AES145 Literasi Diri
Andy Sutioso
Wednesday October 6 2021, 10:09 PM
AES145 Literasi Diri

Tulisan saya yang kemarin bicara tentang menyederhanakan - yang kemudian berujung tentang memahami esensi tentang sesuatu. Dalam perjalanan Semi Palar di usianya yang ke 17, sepertinya kita juga kembali menyentuh sesuatu yang cukup esensial. Di awal guliran TP17, kakak Smipa mendiskusikan bersama tentang Human Being, tentang manusia seutuhnya. Sering disebut, tapi belum tentu dipahami betul. Ingat kata-kata Aki Muhidin ya... 

Human Being mengisyaratkan bahwa manusia punya kapasitas untuk menjadi apa yang dia kehendaki. Being juga punya konotasi non-doing, tidak melakukan apapun. Hal ini nyambung dengan hening, dengan stillness dan silence. Beberapa esai tentang hal ini juga cukup banyak dituliskan di Ririungan. Di sesi yang lain, kakak2 juga belajar tentang gelombang otak - memahami bagaimana otak manusia bekerja - yang bisa dikendalikan lewat nafas dalam setting-setting meditatif. 

Selanjutnya kita juga membahas tentang literasi, dan dalam konteks ini, waktu hening terkait erat dan proses-proses reflektif dan ini nyambung dengan apa yang kita sebut dengan Literasi Diri - membaca dan mengenal diri sendiri, melihat ke sisi dalam diri kita. Waktu Hening yang sering kita bawakan di kelas mendapatkan konteksnya di sini. 

Seperti saat kita bermain puzzle - menyenangkan sekali saat mendapati bahwa kepingan-kepingan yang kita temukan saling terkoneksi dan kita bisa memahami gambar apa yang terbentuk dari kepingan-kepingan puzzle tersebut. Hal inilah yang sedang terjadi di Semi Palar. Dalam konteks Literasi Diri, Ririungan juga punya peran besar - karena lewat menulis - secara spesifik lewat Atomic Essay, tampak sekali bagaimana menulis secara rutin adalah proses reflektif yang sangat kuat. Saya meyakini itu. Beberapa tulisan saya menuliskan tentang hal ini. 1500 keping cermin di Ririungan Semi Palar adalah salah satu di antaranya. Satu lagi berjudul Tulisan Kita adalah Cerminan Diri Kita

16 tahun mengeksplorasi banyak hal - menarik sekali bahwa salah satu temuan terpenting adalah bahwa kita perlu kembali ke dalam diri kita masing-masing, karena ternyata di sana, tersimpan jawabannya... Salam. 

Photo by Ismael Sanchez from Pexels