AES004: Kenapa Kau Terus Maju?
Farzan
Monday July 22 2024, 6:31 PM

Apa yang kau hargai?

Apa yang membuatmu terus maju?

Dan sesungguhnya, di dalam dirimu, siapa sebenarnya kamu?

Tiga pertanyaan. Tiga pertanyaan introspektif yang bisa berujung pada jutaan jawaban subjektif. Tapi sesungguhnya, tiga pertanyaan itu hanya bisa dijawab jika kita punya value, spirit, dan mengenal essence kita.

Seperti bagaimana seorang ahli butuh mengenal alat-alatnya sebelum berkarya; sebelum kita maju, hendaknya kita mengenal terlebih dahulu definisi dari ketiga konsep itu.

Sebetulnya, di era informasi seperti ini, lebih sulit mencari garam di Laut Mati dibanding mencari informasi mengenai ketiga hal ini. Ada banyak penjelasan yang bertebaran di internet bagi siapapun yang mau mencari; tapi bagi yang penasaran, berikut definisi value, spirit, dan essence yang telah kurangkum*: (*Keep in mind, definisi ini datang dari interpretasiku mengenai topik ini, sehingga barangkali ada hal-hal yang diwarnai oleh persepsi subjektifku)

Value adalah sesuatu yang dianggap penting dan digenggam erat-erat. Sesuatu yang takkan kita lepas, tak peduli bagaimana badai warna-warni dunia mencoba merenggutnya dari kita. Di dunia kapitalis yang kita huni saat ini, value juga kerap diidentikan dengan uang dan nilai ekonomi.

Spirit adalah semangat. Motivasi. Sesuatu yang memberikan kita dorongan untuk terus maju di hadapan kesulitan yang menantang. Ada banyak hal yang bisa menjadi spirit- tapi sebaik-baiknya spirit, setidaknya di pandanganku, adalah sesuatu yang bersumber dari keinginan untuk berbuat baik bagi yang lain.

Dan terakhir, essence. Intinya, essence adalah… intinya. Pokok dari suatu hal. Sifat paling dasar dari sesuatu. Sesuatu yang  menjadi fondasi bagi konsep-konsep yang lebih rumit. Air yang membentuk laut. Proton, neutron, dan elektron yang membentuk atom. Akar kata dari sebuah bahasa.

Mendefinisikan essence pada hal-hal non-material merupakan perkara yang sulit, karena banyak konsep yang boleh jadi bersifat tidak tetap, atau lebih parah lagi, subjektif. Misalnya, apakah esensi dari manusia? Pertanyaan sesederhana itu saja bisa-bisa menyebabkan diskusi filsafat panjang yang berliku-liku. But we are getting sidetracked.

Hari ini, kelas KPB didatangi oleh seorang narasumber- yang rupa-rupanya merupakan Kak Fitri. Beliau menceritakan tentang komunitas yang telah dia buat- namanya Dewi Bumi, jika memoriku bisa diandalkan. Sebuah komunitas kecil yang bertujuan untuk mengolah sampah secara sustainable dengan segala kemampuan yang bisa mereka kerahkan. Kak Fitri membagikan kisah-kisah soal pembentukan dan segala tantangan yang dihadapi oleh komunitas itu. Mari kita coba petakan program ini dengan menggunakan pemahaman kita soal value, spirit, dan essence yang baru saja kita bahas tadi.

Dalam suatu program, penting bagi kita untuk memahami value yang ingin kita pertahankan, agar kita tidak mudah belok ke depannya. Syukurnya, tampaknya komunitas Demi Bumi memiliki pegangan yang cukup teguh tentang hal yang mereka anggap bernilai. Kak Fitri menekankan kalau mereka tidak mempedulikan uang maupun ‘popularitas’, karena bagaimanapun juga, tujuan utama dari komunitas ini adalah membangun kesadaran bagi orang-orang mengenai pentingnya pengolahan sampah yang berkelanjutan.

Spirit yang mendorong komunitas ini tampaknya berawal dari rasa prihatin pada minimnya kepedulian masyarakat secara umum. Masyarakat tidak memiliki orang yang memandu mereka untuk berbuat lebih baik. Juga, mengingat Kak Fitri mampu membantu dan mengarahkan mereka; kenapa tidak?

Esensi merupakan perkara yang lebih rumit. Secara harfiah, esensi dari komunitas itu barangkali merupakan anggota-anggotanya. Tapi jelas bukan itu jawabannya. Kurasa ada yang lebih penting: hal yang menyatukan mereka untuk terus berpartisipasi: keinginan untuk mendorong orang-orang agar hidup sehat dan berkelanjutan; sehingga kiranya bumi kita bisa tetap layak diwarisi bagi anak-cucu kita esok hari nanti.

Andy Sutioso
@kak-andy   2 years ago
Mantap Farzan. Senang bisa jumpa pemikiran² kamu di ruang ini. Selamat berproses di KPB.