AES003_ Jalinan tanpa Jaringan Internet (WHAT, 1/4)
Farzan
Sunday July 21 2024, 5:02 PM

WHAT:

Untuk menyambut anggota-anggota baru dan memperkenalkan mereka pada mekanika tugas yang agak tidak konvensional, KPB melaksanakan simulasi kecil-kecilan pada hari Kamis kemarin. Hari itu, kami disuruh untuk mengamati profesi tertentu dalam perjalanan kami dari Taman Lansia ke Taman Musik. Kelompokku kala itu memilih untuk mengamati para pedagang asongan, atau juga dikenal dengan nama pedagang kaki lima.

Rupa-rupanya, cukup mudah untuk menemukan mereka. Lapak mereka yang bervariasi dari sekedar tikar sampai gerobak bertebaran di mana-mana. Kami mengawasi tingkah laku mereka dari jauh, mencoba mencari hal-hal yang cukup menarik untuk dicatat. Misalnya, para penjaga tampaknya tak memberi upaya dalam menarik pembeli. Hal ini jelas menarik dibandingkan, misalnya, pedagang keliling; yang acap kali berseru-seru untuk menarik perhatian para pelanggan.

Tapi, saat kami menggali lebih jauh; sifat para pedagang memang relatif tak acuh- bahkan pada pembelinya sendiri. Hal ini tentu membuat beberapa alis terangkat. Bagaimana bisa? Bukankah kepedulian pada pelanggan merupakan daya jual tersendiri? Kenapa mereka tidak meluangkan upaya lebih banyak untuk melayani konsumen mereka? Aneh nian.

Untuk pembuktian langsung kalau pengamatan kami tidak mengada-ada, aku dan temanku mencoba menghampiri seorang pedagang minuman. Sembari membeli barang dagangannya, kami mencoba untuk memulai pembicaraan ringan dengannya. Untuk keterkejutan kami (atau tidak juga, sebetulnya), sang pedagang merespons dengan tidak terlalu peduli, mensinyalkan bagi kami untuk segera menghentikan upaya kami dan angkat kaki.

Usut punya usut, barangkali penyebab utama sifat pedagang yang seperti ini disebabkan karena mereka memang tidak terbiasa menjalani percakapan dengan pelanggannya. Dalam pengamatan kami -yang, harus diakui, memang terbatas; kami menemukan kalau interaksi pedagang kaki lima dengan pembelinya tak pernah melebihi interaksi jual-beli semata. Kelihatannya, para pedagang terlihat lebih asyik memainkan gawai dibandingkan memulai percakapan dengan pembelinya. (Untuk penggalian lebih lanjut, lihat artikel WHY dari proyek yang bersangkutan.)

Huh. Ini topik yang menarik. Topik yang bisa dibahas nanti-nanti, tapi- kami sudah hampir terlambat dari waktu batas eksplorasi yang diberikan oleh kakak. Sembari menyimpan buku catatan kami, aku dan kawan-kawan kelompokku berlari ke arah Taman Musik, dikejar batas waktu yang kian mendekat.