Beberapa hari yang lalu kita dikejutkan berita musibah dari negeri jauh sana, mengenai hilangnya Eril, putra kang Ridwan Kamil, pemimpin kita di Jawa Barat. Mengejutkan, tidak terduga. Saya tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan oleh kang Emil dan keluarganya mendengar berita tersebut. Pencarian dilakukan, hari pertama, kedua, dan seterusnya.
Memasuki hari ke enam, diumumkan secara resmi bahwa Eril dinyatakan meninggal dunia walaupun jenazahnya belum bisa ditemukan.
Kehilangan anak, saya kira memang tidak pernah bisa dibayangkan, karena dalam benak kita biasanya orang-orang yang lebih tua yang akan pergi (pulang) kembali ke Sang Pencipta.
Sore ini jam 15.00 atas inisiatif mas Ipong, kami berkumpul di Nu Art Sculpture Park, untuk mengadakan doa lintas iman, sebuah refleksi bersama untuk mendoakan anak-anak kita, pewaris peradaban.
Saya menyempatkan hadir dan sangat bersyukur bisa hadir di sana. Acara dibuka oleh kang Aat, dan kami segera masuk dalam doa yang dipimpin bergantian oleh tujuh orang rohaniawan, tokoh agama dan kepercayaan yang berdiri berdampingan, memanjatkan doa dan harapan kepada Tuhan yang satu. Sebuah kesempatan yang langka, yang nyaris tidak bisa kita temui sehari-hari. Biasanya kita hanya berjumpa pemimpin agama di rumah ibadat kita masing-masing di tengah umat yang seagama juga, mendengarkan doa sesuai ritual agama kita masing-masing.
Agama, perlu disadari adalah juga sebuah dinding pembatas yang memisahkan kita manusia yang pada hakikatnya adalah satu. Agama adalah hanya cara yang kita pilih untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan kita, Tuhan yang Esa. Sang pencipta alam semesta, sang pemilik kehidupan.
Setelahnya berbagai refleksi diungkapkan oleh beberapa tokoh pemimpin kita, dari mas Ipong, kang Aher, kang Yana dan kang Maman Imanul Haq dan juga ibu Neti. Satu keyakinan yang sama diungkapkan bahwa kepergian Eril mengingatkan kita semua tentang betapa berharganya anak-anak kita yang dititipkan Sang Pencipta kepada kita orangtuanya. Anak-anak kita adalah anak kita bersama, anak bangsa dan pewaris peradaban. Peradaban seperti apa yang akan kita wariskan kepada mereka adalah tanggung jawab kita hari ini.
Rangkaian acara juga dilengkapi pementasan tari yang dibawakan Keny Soeriatmadja dan ditutup oleh refleksi dari kang Wawan Husin, membawa kita ke titik kesadaran bahwa kehidupan adalah demikian sakral adanya, dimulai dari pertemuan sel sperma dan sel telur - berlanjut dengan sembilan bulan meditasi sang jabang bayi di dalam rahim ibunya - seperti yang dinarasikan kang Wawan Husin. Sebuah proses yang penuh keajaiban dan begitu kental menggambarkan kebesaran Sang Pencipta - juga karunia kehidupan yang boleh kita terima.
Berada di dalam suasana kemarin begitu kuat menggiring kesadaran saya, ingatan saya kepada dua anak saya Inka dan Rico, para keponakan, dan ratusan murid yang saat ini berproses di Rumah Belajar Semi Palar. Anak-anak kita yang bisa kita dampingi secara langsung dalam proses mereka menuju dewasa.