Ketika hujan turun harum tanah yang terbasahi air hujan menjadi wangi yang saya suka, merasa tenang nyaman ketika mencium wangi tersebut. Namun sore kemarin setelah berkegiatan di Smipa ketika hujan turun bukan wangi tanah yg saya cium melainkan wangi daun, mungkin karena tempat saya berdiri dekat dengan pepohonan dan rumput hijau. Beberapa kali saya keluar jendela memastikan aroma yang saya cium namun tetap saja bukan tanah hahaha. Tetapi walaupun saya lebih suka wangi tanah yang terbasahi air hujan dibanding dengan wangi daun ternyata keduanya membuat saya merasa lebih tenang juga, dan membuat penyegaran lah yaa kepada hidung saya ehehhe alhamdulillah.
Pada saat itu hujannya lumayan besar jadi saya memutuskan untuk menunggu hujan agak reda sambil mengobrol dengan kakak-kakak yang lain. Ya walaupun saya membawa jas hujan, saya rasa jika sudah agak reda akan lebih aman ehehe.
Setelah hujan agak reda saya memutuskan untuk pulang namun tetap saya memakai jas hujan ya berjaga-jaga takutnya diperjalanan tiba-tiba hujan besar lagiii.
Walaupun kondisi hujan ternyata jalan dibawah jembatan itu dipadati dengan kendaraan, ada beberapa orang yang mengendarai kendaraanya perlahan seperti saya ada juga yang cepat bahkan dalam keadaan macet dan lampu merah pun terus saja membunyikan klaksonnya. Setelah melewati lampu merah ternyata hujannya makin besar jadinya makin kerasa dingin dan juga tiba-tiba jadi kepikiran kalo dingin gini enaknya makan mie rebus panas-panas dan pakai telur wahh mantappp kaliiii hahah...
Makin saya maju ternyata awan makin gelap, dan hujan pun makin deras. Saya ingat-ingat tadi dari Smipa berangkat pukul setengah 5 kok sudah malam lagii, mungkin bukan sudah malam tapi awan yang mendung jadi serasa gelap.
Saya terus melaju dengan kecepatan yg rendah, saya melihat sisi kiri tidak ada tempat untuk berteduh dulu maka dari itu saya memutuskan untuk terus melanjutkan. Semakin saya maju semakin teringat tuh mie rebus hahah jadi walaupun ada tempat untuk berteduh tapi saya memutuskan untuk terus jalan, saya terus menerebos hujan dengan tekad yang bulat untuk semangkok mie rebus bukan semangkok bakso yang dimaksud tulisan kak Leo ehehe.
Saya mengendarai motor dengan perlahan dan berhati-hati tentunya sampai akhirnya sudah dekat dari rumah dan hujan pun mulai mereda namun ada banjir sedikit saya tetap jalan dengan perlahan karena kalo cepat mungkin yg disekitar saya kecipratan air banjir itu, ehhh malahh saya yang kecipratan air dari lawan arah duhhh untung saja pakai jas hujan jadi ga basah.
Alhamdulillah sesampainya di rumah mengucapkan salam sambil membuka jas hujan saya langsung bertanya ke mamah hahah
"Mah aya indomie teu nya? (Mah ada indomie ga ya)?"
"Asana mah aya (kalo ga salah ada)" (jawab mamah hehehe).
Lalu saya bergegas untuk bersih-bersih terlebih dahulu kemudian bersiap membuat mie rebus wkwkw. Namun ternyataaa ketika lagi bikin dan telur sudah masuk ehh gasnya habis haduhhh.. mau makan langsung yaa kalii masa makan telur yang masih mentah hehehe
Jadi saya menunggu gasnya terlebih dahulu, karena saya belum bisa memasang gas jadi dipasangkan oleh yang jual. Setelah gas nya terpasang alhamdulillah mie dan telurnya bisa matang. Dannn alhamdulillah setelah penantian panjang (cielah hahah) bisa menyantap mie rebus alhamdulillah hehehe
Segala sesuatu ada prosesnya ga ada yang instan buktinya mie instan aja perlu proses, kalo bahasa sunda "moal ujug-ujug kawujud" (tidak akan tiba-tiba terwujud).
Photo by Pinterest:
Waah seru amat ini ceritanya. Menarik juga menuliskannya. Jadi kabita indomie pagi2 dingin gini.
https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/3687/aes369-literasi-mie-rebus
Sambungannya ada di sini nih. 🙏🏼😊
Wangi daunnya enak banget krmaren, bikin nyaman berlama-lama di sana.