AES010 Pecah
firdabilqis
Monday March 16 2026, 9:53 AM
AES010 Pecah

Pernah ngga sih tiba-tiba terlintas pikiran, "Kok udah lama engga nangis ya?". Saya sering. Entah bagian tubuh mana yang rutin mengirim alarm kalau sudah lama tidak menangis, seolah itu adalah aktivitas yang rutin harus dilakukan. Tapi beberapa hari lalu muncul pertanyaan tersebut, dan membuat saya mengingat-ingat... kapan ya? 

Pikiran saya lalu traveling ke dua bulanan lalu ketika di tengah project yang saya kerjakan, ada hal yang begitu berat hingga membuat saya menangis, kalo kata anak sekarang nangis kejer, mungkin itu kesekian kalinya saya bekerja, mengetik dan membuat draft slide presentasi sambil menangis. Menangis setelah dewasa terutama setelah ibu-ibu memang kadang tidak ideal, tidak bisa sambil tiduran dan berselimut di kamar seperti jaman puber. Kadang ibu-ibu menangis sambil sholat, sambil mandi di bawah shower, sambil cuci piring, atau sambil kabur ke toilet kalau sedang di kantor, bahkan sambil makan kalau sudah tidak tahan. Katanya titik terendah adalah ketika menangis sambil makan. Semuanya saya pernah lalui. 

Tapi akhir-akhir ini, banyak juga kejadian yang tidak bisa bikin saya nangis, yang jika tejadi dua atau tiga tahun lalu, mungkin saya akan tangisi berhari-hari. Sekarang hanya menghela napas, atau paling ngembeng dikit di mata, lalu ok lanjutkan agenda di kalender. Entah karena jadi semakin kuat, atau malah hati saya jadi numb, banyak 'peristiwa' sedih tidak lagi menguras air mata saya.

Anyway, kemarin saya tiba-tiba terpapar konten bahwa Sal Priadi baru saja merilis video klip untuk lagu terbarunya, Ada titik-titik di ujung doa. Lagu yang sedang tren dan sering lewat meski sepotong-sepotong. Memang beberapa hari terakhir saya sempat membaca lengkap liriknya, dan beberapa kali menyetel dengan sengaja karena memang enak lagunya. Jadilah di parkiran masjid Al Irsyad KBP kemarin, saat menunggu bank sampah Rekosistem buka, saya minta Bangkit memutar video klipnya di YouTube. Pikir saya, mungkin ini tentang hubungan dua orang (kalau dari lagunya), tidak menyangka isinya apa. Sebelumnya saat saya menangisi lagu Gala Bunga Matahari, tidak ada satupun air mata menetes melihat video klipnya. Jadi saya rasa twist itu akan terjadi lagi.

Jeng jeng jeng... ternyata saya salah. Video klip lagu Ada titik-titik di ujung doa ini ternyata tentang seorang Ayah, yang hidupnya di jalan, mengemudikan truknya dengan tangan yang sudah bergetar, tubuh yang renta dan langkah yang tidak segagah dulu. Digambarkan bolak-balik perawatan di RS di antara pekerjaannya mengantar barang, diselipi adegan berkali-kali menghubungi seseorang, yang tidak juga mengangkat teleponnya.

Berikut liriknya:

Ada titik-titik di ujung doa, Doa keselamatan penutup malamYang harus diisi nama, Maka kuisi dengan namamuNama lengkapmu hurufnya kuhias berjuta warnaSebisanya aku gambarkan juga bunga-bunga, Lengkap dengan kupu-kupu, Terbang di sekitarnya

Aku mencoba gambarkan juga, Bentuk wajahmu meski yang kuingat matamu sajaKalau jelek kamu jelas ga boleh marah-marahKapan terakhir bertemu bahkan ku sudah lupa

Ada titik-titik di ujung doa-doa, Keselamatan penutup malam, Kuisi dengan namamuKucoba memaafkanmu selalu, Kalau disitu ada salahku, Maafkanku juga

Ini rasanya sulit sekali, Ingat hatiku dihancurkan jadi berkeping-kepingHari ini aku coba merakitnya lagi, Meski kalau diamati, Agak aneh bentuknya

Terselipkah aku disana, Di doa doamu juga, Ada titik-titik

Saya kemudian terlempar pada ingatan, puluhan chat yang saya balas ogah-ogahan, ajakan bertemu yang selalu saya tolak, sampai telepon yang selalu saya jawab dengan ketus. Bapak-bapak di video klip dengan tangan bergetar itu mengingatkan saya pada Ayah, yang berjuang dengan penyakit parkinson di 6 tahun terakhir hidupnya, yang selalu bertanya kabar anak dan cucunya, yang selalu menagih kapan mau ke rumah? kapan mau bertemu? yang hampir tidak pernah saya iyakan.

Bedanya di video clip itu, akhirnya teleponnya diangkat, kemudian mereka berjumpa, sesaat sebelum napas terakhir bapak tua itu dihembuskan. Yang tidak terjadi di saya, karena saya kekeuh baru mau ke rumah hari Sabtu saja, meski penjual mangga sudah bilang bahwa buah pesanan Ayah itu hanya kuat sampai Jumat. Tapi siapa yang tahu bahwa itu 'pertanda'? 

Tangis saya akhirnya pecah, menonton video klip yang terlalu apik menampilkan adegan yang ingin saya reka ulang, menyentuh penyesalan yang masih malu saya akui. Perasaan yang masih saya coba cerna, yang makin ke sini, memang tidak begitu berat lagi. Saya tahu Ayah pasti memaafkan saya, hanya sayangnya saya belum punya jawaban untuk pertanyaan di kepala, Apakah di 7 menit terakhir sebelum ajal, Ayah mengingat saya? 

Tangisan yang cepat saja, seperti biasa. Karena di tengah video klip itu, Bangkit memberi tahu kalau gerai Rekosistemnya sudah buka. Pengingat alasan kenapa saya ada di KBP saat itu. Hidup memang harus terus berjalan kan? Saya yakin Ayah sudah memaafkan saya, mungkin sayanya yang belum.

You May Also Like