Saya mendorong kereta belanja kecil diantara lorong-lorong supermarket sambil menikmati suasana yang cukup sepi karena masih pagi. Belanja untuk keperluan sehari-hari merupakan salah satu kegiatan yang sangat saya sukai. Kenikmatan ini akan berubah beberapa bulan lagi karena kondisi yang berbeda. Oleh sebab itu saya menikmati sekali saat ini. Berkeliling dari lorong satu ke lorong lainnya. Berhenti sejenak di lorong yang menjual wine, sambil berpikir bahwa nanti di Indonesia ini akan sulit diperoleh dan akan amat sangat mahal. Di sini saya bisa memperolehnya setara dengan penghasilan dari 15 menit bekerja. Murah! Tapi saya melewatinya. Saya menuju tempat sayur-sayuran, perlu bawang putih, bawang merah dan bawang bombay. Sesudah itu ke bagian daging. Kano ingin saya buatkan ayam panggang. Saya memilih 2 tray paha ayam tanpa tulang lalu melihat ada 2 potong ribeye yang baik, Kano juga suka beef salad dengan daun mints, dan sering saya tambah dengan irisan tipis bawang bombay. Ini makanan khas Thailand, Vietnam atau Kamboja yang juga sangat saya gemari.
"Mau dimasakin apa, Jo?" Tanya ibu saya
"Goreng ikan belanak dan sayur asem!" Jawab saya.
Tiba-tiba saya melamun kejadian-kejadian jaman dahulu ketika saya pulang kampung mengunjungi orang tua. Mendiang ibu saya selalu berusaha membuat kedatangan saya menjadi sebuah peristiwa spesial dengan memasak makanan kegemaran saya. Saya suka sekali makan ikan belanak kecil yang digoreng kering karena saya bisa makan semuanya, termasuk kepalanya. Lalu di mangkuk terpisah saya menikmati sayur asam yang keruh karena bumbunya menggunakan terasi dan kacang tanah yang sudah direbus lalu dihaluskan dengan bumbu lain lalu dimasukkan ke dalam panci yang sudah penuh dengan sayuran. Saya masih ingat sering membantu ibu saya memasak, dan saya ingat sayur asam ini menggunakan asam segar yang juga direbus berasama sayuran, begitu bumbu masuk, asam segar yang sudah empuk dikeluarkan, lalu dengan menggunakan saringan di tekan-tekan di atas permukaan panci sehingga sari-sari asamnya keluar dan bercampur dengan sayur asam yang sudah hampir siap untuk disajikan.
Saya tersenyum bahagia. Itu kenangan-kenangan indah bersama mendiang ibu ketika berdua asyik memasak dan ngobrol kesana kemari tentang hidup, tentang cita-cita, tentang masa depan bahkan tentang pasangan. Mungkin segala kegiatan dan kenangan itu yang membuat saya begitu gemar bekerja di dapur. Anehnya, kegemaran saya ini sepertinya menular ke Kano! Walau Kano hampir tidak pernah memasak di rumah atau menemai saya memasak, karir dia di mulai di dapur. Ini sebuah kejutan besar bagi saya dan tidak pernah menyangka bahwa dia akan sangat berbakat di dapur.
"Hey, give me a list of food you want me to cook for you before I leave. I will cook everything, put them in a vacuum pack, and freeze them. So when you want to eat my food you just need to take them out from the freezer, thaw them, and reheat." Kata saya ke Kano
Itu kemarin dalam perjalanan pulang dari Denver sesudah kami makan siang bersama seorang sahabat dalam rangka merayakan ulang tahun Kano.
"You can keep your food in my freezer, Kano. I have 2 big freezers." Kata sahabat saya ini.
Lalu Kano yang duduk di belakang bersama ibunya sibuk berdiskusi kira-kira makanan apa saja yang ingin saya buatkan untuk persediaan dia. "Rawon, Soto Betawi.." Kata Kano yang mulai membuat daftar makanan yang dia sukai. Saya tersenyum. Dulu ketika saya sudah hidup di rantau, ibu saya juga begitu. Setiap kali beliau berkunjung, beliau selalu membawa berbagai macam makanan. Sayangnya dulu saya tidak memiliki kulkas ketika masih mahasiswa sehingga tidak seperti yang akan saya lakukan pada Kano.
"Hahaha... gantian!" pikir saya tersenyum sendiri sambil mendorong kereta belanja. Belanjaan saya sudah hampir lengkap. Saya sengaja tidak membeli daun mints sebab di halaman apartemen saya tumbuh subur banyak sekali tanaman daun mints. Itu yang akan saya gunakan, saya juga masih memiliki jeruk lemon dan jeruk nipis untuk salad yang akan saya buat nanti.
Saya menghela napas panjang. Walaupun sederhana, hidup yang sudah saya jalani ternyata penuh dengan kebahagiaan. Saya tidak pernah hidup berlebihan, hanya apa adanya saja. Tapi semua itu tidak menghalangi saya untuk bersyukur atas segala yang sudah saya lalui. Life is good!
Foto credit: money.usnews.com
hiks.... membaca tulisan Pak Jo, saya juga jadi teringat almarhumah mama... Beliau selalu bisa membuat makanan apa saja dari tumbuhan yang ada di kebun, serat buah nangka saja bisa jadi makanan... sayur "daun sampeu"nya juara... tapi, saya tidak mewarisi bakat memasaknya... hahahaha...
Masakan ibu memang juara, Kak! Tak pernah bisa tergantikan.