Judulnya keren ya? Sepenggal larik dari lagu kebangsaan kita Indonesia Raya. Padahal pasalnya ini muncul gegara kemalasan saya untuk berangkat olahraga pagi ini. Ada saja pikiran yang muncul di kepala untuk menggagalkan gowes pagi ini. Ya begitulah pikiran-pikiran kita... Rajin banget dia, sementara badan kita itu cenderung mager. Ya ini juga hukum alam kan ya, Hukum kelembaman. Benda yang dibiarkan statis akan perlu enerji besar untuk membangunkannya kembali.
Di sisi lain segala sesuatu di alam semesta ini pada dasarnya adalah enerji dan kesadaran. Dua-duanya tidak boleh dibiarkan begitu saja, perlu dikelola. Hidup manusia dalam konsepnya Sadhguru mencakup empat elemen dasar yaitu Badan, Pikiran, Emosi dan Enerji. Kesemuanya perlu dikelola seimbang berdasarkan kesadaran. Hanya empat inilah yang memang bisa sepenuhnya dikelola manusia. Ini adalah sisi dalam hidup manusia yang dibutuhkan untuk menjalankan kehidupannya (pengalaman kehidupan) dengan baik, dengan bermakna.
Beberapa teman penuis, @wibiarie, @joefelus lagi banyak menyoroti tentang hal ini, tentang kesehatan, tentang keseimbangan antara kesehatan jiwa dan badan. Saya kita ini yang dimaksud dalam bahasa Inggris adalah wellbeing. Bukan hanya health saja. Kita tahu juga manusia yang jiwa ini yang terutama, karena banyak sekali manusia yang badannya rontok karena jiwanya tidak pernah diberi ruang hidup, ruang untuk muncul di dalam eskpresi kehdupan manusianya - karena sejatinya manusia adalah makhluk spiritual. Kalau analoginya gawai, badan adalah casingnya, OS adalah pikirannya dan berbagai memori yang tertanam adalah aplikasi yang memungkinkan manusia menjalankan kehidupannya di tengah masyarakat. Kalau meminjam istilah dari @gunawan-muhtar - ini adalah pengalaman rasa.
Jadi kata kuncinya berikutnya adalah keseimbangan. Karenanya kita paham bagaimana di kuil-kuil Shaolin, juga setahu saya di berbagai pesantren (klasik) kegiatannya mencakup hal-hal ini. Para murid (disciple) dan santri belajar mengelola kehidupannya dengan bertahun-tahun belajar disiplin mulai bangun pagi, membersihkan kuil atau pesantrennya, belajar kitab, latihan bela diri (kungfu ataupun silat), meditasi, dari tahapan ke tahapan. Menempa diri supaya ngajadi...
Hal-hal inilah yang sekarang tidak lagi dialami manusia modern sehingga sulit menemukan manusia-manusia yang bertumbuh kembang secara utuh dan seimbang, sehat jiwa dan raganya, cerdas pikirannya dan jernih batinnya... Peradaban modern ini terlalu banyak distraksinya, yang kemudian membuat badan dan pikiran jadi letih dan jiwa jadi tenggelam dalam berbagai keriuhan.
Saya pernah menulis juga keseimbangan. Hal ini juga berpengaruh penting besar pada longevity. Apa ya bahasa Indonesianya. Sederhananya, orang yang bisa mengelola hidupnya secara seimbang, usianya berpotensi lebih panjang. Tanpa melampaui kekuasaan Sang Maha Pencipta, pernyataan ini basisnya logika sederhana aja. Jadi ya semoga tulisan ini bermanfaat.
Saya menuliskan bagian pertama tulisan ini di tempat saya minum Jus - di tempat favorit saya di sayap jalan Dago yang masih sangat nyaman karena rindangnya pepohonan.
Saya menuntaskan tulisan ini di rumah setelah berhasil gowes 15 km, mendorong badan saya untuk bangun lagi. Rute biasa yang jadi berat saat dijalani karena badan jadi mager. Jalan yang relatif datar saya terasa berat gowesnya. Tanjakan ringan yang biasa dilalui harus menggunakan gir 1-2 lebih ringan. Selesai sarapan dan setiba di rumah, badan terasa segar, lanjut beberes di rumah dengan semangat. Jadi ya begitulah pengalaman saya hari ini, dan tulisan saya pagi ini. Hatur nuhun yang sempat mampir di sini. Salam.
Photo by Gundula Vogel: https://www.pexels.com/photo/tranquil-buddha-statue-with-soul-and-body-stones-30681931/