Menurut definisi, partisipasi adalah keterlibatan seseorang dalam situasi baik secara mental, pikiran atau emosi yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan dalam upaya untuk memberikan sumbangan dalam usaha mencapai tujuan. Partisipasi merupakan sikap mendedikasikan diri untuk tujuan yang lebih besar, dan mengambil bagian di dalam pelaksanaannya.
Dalam persepsi budaya modern, sikap tidak mementingkan diri sendiri atau tanpa pamrih acap kali diasosiasikan sebagai salah satu aspek heroik. Yang menurutku menarik, berhubung internet dan budaya sosial kita lama kelamaan membuat kita semakin terisolir dengan satu sama lain. Mungkin, semakin jarang kita menjumpai sikap tertentu, kita juga semakin memuliakan sikap tersebut.
Umumnya, ide dan pemikiran dari zaman tertentu bisa terefleksi lewat media yang ke luar di waktu tersebut. Tidak terkecuali untuk saat ini. Banyak media dan cerita fiksi yang merepresentasikan karakter utama sebagai orang yang peduli pada sekitar dan rela mengorbankan diri untuk kepentingan sekitar.
Hal itu direfleksikan oleh salah satu film yang kelas 10 tonton kemarin. Tokoh utamanya merupakan seorang gadis yang membuat orang-orang takut dan acap kali dituduh sebagai penyihir. Tapi, semesta mencapnya sebagai pribadi yang ‘baik’. Menurutku, hal itu terjadi karena dia peduli pada orang-orang dekatnya dan menginginkan yang terbaik untuk mereka. Kontras dengan temannya, yang tampaknya merupakan putri ideal, tapi hanya mementingkan dirinya sendiri. Alhasil, dia dicap sebagai orang buruk.
Kunci utama dalam berpartisipasi adalah kepedulian. Tanpa itu, pintu hati kita akan tertutup dari segala keinginan untuk berkontribusi pada sesuatu yang lebih besar dari kita. Kalau kita bisa hidup damai sendiri-sendiri, kenapa butuh repot-repot? Tapi sebaliknya, jika peduli, orang-orang bisa berkumpul untuk meratakan gunung atau menggapai langit- bersama-sama.
Dan, sesungguhnya; itulah hakikat manusia yang sebenarnya: bersama-sama. Untuk saling peduli dan saling jaga.