ada tanda yang menunjukkan kecepatan maximum, jika ada tanda Stop harus berhenti minimal 3 detik, melihat kiri kanan sebelum melanjutkan jika jalanan sudah aman. Di bandung tanda Stop hanya jadi pajangan, betul khan? Coba perhatikan di sekitar jalan Aceh di setiap perempatan yang tidak ada lampu merah kita biasa nyelonong terus, hahahaha! Ya kebiasaan memang sulit diubah, harus betul-betul fokus dan melakukannya secara konsisten sehingga menjadi sebuah rutinitas dan kemudian menjadi kebiasaan.

Kembali ke judul, hahahaha. Urusan tegur menegur memang harus diambil maknanya. Host family saya menunjukkan bentuk perhatian dengan menasihati saya agar tidak pernah mengemudi dalam pengaruh alkohol. Namanya orang tua yang care terhadap anak-anaknya (wuih.. senang juga masih dianggap anak-anak hahaha) ada kecenderungan untuk lecturing walau tentu saja dari pengalaman selama ini, lecturing tidak selalu efektif. Kebanyakan anak-anak menyadari akan kesalahan yang sudah dibuat dan mengerti akan konsekuensinya. Lecturing sebetulnya, kalau menurut saya, entah betul atau tidak, lebih pada emotional outburst pihak orang tua yang tidak menyetujui behavior anak-anaknya. Tanpa dikuliahi sebetulnya dengan menunjukkan kesalahan, anak-anak mereka sudah paham kok. Justru teguran seringkali menimbulkan masalah baru, apalagi jika orang tua menggunakan kata yang kurang tepat, maka akan merembet ke konflik baru. Bukan begitu? Apalagi kemudian ada unsur stereotyping dan labelling, panjang jadinya. Yang saya lakukan ketika ditegur adalah mengkonfirmasi bahwa yang dikatakan orang tua saya adalah betul adanya, mengakui kesalahan dan selesai! Wong sudah terjadi kok, ya saya harus menghadapi konsekuensinya dan belajar dari pengalaman ini agar tidak terulang. Sederhana! Walau tentu saja $136 itu bisa buat makan 340 gram ribeye steak yang makyus masing-masing satu potong untuk 4 orang, jadi 4 porsi steak, ditambah apetizer, salad, kentang tumbuk dan margarita! Rugi bandar deh! Hahahaha!***

Foto: dtnext.in

You May Also Like