Di suatu sore, aku dan temanku sedang bersepeda ke pinggir danau. Kami pun bermain di pinggir danau sampai waktu kami untuk pulang datang. Waktu itu kami akhirnya pulang sekitar pukul 5.45 sore. Di perjalanan pulang, aku mendengar suara anak kucing yang sedang mengaung. Akhirnya kami pun mencari suara kucing itu berasal dari mana. Ternyata anak kucing itu berada tempat sampah, tapi tempat sampah ini bentuknya seperti terowongan, yang berada di tembok. Saat pertama melihat kucing itu, aku langsung membayangkan ingin membawanya ke rumah, tapi aku juga berpikir, di rumah aku sudah memiliki tujuh kucing lainnya. Tapi aku tetap ingin membawanya ke rumah, jadi aku dan temanku saling tunjuk tunjuk, siapa yang akan mengambil kucing nya keluar dari tempat sampah, aku tidak mau mengambilnya karena tempat sampah itu memiliki sarang laba-laba dan tawon menempel di tembok nya. Kami pun akhirnya bermain permainan, yang kalah harus mengambil anak kucing itu, dan untungnya yang kalah adalah temanku, tapi dia tetap tidak mau mengambil kucing itu keluar. Jadi terpaksa tetap aku yang mengambil kucing itu keluar. Saat aku tarik keluar, ternyata kucing itu memiliki bulu halus berwarna abu-abu. Aku pun langsung membawanya pulang dengan menaruhnya ke dalam tas.
Sesampainya di rumah, aku menunggu di depan pintu rumah sambil memanggil Mama dan berkata bahwa aku membawa anak kucing. Sebelum Mama jawab apa-apa, anak kucing itu tiba-tiba langsung me-ngeong, jadi aku langsung masuk. Muka Mama seperti sudah bisa berkata apa-apa, tapi walau begitu, akhirnya Mama dan Kakak tetap melihat kucing itu dan berkata bahwa kucing itu lucu. Kami memberinya nama Nunu.
Nunu akhirnya kami pelihara, tapi Nunu lama-lama mulai suka keluar rumah, lalu baru pulang lagi tiga hari kemudian, mungkin karena Nunu tidak punya hubungan baik dengan kucing-kucing lainnya. Tapi sampai saat ini, Nunu terkadang masih suka pulang ke rumah di malam hari, dan tidur di ruangan yang pintunya tertutup, karena tidak ingin bertemu dengan 15 kucing lainnya.